Cerita Amy ; Snowi.
Zoa as Amy. Sana as Anna. Hoshi as Edward.
Saat kecil, Amy pernah diberi kepercayaan untuk memilih seekor kucing yang ia selamatkan dari selokan. Anak kucing dengan bulu putih dan corak abu-abu itu awalnya tak Edward inginkan untuk berada di rumah. Namun, pada akhirnya papi kesayangan Amy itu luluh.
Kucing yang Amy panggil dengan sebutan Snowi itu dapat beradaptasi dalam rumah mereka dengan baik. Ia terkadang akan mengeong meminta perhatian, di sisi lain dia akan lebih senang tertidur sambil menunggu Amy kembali dari sekolahnya.
“Snowi, kamu jadi temen aku terus, ya? Kita tumbuh sama-sama di rumah ini.”
Itu perkataan Amy karena saking sayangnya dia pada kucing itu. Pemandangan yang cukup menghibur, tapi menenangkan bagi Anna kala melihat anak tunggalnya berinteraksi dengan kucing itu. Terlihat lucu bagaimana tubuh Amy yang lebih tinggi dari teman-teman seusianya berhadapan dengan tubuh Snowi yang hampir sama dengan kaki Edward.
“Amy, sayang banget sama Snowi, ya?” tanya Anna.
Amy mengangguk dengan penuh keyakinan. “Sayang! Amy sayang banget sama Snowi.”
Anna tersenyum. “Kalau gitu, jaga baik-baik, ya?”
“Siap!” katanya dengan antusias dan pose hormat yang ia tunjukkan.
Amy benar-benar menunjukkan kesungguhannya dalam merawat kucing itu. Dia tetap meminta pertolongan orang tuanya dalam prosesnya. Mulai dari diperiksa ke klinik saat di awal Amy membawa kucing ke rumah, sampai membeli apa saja yang dibutuhkan Snowi agar nyaman berada di rumah ini. Amy bahkan tidak ragu kala harus membersihkan pasir bekas Snowi.
Edward dan Anna pun sama-sama memberi pengertian kalau tak semua yang Amy makan, bisa dimakan oleh Snowi. Mereka tak pernah bosan menanggapi setiap celotehan Amy tentang Snowi. Mereka pun perlahan-lahan ikut berinteraksi dengan Snowi. Kucing kecil dengan bulu putih yang mendominasi dirinya itu kini sudah menjadi penghuni baru di rumah keluarga Kwon.
Di waktu lain, akan ada Amy yang menginginkan waktu sendiri untuk fokus pada tugasnya. Amy tak terlalu menyukai tugas kerajinan karena malas berhadapan dengan lem dan teman-temannya, tapi ia tetap harus menyelesaikannya karena itu termasuk kewajiban yang ia miliki.
Biasanya, Amy tak ingin ditemani oleh siapapun termasuk Edward yang pasti dapat membantu. Ia akan mencobanya terlebih dahulu, sebelum pasrah dan memanggil bala bantuan.
Namun, kali ini dia tak keberatan mengerjakan tugasnya dengan Snowi yang ada dalam pangkuannya.
“Mau ke mana?” tanya Amy kala kucing itu bergerak dan berjalan menjauhi dirinya. Amy sebenarnya tak membatasi ruang gerak Snowi, jika bermain keluar kucing itu tahu kapan dan ke mana dia harus pulang. Namun, kali ini entah kenapa dia ingin melihat ke mana perginya Snowi.
Anak berusia 10 tahun itu menipiskan bibirnya kala Snowi menduduki pasir miliknya. Amy mengambil langkah mundur dengan kedua tangan terangkat.
“Oke, Snowi. Aku gak akan ngintip,” katanya sebelum kembali ke ruang tengah dan melanjutkan tugas kerajinannya.
Amy berhasil membuat dirinya fokus dengan tugas hingga ia bisa menyelesaikan tugasnya itu sendiri. Amy tengah membereskan sisa-sisa kertas warna yang ia gunakan kala Anna mendatanginya.
“Udah selesai, Sayang?”
“Udah, Mami. Gimana ... bagus gak?” tanya Amy dengan wajah berseri.
Anna terdiam untuk mengamati kerajinan yang Amy selesaikan. Perempuan itu kemudian mengukir senyum sembari bertepuk tangan. “Bagus, hebat anaknya mami. Terus ditingkatkan, ya, Sayang?”
“Pasti!”
“Mami habis bikin biskuit, kamu mau gak?”
Amy langsung mengangguk antuasias. Dia tak pernah tak menyukai setiap kue yang dibuat oleh mami. Pokoknya gak ada masakan mami yang gak enak buat Amy.
“Mau dicelup pakai susu, boleh, Mi?”
Anna mengangguk. “Boleh, ayo di meja makan aja makannya.”
“Okay!” seru Amy lantas berjalan mendahului Anna. Anak itu langsung duduk di kursi yang biasa ia gunakan. Menunggu Anna menaruh beberapa buah biskuit cokelat di atas piring dan menuangkan segelas susu dingin.
“Ah, iya. Susunya mau dihangatin dulu?”
“Gak perlu, Mami. Amy mau yang dingin,” balas Amy.
“Baiklah, udah cuci tangan belum, Sayang?”
“Oh, iya! Belum.” Amy lantas turun dan mencuci tangannya. Setelah itu, ia kembali duduk di tempat semula.
Baru satu gigitan ia telan, gerakannya terhenti karena teringat sesuatu.
“Mami, Snowi mana?”
Biasanya, Edward akan langsung mandi selepas pulang kerja. Namun, baru saja memarkir mobilnya dia harus pergi ke luar lagi untuk mencari kucing rumah mereka.
Edward cukup terkejut karena pulang disambut dengan wajah Amy yang sembab. Kali ini, dia pulang sedikit terlambat karena jalanan yang macet. Ia kira itu yang menjadi alasan anaknya menangis, tapi ternyata karena Snowi tidak kunjung pulang.
Pemandangan yang cukup mencolok kala Edward dengan pakaian kerjanya terus membungkukkan badannya di setiap beberapa langkah untuk mencari Snowi.
“Tadi saya sama Amy sempat keliling, tapi gak ketemu. Udah nanya tetangga juga siapa tahu Snowi masuk ke rumah mereka dan semuanya bilang gak ada.”
“Papi, tolong cari temen aku. Dia masih kecil, Papi.”
Edward menggaruk kepala belakangnya, bingung harus cari ke mana lagi. Pasalnya ini sudah cukup jauh dari rumah mereka, Edward pesimis Snowi akan berjalan sampai ke sini.
“Eh, Pak Edward. Tumben main ke sini?”
Edward menoleh lalu tersenyum canggung. “Sebenarnya, saya lagi cari sesuatu.”
Edward mengeluarkan ponselnya. Ia ingat pernah memotret Amy dan Snowi bersama.
“Ini, bapak pernah lihat gak, ya? Tadi pergi main, tapi sampai jam segini belum ke rumah.”
Edward tidak ingat siapa nama orang yang baru menyapanya ini. Namun, dia ingat dengan wajahnya.
“Loh, anaknya hilang, Pak? Sudah hubungi polisi?”
Edward mengerjap lalu menggeleng. “Bukan ... bukan anak saya yang hilang. Saya lagi cari kucingnya.”
Orang itu membenarkan posisi kacamatanya. “Ah, begitu. Saya gak lihat, Pak. Tapi tadi kabarnya ada orang dari komunitas gitu yang mau mengurus kucing masih kecil yang terlantar. Mungkin kucingnya kebawa sama mereka, Pak.”
Edward terdiam. Kalau sampai benar, ini akan lebih berat.
“Tapi, kucing saya pakai kalung yang menandakan dia bukan kucing terlantar.”
“Gimana kalau dipastikan dulu saja, Pak? Setahu saya Pak Brian punya nomornya.”
Edward mengangguk. “Baik, terima kasih banyak, ya, Pak. Kalau semisal lihat, tolong hubungi saya.”
“Siap, gampang kalau itu, Pak.”
Setelah berpamitan, Edward langsung mengunjungi rumah yang namanya disebut oleh orang tadi. Kaki Edward terasa lemas kala perwakilan komunitas itu menjawab mereka tak membawa Snowi dan tak mungkin membawa kucing yang memiliki tanda kepemilikan. Kucing yang mereka bawa pun, sudah hasil memastikan dari orang sekitar di mana satu kucing ditemukan kalau mereka bukan kucing peliharaan.
Edward berjalan lesu menuju rumahnya. Langit sudah gelap, sudah cukup lama Edward mencari kucing milik anaknya. Namun, hasilnya nihil. Ia hanya berharap kalau sekarang kucing kecil yang perlahan-lahan sudah menjadi kesayangan orang rumah itu sudah ada di rumah.
Bahu Edward merosot kala mendapati Amy dan Anna yang menunggunya di depan rumah. Wajah Amy terlihat sendu dengan Anna yang tak berhenti mengusapi punggungnya. Hidung Amh memerah, pertanda kalau dia menahan tangisannya.
Melihat ayahnya ada di depan pagar, Amy lantas berdiri. Matanya sedikit berbinar karena Edward adalah satu-satunya harapan sekarang. Namun, kala sadar kalau Edward datang sendiri, bibir Amy kembali melengkung ke bawah.
Edward mendekat lalu mengubah posisinya menjadi setengah berdiri dengan bertumpu pada lutut, mensejajarkan dirinya dengan Amy.
“Maaf, Dek. Papi gak nemuin Snowi.”
Amy menunduk dan tangannya mengepal. Anna yang sadar dengan itu lantas memberikan usapan lagi puncak kepalanya.
“Papi, Mami ... aku gagal, ya?”
Edward dan Anna saling berpandangan sebelum Anna ikut mesejajarkan dirinya dengan Amy. Perempuan itu mengusap pundak anaknya.
“Enggak, Sayang. Kamu gak gagal. Buktinya Snowi senang dirawat sama kamu, dia sayang sama kamu.”
Amy menggeleng. “Enggak, Mami—hiks ... kalau ... kalau sayang di-dia gak akan tinggalin aku.”
“Snowi belum tentu ninggalin kamu, Dek. Mungkin dia masih senang main di luar, tunggu sampai besok, ya?”
Amy mengusap air matanya, dia tak ingin menangis sekarang. Edward menahan tangannya. “Gak papa, jangan ditahan. Kamu boleh sedih, Dek.”
Mendengar itu, tangis Amy yang sedari tadi berusaha ia tahan akhirnya pecah juga. Anna dengan sigap membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. Tangannya tidak berhenti mengusapi kepala anaknya.
“Semoga Snowi pulang besok, ya? Kalau enggak, mungkin dia sekarang udah nemu rumahnya yang sebenarnya.”
“A-aku udah janji sam—hiks sama kalian... ka-kalau aku bakal ja—hiks ga Snowi baik-baik. Se-sekarang Snowi gak pulang. Aku u-udah gak bisa dipercaya—hiks buat ja ... jaga sesuatu lagi.”
“Loh, kata siapa? Amy selama ini bener, kok, jaga Snowi. Amy sayang sama Snowi dan jaga dia dengan baik. Snowi, 'kan, sampai nempel ke kamu terus, Sayang,” ucap Anna.
Amy tidak membalas, dia sibuk terisak. Edward dan Anna lagi-lagi memandang satu sama lain. Sedikit tidak menyangka sebenarnya kalau Amy akan sampai seperti ini.
“Adek, sekarang kamu harus percaya kalau Snowi baik-baik aja di mana pun dia berada. Semoga kucing kita besok—kalau bisa malam ini pulang ke rumah, ya? Papi coba cari sekali lagi.”
Amy tak membalas Edward, dia malah mengeratkan pelukannya pada Anna. Edward memberi isyarat pada Anna kalau dia akan pergi lagi. Anna mengganguk lalu berucap, “Jangan sampai larut.”
Sekarang, hanya tinggal mereka berdua di saja. “Ke dalam, yuk?” ajak Anna.
Amy menggeleng. “Ga-gak mau, na-nanti Snowi pulang hiks.”
“Pintunya kita buka, kita diam di ruang tengah. Mami takut kamu sakit besok.”
Amy tak membalas.
“Mami paham kalau Snowi berarti banyak untuk kamu ... untuk kita. Gak semua hal yang kita miliki bakal bertahan sama kita, Sayang. Ada kalanya mereka akan pergi. Pada dasarnya, datang dan pergi sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap manusia.”
“Amy boleh sedih karena kehilangan Snowi. Tapi, Amy juga harus yakin kalau Snowi baik-baik aja dan lekas pulang. Snowi pasti gak akan lupa semudah itu sama orang yang udah rawat dia cukup lama, loh.”
Snowi.
Kucing kecil yang Amy temukan dalam perjalanan pulangnya selepas bermain lompat tali itu sudah hidup bersama mereka nyaris 3 bulan lamanya. Memang tak begitu lama, tapi dia sudah menghadirkan banyak kenangan untuk mereka.
Khususnya pada Amy.
Amy mendapatkan kepercayaan untuk merawat sesuatu yang berharga, dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Dia berusaha untuk tak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberi dengan merawat Snowi semampu yang ia bisa.
Namun, keinginannya untuk tumbuh bersama dengan Snowi di rumah ini tampaknya tak dapat terwujud. Kucing itu tak kunjung pulang di hari-hari berikutnya.
Snowi adalah kehilangan pertama yang Amy alami dan cukup membekas untuknya. Dia memang diperbolehkan untuk menikmati rasa sedih juga kehilangannya. Namun, Amy tak ingin berlarut.
Secara perlahan, anak itu berusaha berdamai. Kembali menjadi ceria di hadapan semua orang dan terus meyakinkan dirinya sendiri kalau Snowi baik-baik saja di mana pun dia berada.
Walau diam-diam, dia sempat kehilangan kepercayaan dirinya untuk merawat sesuatu yang bernyawa lagi setelah itu.
Sorry for typo