catnervate – 1
“Shasha, jangan marah ....”
Sana menoleh ke asal suara. Ada Ochi yang duduk lesehan di bawah dengan kepala yang bertumpu pada sofa yang tengah Sana duduki. Memandang ke arah Sana dengan mata memelasnya.
Sana menghela napas, mungkin dia akan ikut bergabung dalam obrolan nanti saja ketika Ochi sudah tidur. Dia meletakkan ponselnya lalu mengelus kepala Ochi sebentar.
“Aku gak marah,” jawab Sana.
“Tapi, diem ... dari tadi.” Telinga Ochi menurun kala mengucapkan itu.
“Maaf, ya, aku lagi ngobrol sama temen.”
Ochi kembali memberanikan dirinya untuk menatap si pemilik. Ujung ekornya sedikit naik. “Temen?”
Sana mengangguk. “Iya, temen. Soalnya bukan cuma kamu aja yang bisa berubah kayak gini. Kucing mereka juga kayak kamu.”
“Ohh.” Kini keseluruhan ekornya naik, tapi tak sampai berdiri. “June, Uji, Wonu?”
Sana mengerjap. “Iya, mereka. Kamu kenal?”
“Pas di sana, temen aku.”
“Sini, deh, Chi,” ucap Sana seraya menepuk pahanya. Raut wajah laki-laki itu menjadi cerah seketika.
“Aku boleh naik?”
“Eh, jangan! Berat, dong, kalau kamu dipangku pake tubuh ini. Kepalanya aja, ya,” balas Sana dengan cepat. Ochi menuruti, menggantikan tumpuan kepalanya menjadi di paha Sana.
Sana mengusap rambut laki-laki itu. “Aku mau nanya. Boleh, 'kan?”
“Iya.”
“Kamu kenapa bisa berubah kayak gini?” tanya Sana. “Setiap malam aja lagi.”
Ochi mendongakkan kepalanya lalu menggeleng. “Aku gak ingat.”
Sana menghembuskan napasnya. Dari Ochi yang membalas seperti ini, pasti mereka tidak 'murni' bisa berubah. Ada campur tangan dari seseorang yang membuat mereka seperti ini.
“Shasha,” panggil Ochi menggantung.
“Iya?”
“Jangan takut sama aku, ya. Aku sayang Shasha, aku gak akan gigit atau cakar kamu. Aku bakal jadi anak baik biar Shasha gak capek ngurus aku.”
“Wonu,” panggil Jennie untuk ke sekian kalinya, tapi laki-laki yang tengah duduk dengan selimut yang menutupi tubuhnya itu cuma memicingkan mata sebagai balasan.
“Wonu, jawab, dong.”
“Apa, sih? Ganggu.”
Jennie mendengus. “Kamu kenapa galak? Harusnya aku yang marah karena kamu udah curi salmon aku.”
Jennie bersidekap dada sambil berdiri, menatap pada Wonu yang duduk nyaman di sofa.
“Makan.”
“Iya, tahu. Tapi aku juga butuh itu buat makan,” balas Jennie.
“Tukar makanan,” ucap Wonu seraya menunjuk pada mangkuk makanan miliknya yang masih terisi setengah. “Itu buat Jen.”
Jennie sudah menunjukkan raut wajah kesalnya sekarang. “Aku gak mungkin makan itu, Won!”
Wonu tak membalas lagi, dia hanya menatap Jennie masih dengan wajah yang menurut Jennie banyak beban.
Jennie menarik napasnya dalam-dalam. Tak ingin kelepasan marah-marah pada sosok yang jelas merasa tak bersalah. Perempuan itu berbalik, memilih untuk tak mengajak Wonu berinteraksi lagi.
“Gue agak nyesel pilih Wonu,” gumam Jennie seraya berjalan menuju dapur. Ia butuh segelas air putih sekarang.
Telinga Wonu dapat mendengar itu. Dia tetap setengah kucing yang bisa menangkap suara lebih tajam dari manusia. Dia berdiri, menatap kepergian Jennie, telinga kucingnya menegak.
Jennie duduk dengan gelas yang airnya sudah habis setengahnya. Perempuan itu tak mendapati adanya notifikasi lagi dari group chat mereka, mungkin karena sama-sama teralih karena kucing masing-masing.
Matanya membulat begitu ada seseorang yang duduk di lantai di dekatnya. Disusul dengan sebuah ekor yang melingkari kakinya.
Jennie menoleh ke sisi kanannya. Ada Wonu yang duduk membelakanginya dengan kepala menunduk. Ekornya masih melingkari sebelah kaki Jennie.
“Wonu?”
Cukup lama, Jennie tak kunjung mendapatkan balasan. “Mending tidur sana, daripada ganggu aku.”
Telinga hitam Wonu menurun. “Jen ...,” panggilnya.
Jennie tak membalas. Membiarkan Wonu merasakan apa yang ia alami.
“Ma-maaf ... Jen jangan bu-buang Wonu hiks.”
Alis Jennie terangkat karena terkejut mendengar suara isakan itu. Perempuan lantas mengubah posisinya menjadi berjongkok di hadapan Wonu.
“Eh, aduh ... kenapa nangis?”
Wonu memejamkan matanya erat, masih ada air mata yang turun dari sana. Tahu kalau Jennie ada di hadapannya, dia pun langsung memeluk perempuan itu membuat Jennie sedikit terhuyung ke belakang. Untuk Jennie masih bisa menahan dirinya sehingga tubuh belakangnya tak membentur lantai.
Jennie dapat merasakan tubuh Wonu yang bergetar, juga pundaknya yang basah. Pelukannya semakin terasa erat, membuat Jennie mau tak mau membalasnya.
“Cup ... cup ... udahan, yuk, nangisnya.”
“J-jen, ja-jangan buang Wonu, ya. HUWAA.”
Astaga, malah makin kejer, batin Jennie sambil meringis.
“Jangan tidur terus, gue butuh nanya-nanya sama lo, nih.”
Pipi Uji sudah berulang kali Eunha sentuh, tapi laki-laki itu tak kunjung terusik. Eunha mengetukkan kakinya ke lantai, berpikir cara seperti apa yang bisa membuat Uji bangun.
Matanya kemudian tertuju pada ekor Uji yang mengintip dari selimut yang ia kenakan. Perempuan itu berjalan ke sisi lain tempat tidurnya agar bisa dekat dengan ekor itu.
Dengan ragu ia menyentuhnya. Pada awalnya, hanya sentuhan ringan. Namun, karena Uji masih bergeming, Eunha memberanikan dirinya untuk menggenggam ekor itu. Kemudian mencengkeramnya.
Itu sukses membuat Uji menjerit dan loncar dari tempat tidur ke lantai. Bulu ekornya berdiri, khas kucing yang siap untuk bertengkar. Eunha memandangnya dengan kikuk, Uji membalas dengan tatapan memangsa.
“Sorry.“
Perlahan, ekor Uji kembali seperti semula. Namun, dia masih memandang Eunha tak ramah. “Una, jahat.”
Eunha meringis. “Iya, maaf. Habis gak bangun-bangun.”
“Uji suka tidur.”
“Iya, tahu. Tapi gue sekarang butuh lo buat jawab pertanyaan gue, oke?”
Uji menggeleng. “Uji mau tidur.”
Eunha berdecak. “Jangan dulu! Gue nanya juga gak akan lama.”
“Gak mau!”
Eunha melotot memandang manusia setengah kucing itu. Dia mendengus lalu berbalik. “Ya udah tidur aja, nanti tahu-tahu bangun udah di tempat sampah.”
Eunha tidak tahu dirinya yang lambat atau Uji punya kecepatan super. Laki-laki itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
“Uji—”
Tubuh yang besarnya hampir sama dengan tubuh Eunha itu tiba-tiba melompat ke arahnya. Mengalungkan kedua tangannya pada leher Eunha dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang.
Eunha sempat menahan pinggulnya, tapi karena tak sigap dan menanggung beban yang di luar kuasanya. Eunha gagal mempertahankan keseimbangannya dan terhuyung ke belakang masih dengan Uji yang menempelinnya.
Untung posisinya tak jauh dari tempat tidur sehingga mereka jatuh di sesuatu yang empuk.
Napas terasa sulit untuk Eunha ambil. Perempuan itu meringis karena dengan posisi ini, beban di atasnya makin terasa.
“U-uji, gue pe-pengap! Turun.”
“No! Uji turun kalau Una janji gak akan buang Uji.”
“J-ji, please. Bentar lagi gu-gue mati kalau gini terus.”
“Janji dulu bakal rawat Uji terus walau suka tidur! Jangan buang Uji ke tempat sampah juga! Una jangan jadi orang jahat.”
Eunha berdecak. “Iya, iya, janji! Se-sekarang turun!”
Tzuyu menatap ke arah June yang terbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar. Saat awal perubahan, laki-laki itu masih ceria. Ketika Tzuyu menyinggung soal orang tuanya yang ada di negara berbeda dengannya, June langsung masuk ke kamar dan ada di posisi yang masih terlihat sekarang.
“June, kamu lagi banyak pikiran?”
“Aku gak bisa mikir, Juju.”
Baiklah, Tzuyu tidak menyangka laki-laki itu akan menyahut.
“Kamu kenapa bisa berubah kayak gini, Jun?” tanya Tzuyu, berharap ia akan mendapatkan jawaban yang sesungguhnya.
“Kenapa, ya? Aku juga gak tahu. Apa karena aku ganteng? Apa karena aku dikutuk? Apa karena aku memang dilahirkan seperti ini? Gak tahu, aku gak ingat kenapa aku harus kayak gini.”
Tzuyu berkedip beberapa kali selepas mendengar pernyataan itu. Dia beneran overthinking atau cuma lebay?
“Aku juga gak tahu kenapa Juju mau rawat aku. Padahal aku gede dan berat, gak nyaman kalau digendong lama-lama. Bulu aku juga banyak ... susah rawatnya.”
Tzuyu menghela napas. Dari sini, ia yakin untuk menemukan jawaban sebenarnya akan sangat susah.
“Kamu mau aku berhenti rawat kamu?”
“Ya jangan, dong, Juju sayang,” balas June cepat disusul sebuah cengiran. Kini dia sudah dalam posisi duduk dan bersandar dengan nyaman.
“Kalau gitu, minggir! Aku mau tidur di situ.”
June menggeleng, dia menepuk bagian yang masih kosong. “Kita tidur bersama aja.”
Tzuyu melotot. “Gak! Cepat pindah, ih, June. Kalau gak nurut aku gak mau rawat kamu lagi, biarin aja cari makan di jalanan.”
June dengan cepat berdiri, ia mempersilakan Tzuyu untuk menempati tempat tidur miliknya. “Silakan, Yang Mulia.”
Tzuyu memutar bola matanya malas sebelum berbaring di sana. Menarik selimut hingga sebatas dada lalu memejamkan matanya erat-erat berharap bisa segera lelap.
Bibir June cemberut, tempat tidur sangat nyaman. Ia ingin di sana untuk semalaman. Namun, apa boleh buat? Daripada tidak dapat makanan.
Laki-laki itu membaringkan dirinya di atas sofa. Sekali lagi menatap langit-langit dengan menerawang.
“Oh, kapan aku bisa tidur dengan nyaman? Aku juga mau pake selimut tebal dan peluk boneka. Aku—”
Ucapan June terpotong akibat sebuah boneka mengenai kepalanya. “Jangan bicara terus! Biarin aku tidur nyenyak atau besok kamu aku kasih tetangga.”
“Iya, Juju, sayangku, pemilikku. Maafin aku. Aku janji bakal bikin senang kamu, jadi gak perlu repot-repot ketuk pintu tetangga. Aku nan—”
“June!”
June langsung mengambil boneka yang Tzuyu lemparkan lalu menutup mulutnya rapat.