cerita amy ; things i hate about my family.

hoshi as Edward sana as Anna. zoa as Amy.

note : ini minim dialog.


Amy's POV.

Manusia itu sebenarnya menakjubkan, ya? Terlepas dari jalan mana yang mereka pilih untuk dipakai melangkah, semuanya tetap berujung pada diri mereka sendiri.

Namaku Amy—Amy Kwon. Lahir 16 tahun yang lalu dengan hanya diberi satu harapan, yakni dipenuhi cinta kasih dari orang sekitarnya sesuai nama yang selalu tubuhku bawa kemana pun.

Aku anak tunggal dari pasangan Edward dan Anna. Hidup lumayan berkecukupan mengingat papi kerjanya arsitek dan mami yang sekarang udah punya dua kafe.

Papi orangnya tampak kaku, tapi kalau udah nyaman dia bakal bersikap sangat hangat. Terkadang buat tulisan yang katanya iseng, lalu dipublikasikan di blog yang dia punya. Gak pernah menyatakan langsung, tapi dari phone case sampai jaket yang bertema harimau, papi suka sama hewan itu.

Mami orangnya hangat dan murah senyum, nomor satu tempat ternyaman yang aku punya. Cantiknya gak pernah luntur sampai sekarang bahkan aku beberapa kali dikira sebagai adiknya mami. Mami jago masak, apalagi kalau buat kue—jangan heran, dia memang pastry chef. Namun, Mami gak bisa kalau sehari gak megang oven atau bikin adonan.

Orang-orang bilang kalau papi sama mami adalah dua orang yang pantas buat dijadikan contoh 'orang tua yang baik'. Semua teman-teman yang datang ke rumah bilang begitu, bahkan sepupuku juga pernah bilang hal yang sama.

Aku juga sempat lihat beberapa komentar yang menyukai parenting-nya papi dan mami.

Aku juga sangat mengagumi mereka berdua sama seperti orang-orang yang udah kusebut sebelumnya. Mungkin, aku adalah orang yang paling mengagumi papi dan mami.

Aku sudah sering menyatakan dan menunjukkan itu. Jadi, untuk kali ini biarkan aku membahas hal yang sedikit berbeda.

Di antara semua hal yang aku kagumi tentang papi dan mami. Aku sebagai anak mereka juga mempunyai hal yang kubenci tentang keluargaku. Kamu akan mengetahuinya di sini, jadi selamat menikmati.


I hate it when they become strangers when I'm not around.

Papi sama mami bilang kalau 31 Mei selalu menjadi hari berkesan untuk mereka. Itu hari kelahiranku, di mana papi dan mami memulai peran baru mereka sebagai orang tua.

Jika kami ada di ruang ramai, mata mereka berdua selalu senantiasa menatapku. Memperhatikan semua gerak-gerikku tanpa kenal lelah.

Papi dan mami adalah dua orang yang paling memahami bagaimana si Amy ini bekerja. Mereka akan menjadi sangat akrab jika topiknya aku, akan menatap dengan sayang jika ada aku, akan menjadi dua orang yang cocok bersama untuk melakukan sesuatu.

Aku selalu takjub ketika papi dan mami menanggapi semua yang aku tanyakan. Aku juga menjadi takjub ketika papi dan mami menghadapi orang-orang di sekitar mereka dan menghadapi aku. Itu berbeda.

Seberapa hebatnya papi dan mami dalam menjalankan peran mereka sebagai orang tua. Ada satu hal yang akan terus menggangguku dan membuat aku merasa enggan meninggalkan mereka berdua.

Aku gak pernah memergoki papi dan mami bermesraan. Gak pernah ada adegan pelukan di pagi hari ketika mami memasak atau sekedar bergandengan kala berjalan bersama.

Aku pernah sengaja masuk ke rumah tanpa mengatakan permisi. Aku mendapati bagaimana papi dan mami seperti dua orang asing yang harus ada di satu ruangan yang sama. Papi akan sibuk dengan laptopnya dan mami menonton televisi. Mereka duduk dengan jarak yang cukup jauh.

Tak ada obrolan, tak ada pula sandaran di pundak. Niatku memberi waktu agar mereka berdua menjadi kembali muda dengan menikmati cinta yang ada. Namun, yang aku dapati malah mereka yang sibuk masing-masing sampai membuatku bertanya, apakah cinta itu masih ada?

Aku benci hal itu.

Aku benci ketika papi dan mami, malah jadi dua orang asing ketika aku gak ada. Padahal mereka sudah menikah lama, mereka sudah hidup bersama denganku hampir 17 tahun lamanya.

Awalnya aku pikir itu hanya sesekali. Nyatanya, mereka selalu begitu. Jadi, aku gak bisa menahan diriku buat gak bertanya.

“Papi sama mami kenapa, sih?”

“Kami kenapa, sayang?”

“Kenapa kayak gak kenal satu sama lain kalau aku gak ada?”

Mereka diam. Kelihatan bingung.

“Harusnya kami kayak gimana, Dek?” Sekarang, papi yang ngomong.

“Ya ... kaya suami istri. Mesra-mesraan atau gimana gitu ... masa duduk aja ada jaraknya.”

Papi dan mami sekarang kelihatan canggung. Mereka saling melempar tatapan sebelum kembali melihat ke arahku lagi.

“Maaf, ya, Dek. Papi sama mami gak bermaksud kayak gitu, kami udah biasa kayak gini,” ucap papi.

“Ya, jangan dibiasain, dong. Aku tuh sengaja kalau libur suka keluar biar papi sama mami bisa ngehabisin waktu berdua. Aku pikir kalian memang sengaja gak mesra-mesraan di depan aku, jadi aku maunya di belakang aku kalian saling sayang.”

“Amy, papi sama mami saling sayang. Kalau enggak kami berdua gak bersama-sama di depan kamu sekarang,” kata mami.

“Gak semua sayang harus dilampiaskam dengan sentuhan fisik, Dek,” sambung papi.

Aku menggeleng. “Enggak ... kalian beda. Kalian malah kayak orang asing yang harus duduk bareng.”

Papi sama mami diam lagi.

“Papi minta maaf, ya, Dek? Kami berdua menikah bukan karena saling cinta, bertahan juga karena kehadiran kamu. Rasa sayang itu muncul belakangan,” ucap papi.

“Lalu, bagaimana kami menghabiskan waktu berdua ... gak seharusnya semuanya kamu ketahui. Karena ketika berdua, kami hanya Edward dan Anna. Bukan papi dan mami yang kamu kenali.”


I hate it when they make decisions about us without me.

Ada yang bilang, seribu kebaikan bisa menjadi hilang hanya karena satu kesalahan.

Manusia terkadang akan menjadi egois dan enggan ikhlas. Selama perjalanan yang aku punya pun, aku mengalaminya.

Papi dan mami selalu membimbingku dengan baik. Mereka tahu apa yang akan aku pilih buat dilakukan, tapi gak pernah memaksaku untuk segera mengatakannya.

Dalam sebuah keluarga, semua anggota butuh duduk bersama untuk berbincang, untuk menetukan segalanya yang berhubungan dengan seisi penghuni rumah.

Papi dan mami juga selalu melakukannya padaku.

Mami selalu minta pendapatku kalau dia punya resep baru, foto yang mami ambil, bahkan sekedar tayangan televisi. Papi juga terkadang selalu tanya pendapatku soal tulisan yang papi buat khusunya tema yang dia bahas.

Papi dan mami bilang, mereka perlu untuk berbagi isi hati agar aku juga gak ragu kalau ingin melakukan hal yang sama ke mereka.

Walau hanya terjadi sekali, tapi aku terkadang terus mengingatnya dan menahan diri untuk tak membahasnya lagi. Mereka berdua pernah tak mengajakku dalam membuat keputusan, padahal itu juga soal rumah yang kami inapi hingga hari ini.

“Kita mau tinggalin rumah ini? Mami sama Papi kok gak tanya aku?”

“Amy, gak mau pindah dari sini?”

“Papi dulu cerita sama Amy. Kalau rumah ini berharga. Kata papi, di sini semuanya dimulai dan papi ngerasa nyaman ada di sini. Papi emang gak sedih kalau kita ninggalin rumah ini?”

Berkat ucapanku yang itu, akhirnya kami tetap bisa tinggal di sini bersama-sama.


I hate it when they can find out about me so easily.

Jika ditanya siapa yang paling mengenaliku, tentu jawabannya adalah papi dan mami. Ini juga alasan kenapa aku jarang membutuhkan kehadiran orang lain di kehidupanku.

Aku butuh papi buat jaga aku, aku butuh mami buat mendampingimu. Papi memberi rasa aman dan mami memberi rasa nyaman.

Papi dan mami itu menakjubkan. Mungkin ini memang wajar dirasakan oleh orang tua, tapi aku tetap gak bisa untuk gak kagum pada keduanya.

Papi dan mami yang tahu aku lagi senang karena dapat sesuatu, papi dan mami yang tahu ketika aku menginginkan sesuatu, juga papi dan mami yang bisa tahu aku gak baik-baik aja. Gak semua berhasil aku katakan, tapi papi dan mami selalu sanggup untuk mengetahuinya.

Terkadang akan ada titik di mana aku enggan berlari ke arah mereka. Seringnya soal hubungan sosialku dengan teman sekolah di mana itu memang urusanku dan aku gak ingin papi dan mami terlibat.

Namun, sekali lagi. Papi dan mami bisa mengetahuinya dan itu sering membuatku tertekan karena gak bisa bercerita ke mereka. Aku benci karena aku merasa dikejar oleh papi dan mami, bahkan di saat yang mereka lakukan hanya menatapku saja.

Jika itu terjadi, aku perlu untuk menerima perasaan sedihku lebih dulu, aku perlu menelan bulat-bulat rasa marahku dulu agar semua yang tercerita tak terpercik rasa benci. Kepalaku perlu menjadi dingin agar tak meledak di hadapan mereka yang nantinya mungkin bisa lebih parah karena mau bagaimana pun, papi dan mami tetaplah orang tua yang mampu menjadi over protective ketika menemui alasannya.

Jika ada sesuatu yang belum ingin aku ceritakan. Papi dan mami memang gak akan memaksa untuk aku berkata. Mereka membiarkan aku ada di kamar, menyusul setelah lumayan lama, lalu mereka akan melakukan hal yang ujungnya membuat aku bercerita.

Seperti waktu itu.

Papi dan mami masuk ke kamarku di jam makan malam. Namun, dibanding mengajakku untuk makan, mereka malah melakukan hal yng berbeda. Mengalihkan perasaan kesalku menjadi penasaran.

“Makan malam diundur sampai jam 7.30, soalnya mami mau cerita sama kalian!”

“Eh? Mami mau cerita?”

“Iya! Gimana kalau kita sharing review hari ini masing-masing. Kayaknya udah lama, ya, kita gak ngelakuin itu?”

“Mau, ayo di sini. Di kamar aku.

Yap, papi dan mami punya kendali sebesar itu terhadapku.


Dibandingkan semua itu, aku lebih benci ketika aku gak bersyukur buat semuanya. Buat kehadiran papi dan mami yang selalu mendampingi setiap langkahku. Buat segala usaha mereka dalam membimbingku untuk terbang ke arah yang memang aku inginkan. Buat kesabaran mereka dalam menemaniku yang kebingungan arah.

Si Amy ini di satu waktu ingin menjadi penari, di waktu lain dia malah diterima audisi untuk berperang sebagai orang lain, di hari lain dia malah membeli buku tentang medis. Aku pernah ada di jalan itu dan papi sama mami dengan sabar membimbingku untuk memilih yang benar-benar ingin aku jadikan tujuan.

Mereka sangat mengapresiasi kehadiranku, begitu pun aku pada mereka. Aku sempat merasa gak butuh orang lain selama papi dan mami masih ada. Aku hanya butuh orang tuaku.

Makanya, aku juga membenci ketika mereka gak ada di sekitarku.

Kata mami, sewaktu bayi aku akan menangis dengan keras ketika dia terpaksa harus pergi ke kafe dan gak memungkinkan untuk menbawaku. Aku gak lelah menangis sampai tubuhku ada di gendongan mami lagi.

Malamnya, ketika papi gak pulang karena harus ke luar kota, aku juga akan menjadi enggan tertidur dan rewel semalaman. Terlebih papi gak mungkin pulang di hari di mana ia baru berangkat.

Kata mami, aku baru bisa diam ketika baju papi menjadi selimut untuk tubuh kecilku.

Dari bayi, kebutuhanku buat kehadiran mereka sudah sebesar itu.

Bahkan sekedar memikirkan kalau salah satu dari mereka akan pergi pun, aku membencinya. Dalam mimpi sekali pun, aku gak siap. Ketika terbangun, aku bisa menjadi histeris dan menjadi marah ketika papi bilang kalau aku perlu bersiap untuk itu.

Batas keberadaan manusia di dunia ini adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan.

Papi dan mami bilang, aku gak suka ditinggalkan mereka. Itu benar. Aku bahkan membencinya meski sekedar terlintas di kepala. Aku ketakutan.

Tak banyak yang aku benci soal papi dan mami. Hal di atas pun, ujungnya malah menjadi alasan agar aku bersyukur atas kehadiran mereka berdua.

Edward dan Anna. Dua orang yang selalu ada di posisi teratas dalam pikiran juga hatiku. Ditinggalkan mereka adalah hal yang paling kubenci seumur hidup.

“Amy.”

Aku beralih dari buku yang semula menjadi tempatku menulis semua yang aku sampaikan pada kalian. Beralih pada sosok yang berdiri di ambang pintu.

“Ah, iya. Kenapa?”

“Gak papa, kamu ke klinik jam berapa?”

“Hari ini jam 8 ... oh, iya, aku mau ketemu papi sama mami dulu.”

“Aku ikut, ya?”

Aku mengangguk. “Boleh, tapi nanti kita nanti beli bunga dulu, ya?”

dan akan ada masa di mana kita perlu memaksa diri untuk berdamai dengan keadaan. Termasuk hal yang paling kita benci sekalipun.