catnervate – 6

“Harus, ya, kayak gini?” tanya June ketika Tzuyu membungkus dirinya dengan selimut.

Perempuan berambut pirang sebahu itu mengangguk. “Harus, yang penting telinga sama ekor kamu gak kelihatan.”

June sebenarnya bingung karena tiba-tiba diajak keluar. Saat Tzuyu kerja saja dan dia ingin ikut, perempuan itu tidak memperbolehkannya. Lalu, kenapa sekarang ketika June ada dalam wujud setengah binatangnya Tzuyu ingin membawanya keluar?

“Kita mau ke mana?” tanya June sekali lagi.

“Ke lantai atas, ke tempat teman. Aku, 'kan, tadi udah bilang?”

Tzuyu tersenyum puas ketika tubuh June sudah terbungkus oleh selimut tipis miliknya. Unit Eunha hanya berjarak satu lantai, tapi mengingat sekarang adalah waktu kebanyakan penghuni di sini pulang. Jadi, Tzuyu harus memastikan kalau ekor dan telinga June tertutupi.

“Teman siapa? Temanku cuma Juju.”

“Iya? Sebelum ke sini kamu punya temen, 'kan?”

June memiringkan kepalanya. “Siapa?”

Tzuyu meringis tanpa sadar karena walau sudah terbungkus masih terlihat jelas kalau laki-laki itu menggoyangkan ekornya. “Kamu selama di luar jangan gerakin ekor sama telinga, oke? Soal temen, nanti lihat sendiri aja.”

“Kenapa gak boleh gerak?”

“Kalau gerak berarti nanti kamu gak dirawat sama aku lagi.” Ucapan Tzuyu itu langsung membuat June berdiri dengan kaku. Ekornya yang semula bergerak aktif kini berhenti bagai patung.

Tzuyu meraih tangan June. “Udah, ayo ke sana. Kalau udah sampe, selimutnya aku buka lagi nanti. Sekarang nurut apa kataku aja, oke?”


Wajah Ochi yang makin terlihat membulat kala Sana mempererat tali hoodie yang dikenakannya kini menunjukkan raut bingung. Sebenarnya sedari tadi juga dia sudah begitu, tapi ketika mereka berhenti di depan sebuah pintu ia terlihat seperti orang linglung.

“Ini siapa?”

Sana menatapnya bingung. “Siapa apanya?”

Ochi menunjuk pintu berwarna putih itu. “Ini.”

“Oh ... punya Eunha. Kita mau main di sini, tapi kenapa gak dibuka-buka, ya?” Sana kembali menekan bel. Ini sudah lumayan lama sejak kaki mereka berhenti melangkah, tapi pintu itu tak kunjung dibuka.

Ochi mengambil langkah mundur, lalu mendekat pada Sana. Tangannya melingkari pinggang perempuan itu, memeluknya.

“Shasha,” panggilnya terdengar takut. “Mau buang aku di sini, ya?”

“Enggak, Ochi. Kita mau main di sini.”

Sebenarnya, Sana merasa malu dipeluk dari belakang seperti sekarang. Jika ini di dalam ia tak begitu masalah, tapi kalau di luar Sana takut ada yang melihat.

“Kak Sana!” Suara Tzuyu itu membuat Sana menoleh ke belakang.

Tzuyu berlari kecil mendekat ke arahnya, June yang tangannya sedang dipegang oleh Tzuyu mau tak mau ikut berlari. June terlihat kerepotan dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

“Beneran pake selimut,” celetuk Sana tak percaya kalau Tzuyu akan menuruti perkataan Eunha. Tzuyu cuma tertawa sebagai tanggapan.

Ochi dan June kini saling bertatapan.

Kedipan pertama, masih diam.

Kedipan kedua, Sana dapat merasakan tubuh Ochi yang merapat padanya dan Tzuyu dapat mendengar suara geraman dari June.

Kedipan ketiga, lumayan kacau.

Ochi memanjat pada tubuh Sana dan menempel layaknya koala. Sana sempat kewalahan, tapi pada akhirnya walau berat ia bisa menjaga keseimbangan agar mereka berdua tidak terjatuh. Di sisi lain, selimut June terlepas disusul dengan telinga dan ekornya yang menegak dengan bulu-bulu yang berdiri. Tzuyu buru-buru menutupi kembali tubuh itu dengan selimut, tapi June malah melemparnya ke sembarang arah.

Kedua perempuan itu meneriakkan nama kucing masing-masing hampir secara bersamaan. Namun, June dan Ochi malah saling melempar geraman setelahnya.

“Ini ... kenapa?” tanya Jennie yang baru datang. Ia sebenarnya hampir tak bisa berkata-kata melihat bagaimana pemandangan di depan tempat tinggal Eunha saat ini.

Wonu di belakangnya tampak tak minat. Laki-laki itu kemudian bergumam, “Gitu lagi.”

Jennie menoleh ke arahnya. “Lagi?”

“Mereka suka berisik.”

Perkataan Wonu barusan tak membantu Jennie sama sekali untuk memahami apa yang sedang terjadi.

“Berisik gimana, Wonu?”

“Ochi, turun, dong! Berat tahu.”

“June, pake selimutnya! Aku takut ada yang lihat. Astaga!”

Sorry, lama.”

Jennie, Sana, dan Tzuyu kompak melihat ke arah pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka. Ada Eunha dengan rambut yang terlihat acak-acakan dan napas yang terengah.

“Gue harus ngebangunin, nih, kucing satu dulu.”

Ketiganya menunduk mengikuti arah telunjuk Eunha. Tangan kanan Eunha sedang memegangi kerah belakang Uji yang terduduk membelakangi mereka. Eunha yang terlihat lelah, Uji yang terlihat pasrah, dan tampilan keduanya yang acak-acakan. Membuat mereka yakin kalau Eunha menyeret kucingnya sampai ke sini.

Belum apa-apa, sudah sekacau ini.


Mereka berempat duduk melingkar di lantai dengan masing-masing yang mendapat sepotong salmon panggang yang sengaja Jennie bawa. Keempatnya memakan makanan masing-masing tanpa kata, tapi ekor tak diam karena antusias dengan makanan masing-masing.

Ada jarak antara June dan Ochi setelah keduanya dipaksa oleh Tzuyu dan Sana untuk duduk bersebelahan. Uji dan Wonu yang pada awalnya malas-malasan, setelah diberi salmon seperti diberi alasan untuk bertahan.

Sementara para pemilik mengamati dari sofa sambil memakan cemilan yang Eunha sediakan.

“Encok gak?” tanya Eunha pada Sana. Yang ditanya menggeleng. “Enggak, kok.”

“Aneh, padahal tadi lo ngegendong makhluk segede itu.” Eunha menunjuk Ochi dengan dagunya.

Sana terkekeh. “Cuma sebentar.”

“Tadi June sampai berdiri gitu, mereka kenapa, ya, Kak?” tanya Tzuyu ikut bergabung dengan pembicaraan yang terjadi.

Eunha mengendikkan bahunya. “Mungkin mereka pernah rebutan ikan asin.”

“Ngaco,” balas Jennie. “Tadi lo cakar-cakaran dulu sama Uji?”

“Gitu, deh. Dia kalau lagi tidur dibangunin, suka jadi monster. Sekali dua kali gak papa, tapi dia kerjaannya tidur terus.”

“Turut bersuka cita,” celetuk Tzuyu dengan nada meledek. Eunha langsung menatapnya jengah.

Sana yang tak ingin mendengar perdebatan kedua orang itu langsung bertanya, “Terus kalau udah makan, kita mau suruh mereka ngapain?”

Pertanyaannya itu tak langsung mendapat jawaban. Keempatnya sama-sama berpikir tentang apa yang akan dilanjutkan selanjutnya.

“Kita suruh mereka mewarnai aja gimana? Gue ada alat sama gambarnya, soalnya gue suka iseng nge-print gambar gue yang belum diwarnain,” usul Eunha sambil menatap ketiganya bergantian.

“Kayak anak TK,” balas Tzuyu tanpa ekspresi. Eunha memutar bola matanya malas. “Ya, kita bilang ada hadiah aja buat yang paling bagus. Siapa tahu pas ngewarnain mereka ngobrol tentang masa lalu?”

“Boleh, deh,” ucap Jennie.

“Lo gimana?” tanya Eunha pada Sana.

Sana mengangguk. “Hadiahnya nanti dari gue aja.”

Puas hanya dengan dua suara, Eunha langsung berdiri untuk mengambil barang-barang yang tadi sempat ia sebutkan.

“Aku, kok, gak ditanya?” protes Tzuyu.

“Lo gak setuju pun udah kalah suara!” sahut Eunha tanpa melihat ke belakang.

Tzuyu mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Padahal aku juga setuju, dasar nyebelin!”

“Debat mulu lo berdua,” kata Jennie.

Saat Eunha kembali, piring yang semula terisi salmon itu kini sudah kosong. Sana berinisiatif mengumpulkan bekas mereka.

“Jangan lupa minum, ya,” ucap Sana.

“Makasih, Shasha!” sahut Ochi dengan antusias. Untuk sejenak, ia melupakan siapa yang ada di sebelahnya.

“Habis ini mewarnai, oke? Nanti yang bagus bakal dikasih hadiah,” ucap Eunha seraya memberikan masing-masing selembar kertas dengan buku sebagai alas.

Eunha juga meletakkan pensil warna yang berjumlah 24 buah itu di tengah-tengah June, Ochi, Wonu, dan Uji. “Pensil warnanya harus berbagi, yang rebutan sampai berantem nanti disimpen di tong sampah.”

“Hadiahnya apa?” tanya Wonu.

“Yang enak dan bikin kenyang,” sahut Sana.

Mendengar kata enak dan kenyang, membuat keempatnya yakin kalau yang dimaksud adalah makanan. Jika berhadapan dengan makanan, mereka akan selalu menjadi antusias.

Sebenarnya agak lucu melihat orang-orang bertubuh besar itu mewarnai gambar layaknya anak TK. Sesekali ada perdebatan kecil akibat ingin memakai pensil warna yang sama, tapi tak ada pertengkaran karena tak ingin dibuang ke tong sampah.

Eunha memberikan gambar tokoh komiknya yang belum sempat diberi detail. June memilih warna yang cukup beragam, Ochi didominasi oleh jingga dan hitam, Wonu kebanyakan menggunakan warna biru, dan Uji yang asal memilih. Jelmaan kucing putih itu meyakini kalau rapih ia akan menang, pilihan warna bukan masalah.

“Dulu kita gambar,” celetuk Uji membuat keempat perempuan yang sedari tadi diam itu sama-sama menajamkan pendengaran.

“Wonu nulis,” sahut Wonu.

“Terus jalan-jalan, naik mobil besar biru.” June yang mengatakan ini.

“Pas minum, bobo, deh,” ucap Ochi. Ia memiringkan kepalanya. “Terus udah itu apa lagi?”

Tiga lawan bicaranya terdiam, berusaha mengingat apa yang Ochi maksud.

“Wonu lupa,” balas Wonu.

“June juga,” sahut June sambil meniru gaya bicara Wonu.

Uji menyentuh ekornya sendiri. “Ada ini.”