catnervate – 5
Jennie mengatur posisi ponselnya agar bisa dilihat dengan nyaman oleh penontonnya. Cahaya dan posisi sudah aman.
Perempuan itu kemudian merapikan poninya. Gerakannya kemudian terhenti mengingat permintaan pengikutnya untuk mengajak Wonu di live kali ini.
“Wonu, ke sini sebentar. Nanti aku masakin salmon buat kamu pas jadi manusia.”
Yang dipanggil dengan tawaran menggiurkan itu jelas langsung menghampiri Jennie. Kucing dengan bulu hitam itu mendekat lalu mengusakkan kepalanya pada paha Jennie.
Jennie menggendongnya. “Sapa followers aku, ya. Aku mau live.“
“Meow.”
Merasa kalau Wonwoo akan menurutinya, Jennie pun memulai live-nya. Jennie tersenyum lebar melihat satu per satu pengikutnya yang bergabung.
“Hello, guys. How are you?“
Jennie menggerakkan satu kaki depan Wonu, membuatnya seolah tengah melambaikan tangan. “Sekarang aku live-nya gak sendirian, tapi sama Wonu.”
“Halo teman-temannya Jennie,” ucap Jennie dengan suara yang diimut-imutkan. Wonu mengeong setelah itu. Ia lalu menjilati kakinya yang barusan dipegang oleh si pemilik.
Kehidupan Jennie beberapa tahun ke belakang tak pernah jauh dari kamera. Selain melakukan live untuk berinteraksi dengan pengikutnya. Jennie pun membuat konten rutin tentang kecantikan yang akan diunggah seminggu sekali di channel Youtube-nya. Terkadang ia juga akan mengunggah kesehariannya jika sedang kehabisan ide.
Sudah cukup banyak produk kecantikan yang Jennie review. Sudah cukup banyak pula yang memintanya agar mempromosikan suatu produk.
Jennie menikmati pekerjaannya. Walau terkadang ia akan berat karena selalu merasa diikuti. Jennie pun perlu memastikan kalau tips dan produk yang ia promosikan berguna untuk yang lain.
Setiap hari pemikirannya terus bekerja agar bisa membuat konten yang tidak membosankan.
Untungnya Jennie mempunyai lingkungan yang mendukung pekerjaannya. Orang tuanya membebaskan dirinya untuk melakukan apa pun selama itu bukan hal negatif. Teman-temannya pun selalu senantiasa diminta bantuan, Sana sebagai salah satu contohnya. Walau Jennie perlu membayarnya, tapi itu bukan masalah karena mereka saling menguntungkan.
“Live hari ini sampai di sini dulu, ya! See you next time!“
Paham kalau Jennie sudah selesai, Wonu pun memaksa turun dari gendongan. Kemudian pergi begitu saja.
Jennie menggeleng kecil. Dia sebenarnya tak menduga Wonu mau menemani sampai akhir. Tampaknya kucing itu memang sangat menyukai ikan yang Jennie janjikan.
Setelah sedikit membereskan barang-barang yang ia gunakan saat live tadi. Jennie langsung pergi ke dapur untuk memanggang salmon, memenuhi janjinya pada Wonu.
Untuk dirinya sendiri, Jennie lebih memilih untuk membuat pasta instan. Stoknya masih agak banyak di laci, jadi Jennie berpikir untuk memasak itu saja.
Mudah dan cukup mengenyangkan untuknya.
Wonu datang dengan pakaian yang tidak dikancingkan. Jennie mengernyit melihat itu.
“Aku, 'kan, udah ajarin gimana pakai ini kemarin,” ucap Jennie seraya mengancingkan piyama yang Wonu kenakan.
“Wonu lupa.”
“Kalau lupa gak usah pake ini. 'Kan, masih ada yang lain.”
“Wonu mau makan,” jawab Wonu dengan mata yang melirik ke arah meja makan.
Jennie menggeleng karena Wonu terkesan mengalihkan pembicaraan. Jennie kemudian berjalan mendahului Wonu dan laki-laki itu mengikutinya.
“Itu apa?” tanya Wonu sambil menunjuk isi piring Jennie. Padahal mulutnya sedang penuh, untung Jennie masih bisa menangkap itu dengan jelas.
“Ini namanya pasta. Kamu mau nyoba?”
Mata Wonu berbinar. “Satu kali.”
Jennie tersenyum geli. Ia kemudian menyuapkan pastanya pada Wonu. Telinga kucing Wonu sedikit bergerak kala merasakan makanan itu, lalu terangkat dengan sempurna.
“Enak!”
Jennie mengangguk menyetujui itu. “Memang, tapi ini punya aku. Kamu habisin ikannya, ya.”
“Iya ... makasih ... Jen,” balasnya dengan tanpa mengalihkan pandangan dari piring milik Jennie.
Perempuan kelahiran Januari itu tersenyum geli. “Mau lagi?”
“Mau.”
“Ini terakhir, oke?”
Wonu mengangguk. Ia menerima dengan lahap suapan Jennie kali ini.
“Semua yang Jen buat ... uhm... e-enak!”
Jennie tertawa kecil. “Terima kasih.”
Keduanya pun melanjutkan memakan makanan masing-masing. Jennie makan sembari memainkan ponselnya.
“Ada yang bilang live tadi ngebosenin,” gumamnya. Tanpa ia sadari, Jennie juga mengerucutkan bibirnya.
Wonu mengamati itu dengan baik. Laki-laki itu menahan sendok di mulutnya, lalu mengusap kepala Jennie. Jennie menatap Wonu heran setelah itu.
“Tadi gak bosen,” kata Wonu. “Jen, hebat.”
Wonu memiringkan kepalanya. “Tadi banyak cintanya di HP Jen, itu orang-orang suka sama Jen, 'kan?”
Jennie terdiam, memikirian perkataan Wonu. Pengolahan kalimat Wonu terkadang bisa buruk, membuat Jennie perlu memikirkan lebih lama apa maksudnya.
“Oh, love tadi? Itu mereka suka sama live aku.”
Wonu tersenyum. “Itu banyak, terus yang bosen satu, Jen.”
Jennie mengangkat kepalanya, kini sudah bisa menangkap apa yang sedang Wonu ingin ungkapkan.
Wonu kini menepuk pelan pucuk kepalanya. “Banyak yang suka sama Jen. Wonu juga suka sama Jen.”