catnervate – 2

Sana menghela napasnya, ini sudah tengah hari, tapi kedua orang tuanya belum muncul juga. Sana takut saat mereka datang, Ochi sudah memasuki waktu untuk menjadi mode setengah manusianya.

Perempuan itu menatap layar komputernya, dia tengah mengedit sebuah video seperti biasa. Sana kemudian menyimpannya secara sementara dan bergumam, “Nanti aja, deh, gue gak bisa fokus.”

Sana memutar kursinya untuk mengecek Ochi. Kucing itu tidak terlalu menempeli dirinya hari ini. Sana tersenyum tanpa sadar ketika melihat Ochi yang tertidur dalam keadaan terlentang. Seingatku Sana, jarang kucing yang mau tertidur dengan perut yang ditunjukkan seperti itu.

“Ochi,” panggil Sana iseng. Selanjutnya dia melotot karena Ochi langsung bangun dan menghampirinya. Sana tidak menduga hal itu.

“Meow,” balas Ochi sembari mengusakkan dirinya pada kaki Sana.

“Kenapa sampai bangun segala?”

“Meow.”

“Karena aku yang panggil?” tebak Sana dan kucing dengan corak yang khas itu tampak menyetujui ucapannya.

Sana tersenyum gemas sebelum memindahkan tubuh Ochi ke pangkuannya. Tangan Sana bergerak untuk mengusapi Ochi.

“Ochi, katanya papi sama mami mau ke sini hari ini. Semisal mereka datangnya malam, kalau bisa kamu jangan berubah dulu, ya? Tetap jadi kucing aja. Kalau gak bisa, setidaknya sembunyi. Okay?”

Sana tidak yakin Ochi dalam mode ini bisa mengerti perkataannya atau tidak. Namun, itu tak menghilangkan harapan Sana tentang Ochi yang akan menuruti perkataannya.

“Meow,” balas Ochi lalu menjilati jari Sana yang semula mengelusnya.

“Bener, ya? Janji, loh, kamu. Nanti aku kasih ikan salmon yang banyak, deh, kalau nurut.”

Ochi tak membalas lagi. Kucing itu malah menyamankan dirinya dalam pangkuan Sana sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

“Dasar.”

Ini sudah hampir seminggu semenjak Sana tidak lagi sendirian menempati tempat ini. Sebenarnya tak banyak yang berubah semenjak kedatangan Ochi selain dalam pengeluarannya.

Ochi memerlukan makanan kucing yang khusus. Belum lagi, Sana juga harus menyetok beberapa makanan tambahan yang bisa dinikmati olehnya kala kucing itu berubah.

Sana tidak terlalu sering meninggalkan apartemennya. Pekerjaannya sebagai freelancer membuatnya memilih untuk berkomunikasi secara online dengan para pengguna jasanya. Mungkin hanya Jennie yang berinteraksi secara langsung dengannya, itu pun karena mereka teman semasa sekolah dan tetangga.

Sana merasa enggan pergi keluar dan terlanjur nyaman berada di sini. Ini tempatnya tinggalnya dan Sana akan selalu merasa lebih baik berada di sini.

Kehadiran Ochi pun malah membuatnya semakin betah di rumah.

Mungkin kalian juga bisa menangkap kalau Sana berasal dari keluarga yang sangat mampu. Perempuan itu lahir sebagai anak kedua dari pasangan yang kelebihan harta.

Beruntung, Sana tak terlalu banyak diatur sehingga dia bisa tinggal sendiri dan bekerja sesuai dengan apa yang Sana inginkan.

Namun, Sana tak begitu yakin dengan kebebasan yang selalu diberikan kedua orang tuanya ini akan bertahan lama. Terlebih kakaknya sempat mengatakan soal pernikahan bisnis yang akan terjadi lagi di keluarga mereka.

Sana harap, sih, bukan dirinya. Namun, ia juga ragu kalau itu akan terjadi pada Brian mengingat sudah sangat banyak tuntutan yang laki-laki itu terima.

Entah sudah kali ke berapa Sana menghembuskan napas pertanda pasrah hari ini. Perempuan itu melirik ke arah jam sebelum mengambil ponselnya yang ada di atas meja.

Seharusnya sedari tadi dia menghubungi mereka.

“Halo, Mi? Jadi gak ke apart akunya?”


Sana meletakkan Ochi di atas sofa yang ada di kamar. Perempuan itu menatap peliharaannya dengan tajam.

“Pokoknya turuti apa kata aku tadi, oke? Kalau bisa jangan berubah dulu sebelum mereka pulang. Tapi kalau gak bisa gak berubah, kamu sembunyi di kamar mandi. Di sana. Terus kunci pintunya,” ucap Sana sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

Ochi memiringkan kepalanya. Tampak bingung.

“Aku janji bakal kasih ikan yang banyak kalau kamu nurut.”

“Meow~”

Sana menghela napasnya dan tersenyum. Dia membingkai kepala kucingnya dengan kedua tangan. “Pokoknya aku percaya kamu. Tunggu di sini, ya.”

“Meow.”

Setelah itu, Sana keluar dari kamar tanpa lupa menutup pintunya. Jika sesuai dengan apa yang ibunya katakan di telepon tadi, seharusnya mereka sebentar lagi sampai.

Jamnya sama dengan jam di mana Ochi biasa berubah.

Jantungnya berdegup kencang kala mendengar suara bel. Perempuan itu dengan cepat membuka pintu dan mendapati kedua orang tuanya dengan banyak barang bawaan.

Tubuh Sana dipeluk oleh perempuan yang lebih tua. Sementara ayahnya hanya mengelus kepalanya sebentar.

“Mami bawain beberapa makanan khas Jepang. Ada sushi, sashimi, terus bumbu kare—banyak pokoknya nanti lihat sendiri aja. Kamu pasti kangen, 'kan?”

Sana tersenyum tipis. “Makasih banyak, Mi. Tapi kalian bukannya dari Thailand? Yang di Jepang, 'kan, Kak Brian.”

“Memang. Ini beli di Mall yang katanya sushinya enak dan murah itu, loh. Yang banyak dibahas di tiktok. Mami penasaran, jadi tadi mampir dulu. Kalau dari Thailand, ada beberapa baju yang mami beliin buat kamu.”

“Sebenarnya itu papi yang beliin, 'kan, uangnya punya papi,” sahut ayahnya.

“Mami lah. Uang papi itu uang mami, kalau uang mami, ya, tetap uang mami.”

Jika dirinya sedang tidak khawatir soal Ochi yang akan berubah atau tidak, mungkin Sana akan tertawa dan turut meledeki ayahnya. Namun, yang bisa ia lakukan hanya tersenyum canggung sekarang.

“Kalian mau menginap di sini?”

Please, jangan.

“Sekarang gak bisa. Besok papi sama mami harus ke Singapura. Kamu mau ikut?”

Sana menghela napasnya lega dan menggeleng. “Aku ada beberapa kerjaan, Pi.”

“Oke, jaga diri di sini. Uang bulanan kamu masih ada?”

“Masih ada, kok.”

“Yuk, sekarang makan dulu. Mami juga mau nyoba sushinya,” ajak ibunya sembari menuntun Sana agar duduk di kursi. Perempuan itu kemudian sibuk membuka bungkus makanan yang dia beli.

“Papi simpenin bajunya ke kamar, ya,” ucap ayahnya dan tanpa menunggu persetujuan laki-laki itu sudah pergi ke tempat Ochi berada.

Sana awalnya tak menghiraukan hal itu karena sushi yang ada di depannya jauh lebih menarik. Namun, di suapan pertama dia baru sadar akan hal itu.

Sana berdiri, pintu kamar sudah terbuka pertanda kalau ayahnya sudah masuk ke dalam. Perempuan itu kemudian berlari kecil mengabaikan panggilan ibunya.

Semoga Ochi udah sembunyi, batin Sana.

Sana terheti di ambang pintu dengan napas yang memburu. Matanya membulat begitu melihat ayahnya tengah berjongkok.

Sana berjalan mendekat, dia kemudian mendapati Ochi yang masih dalam mode kucingnya tengah memainkan tangan ayahnya dengan kaki depan yang dia miliki. Menyadari ada anak bungsunya, laki-laki itu langsung berdiri.

“Ini kucing yang dari Brian itu?”

Sana mengangguk dengan kaku. “Iya, Pi.”

“Kalau gitu papi tambahin uang bulanan kamu supaya bisa beliin dia banyak makanan.”

Sana meringis mendengar itu. Padahal belum terlalu lama berinteraksi, tapi Ochi tampaknya sudah bisa menarik hati ayahnya.

“Bawa dia ke luar, Sa. Biar mamimu bisa lihat.”

Sana mengangguk, dia membiarkan ayahnya keluar kamar lebih dulu. Perempuan itu kemudian menggendong Ochi dan memeluknya dengan erat.

“Makasih, makasih, makasih karena udah nurut apa kata aku, Ochi!”

“Meow~”

Kedua orang tua Sana ada di sana sampai jam 10 malam. Sana mengantar mereka hingga ke lobi dan saat kembali sudah ada Ochi dalam mode manusianya. Laki-laki itu juga tampaknya sudah paham kalau ia harus memakai pakaian.

Sana mengerjap. “Kamu, kok, bisa nahan buat gak berubah?”

Ochi menatapnya dengan bingung. “Ya, bisa ... Shasha ikannya mana?”

“Oh, iya! Sashimi yang mami bawa masih nyisa, kamu mau nyoba?”

Meski tak tahu dengan apa yang Sana sebutkan, tapi Ochi mengangguk antusias. “Mau!”

Sana tersenyum lalu mengambil dua bungkus sashimi yang masih tersisa. “Ini, cara makannya tuh ambil ikannya kayak gini lalu dicocol dulu ke sini.”

Sana mempraktekkan bagaimana dirinya memakan sashimi. Mulai dari mengambil potongan ikan dengan sumpit sampai memasukkannya ke dalam mulut.

Mata Ochi tampak berbinar kala menerima sumpit yang Sana berikan. Saat dilihat itu mudah, tapi ketika mencoba Ochi kesulitan.

“Pakai tangan aja, boleh?”

“Sini aku suapin,” ucap Sana dan Ochi langsung duduk dengan rapih di kursinya. Sana tersenyum geli dan berdiri agar lebih mudah untuk menyuapi kucing besarnya.

Di suapan pertama, Ochi terlihat mengernyit memakan itu. Namun lama-lama ekornya bergerak antusias.

“Lebih suka ini,” komentar Ochi.

“Kamu lebih suka yang mentah daripada yang direbus?”

Ochi mengangguk.

“Aku gak akan sering-sering beli ini, soalnya jauh.”

“Gak papa, Shasha ... yang kemarin aku juga makan.”

Sana mengusap kepala laki-laki itu. “Pinter.”

Lama-lama Sana menjadi terlarut dengan pemikirannya sendiri. Perubahan raut wajah Sana yang menjadi sendu pun disadari oleh Ochi.

“Shasha kenapa?”

Sana mengedipkan matanya beberapa kali. “Agak sedih aja soalnya aku ditinggal lagi. Papi sama mami pergi ... terus Kak Ian juga gak tahu kapan balik ke sini. Aku sendirian lagi.”

Orang bilang, Sana beruntung terlahir dalam keluarga ini. Namun, jika sudah dihadapkan dengan keadaan ini, Sana merasa enggan untuk mensyukuri hidupnya.

Tiba-tiba Sana merasakan sebuah pelukan. Ochi memeluknya dengan kepala yang mendongak agar Sana bisa melihat keyakinan yang dia berikan lewat tatapan mata.

“Shasha gak sendiri. Ada aku.”