catnervate – 3

Sebenarnya, Tzuyu tak pernah memperkirakan dirinya akan merawat kucing seperti maine coon. Sejak kecil, perempuan itu selalu merawat kucing yang ia temukan di jalan. Namun, tak semuanya bisa menemani Tzuyu hingga akhir.

Beberapa di antaranya pergi tanpa kembali, beberapa yang lain menyerah dengan hidup mereka. Makanya, semenjak memutuskan untuk merantau, Tzuyu tak pernah berniat memelihara hewan lagi. Paling-paling dia hanya akan melakukan street feeding.

Perempuan berambut pirang itu mencolek dagu June yang masih enggan ber-interaksi dengannya. June tak menanggapi, masih asik memejamkan matanya.

“June ... udahan, dong, marahnya.”

Tzuyu kembali diabaikan. Perempuan itu melirik ke arah jam lalu bangkit dari duduknya. “Ya udah lah, aku mau masak aja,” katanya lalu meninggalkan June.

Sebelum ke dapur, Tzuyu menyempatkan dirinya untuk mengambil ponsel yang semula tengah dia isi dayanya. Setelah itu, barulah dia pergi ke tempat yang biasa digunakan untuk memasak sembari menghubungi seseorang.

“Ibu, apa kabar?” sapa Tzuyu setelah wajah seseorang yang dia hubungi muncul di layar ponselnya.

“Ibu sudah merasa lebih baik, Nak.”

Tzuyu tersenyum mendengar itu, ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dengan menyandarkannya ke tempat sendok agar bisa berdiri.

“Ibu, lagi sibuk gak? Kalau enggak, tolong temenin aku masak, ya.”

“Silakan, Nak. Ibu temani.”

Tzuyu langsung mengikat rambutnya secara asal. Dia mencuci tangan dan mengambil beberapa bahan makanan yang akan ia gunakan.

“Kamu mau buat apa?”

“Mau buat yang gampang aja, Bu. Nasi goreng. Tapi sayurnya mau aku banyakin.”

“Hati-hati potongnya, ya.”

“Siap, Bu.”

Tzuyu begitu fokus dengan apa yang tengah ia lakukan hingga tak menyadari kalau June sudah memasuki dapur. Kucing itu masih menciptakan jarak cukup jauh, duduk di sana dan mengamati setiap gerak-gerik pemiliknya.

Untuk membuat nasi goreng tak membutuhkan waktu banyak. Kini, Tzuyu sudah duduk di hadapan ponselnya. Panggilan video bersama ibunya masih tersambung.

“Uang bulanannya tidak kurang, 'kan, Nak?”

Tzuyu menggeleng. “Enggak, kok, Bu. Masih banyak sisanya. Kalau bisa, ibu sama ayah gak perlu kirim uang lagi ke aku. Aku, kan, udah kerja sekarang.”

“Kami gak bisa lepas kamu gitu aja, Nak.”

“Uangnya mending dipake buat ibu berobat. Gajiku cukup, Bu.”

“Selagi kami bisa, tolong terima, ya, Nak. Kamu jauh di sana, ibu gak tahu harus apa lagi supaya yakin kamu aman di sana.”

Tzuyu terdiam. Cukup susah membujuk ibunya tentang hal ini. Padahal Tzuyu sadar betul kalau di keadaan ini, yang lebih membutuhkan uang adalah ibunya.

“Gini aja, Bu. Kurangi jumlah uangnya, ya? Kalau masih kebanyakan bakal aku transfer balik. Serius, lebih baik uangnya di fokusin buat pengobatan ibu aja. Apa ibu mau aku pulang ke sana?”

“Tidak perlu, Nak. Ibu baik-baik saja. Di kota itu, 'kan, ada mimpi kamu.”

“Ibu lebih penting,” ucap Tzuyu.

“Ibu masih sanggup, Nak. Ibu gak akan mengalah sama penyakit.”

Tzuyu terdiam dan mengusap wajahnya. Perasaannya tak menentu sekarang. Nasi goreng yang ada di hadapannya pun tak semenarik tadi.

“Udah malam, Bu. Lebih baik ibu segera istirahat, ya?”

“Iya, Nak. Kamu juga jangan tidur larut malam, ya. Jaga kesehatan dan terus kabari kami.”

“Iya, Bu. Mungkin akhir bulan nanti aku pulang, Bu.”

“Boleh, Nak. Kalau gitu ibu tutup, ya?”

Tzuyu mengangguk dan panggilan video itu pun terputus. Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam, berusaha mendamaikan isi kepalanya.

Tzuyu memang sedang tak fokus pada sekitarnya hingga tak menyadari kalau June sudah berubah. Entah kapan kucing itu masuk ke kamar dan memakai pakaiannya. Yang pasti, laki-laki tinggi itu kini tengah menghampiri Tzuyu.

“Juju ...,” panggil June.

Tzuyu langsung mendongak, dia tersenyum tipis. “June, mau nasi goreng?”

“Kenapa Juju mau rawat aku?”

Tzuyu mengerjap karena June tak membalas yang berhubungan dengan apa yang dia tawarkan. June memainkan ujung pakaiannya dengan kepala yang menunduk.

“Aku, 'kan, nyusahin. Ibu Juju sakit ... terus Juju juga rawat aku.”

Tzuyu menggeleng. “Ngomong apa, sih, kamu? Sini makan dulu atau mau yang lain?”

June menggeleng, enggan teralih.

Tzuyu menghela napasnya. “Kamu tahu ibu aku sakit dan dia masih mau aku di sini buat kejar mimpi. Aku merasa ditekan dari dua arah, June. Aku butuh teman supaya tetap waras. Aku gak bisa percaya terlalu dalam sama manusia, jadi aku mutusin buat pelihara kucing lagi.”

June memiringkan kepalanya. “Memangnya kamu mau jadi apa?”

“Aku mau punya toko kue sendiri, terkenal dan dapat pengakuan. Tapi itu butuh perjalanan panjang, sementara aku baru mulai,” balas Tzuyu.

“Berarti Juju mau aku temenin?”

Tzuyu mengangguk dengan senyuman yang meyakinkan. “Iya, aku butuh temen buat lewatin perjalanan itu. June mau, 'kan?”

June mengangguk antusias. “Mau!”

Tzuyu tersenyum lebar melihat itu. “Makasih banyak! Sekarang kamu makan dulu, mau nasi goreng juga?”

June sekali lagi mengangguk, kali ini sembari duduk di kursi sebelah Tzuyu. Sementara itu, Tzuyu malah bangkit untuk mengalas sisa nasi goreng yang masih ada di wajan.

“Untung aku buat lumayan banyak.”

Mata June berbinar melihat apa yang Tzuyu taruh di depannya. Ekornya bergerak antusias, tapi sebelum melahap makanannya dia perlu melakukan satu hal lagi.

“Juju, maaf, ya, tadi aku malah marah ....”

Tzuyu tertawa kecil. “Gak papa, aku paham, kok.”

“Juju kalau bisa jangan dekat-dekat hewan, ya? Baunya jadi gak enak.”

Tzuyu mengangkat kedua alisnya. “Berarti sama kamu juga jangan?”

June langsung menggeleng keras. “Sama aku boleh.”

June menunjuk dirinya sendiri. “Juju, dekatnya sama aku aja. Jangan yang lain.”