catnervate – 4
Eunha meregangkan tubuhnya setelah mencari tahu persoalan asisten yang sepertinya memang ia butuhkan. Kecintaannya pada anime membuat Eunha menikmati kegiatan menggambar. Awalnya hanya komik iseng yang ia publikasikan lewat instagram. Lalu akunnya menjadi ramai dan Eunha mendapat tawaran.
Eunha pikir, hobi yang menghasilkan uang akan lebih dinikmati. Memang begitu pada awalnya, tapi lama kelamaan malah seperti sekarang. Agak menekan.
Menekannya pun belum dengan tanggapan yang pembaca berikan. Eunha terkadang sengaja tidak membacanya karena sering menemukan komentar yang menagih agar satu bagiannya bisa lebih panjang.
Eunha menghembuskan napasnya. Untuk sekarang, ia harus menyelesaikan pekerjaannya baru mencari yang lain. Toh, orang tuanya juga tak terlalu peduli asalkan ia masih hidup.
Perempuan itu menoleh pada genangan air lalu pada ponselnya untuk melihat jam. Seharusnya Uji sudah berubah jam segini.
Dia mematikan komputernya lalu berjalan menuju kamar. Keberadaan Uji kadang membuatnya kesal, tapi Eunha tak akan mengelak kalau kucing itu bisa mengalihkan pikirannya.
Sesuai dugaan Eunha, Uji terbaring nyaman di atas tempat tidur. Mengingat Uji lebih suka tidur ketika mode manusianya, jadi Eunha membelikannya beberapa piyama.
Uji tak terlalu memperdulikan itu. Meski yang tengah ia kenakan sekarang adalah piyama merah muda dengan gambar stoberi.
Eunha menahan tawanya, tapi ia mengakui kalau Uji tampak gemas. Perempuan itu berjalan mendekat ke arah Uji lalu menarik tangannya agar bangkit.
“Bangun, jangan tidur dulu. Beresin kekacauan yang lo buat.”
Uji berdecak. “Ganggu.”
Eunha melotot. “Cepet, ih! Pelnya ada di kamar mandi luar. Sekalian lo harus makan dulu. Tidur mulu, dah, perut lo sakit tahu rasa.”
Uji dengan malas-malasan bangun dari tempat tidur. Dia juga mengepel air yang ia tumpahkan dengan malas.
Eunha membiarkan Uji bekerja dengan lamban. Dirinya sendiri malah membuat sandwich tuna untuk dirinya dan Uji. Memang cukup aneh memakan roti di malam hari, tapi yang penting perut mereka terisi.
Uji menghampiri Eunha dengan wajah mengantuk. Eunha mencubit pipi laki-laki berambut platinum blonde itu.
“Buka matanya, nanti lo malah nyuap ke hidung lagi.”
Uji mendelik pada Eunha, tapi tak mengeluarkan protesan apa pun lagi.
“Makasih,” ucap Uji sebelum mengambil gigitan besar.
Eunha tersenyum. Walau Uji terlihat kesal ketika ia ganggu tidurnya, tapi Uji tak pernah lupa mengucapkan kata itu ketika diberi makan. Saat mode kucing pun, dia akan mengeong setelah mangkuknya diisi penuh oleh Eunha.
Selesai makan, Eunha langsung menyodorkan segelas air pada Uji. “Jangan ditumpahin,” ucap Eunha.
“Iya,” balas Uji singkat dan menenggak hingga habis air itu.
“Sekarang boleh tidur?” tanya Uji kemudian.
Eunha mengangguk. “Tidur di kamar yang gue tunjukkin kemarin.”
Uji menatap tidak terima. Kamar yang Eunha maksud adalah kamar yang berbeda dengan yang biasa ia tempati. Eunha baru membereskannya, sengaja agar Uji bisa tidur di sana.
“Mau sama Una.”
Eunha menatap Uji heran. “Lo udah gede, tidur sendiri aja. Masa sama gue terus, sih? Lagian kita tuh beda jenis! Kalau lo mode kucing, sih, gak pala tidur sama gue.”
Ekor Uji bergerak resah. “Mau sama Una,” ulangnya.
“Kenapa mau banget sama gue?”
“Peluk ....” Uji menggantungkan kalimatnya. “Waktu tidur ... una pernah bilang mau peluk mama. Jadi, aku peluk.”
Eunha terdiam. Jadi, Uji pernah mendengar dirinya mengingau seperti itu?
Perempuan itu kemudian menggeleng. “Enggak, ya! Pokoknya lo tetap tidur di kamar satu lagi.”
Uji mendengus. “Iya, deh.”
Eunha menatap kepergian Uji, ia yakin laki-laki itu akan menurut kali ini. Setelah itu, Eunha memutuskan untuk mencuci piring terlebih dahulu baru pergi tidur. Mumpung masih sedikit, kalau sudah banyak yang ada ia malah malas.
Selesai mencuci piring, Eunha memastikan pintu telah terkunci lalu berjalan menuju kamarnya. Kakinya tertahan di ambang pintu begitu melihat sebuah gundukan di atas tempat tidur.
“Uji, gue bilang jangan tidur di sini, ih!”
Eunha menarik tangan Uji agar bangun, tapi laki-laki itu masih diam. Uji membuka matanya dan menatap Eunha dengan sayu.
“Pindah, U—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Uji sudah menarik Eunha membuat tubuh perempuan itu menindihnya. Mata Eunha melotot karena terkejut dengan aksi Uji.
Baru akan mengajukan protes, Uji sudah mendorong tubuhnya ke samping. Laki-laki itu kemudian menarik Eunha ke dalam pelukannya dan mengusapi kepalanya.
“Una ... tidur ... Una tidur.” Uji menyenandungkan itu dengan nada yang asal.
Sementara Eunha malah menenggelamkan kepalanya ke dada Uji.
Bisa gila gue kalau gini terus.