genera colorum – 2


Genera Colorum.

Nama itu lama-lama menjadi akrab di telinga. Nama dari toko unik yang terpencar di beberapa daerah. Keunikannya adalah dari jam buka di malam hari, di mana biasanya toko akan tutup. Belum lagi dengan para pegawainya yang memiliki warna rambut berbeda-beda.

Teman-temanmu selalu membicarakan toko itu akhir-akhir ini. Mereka belum berani untuk pergi ke sana karena toko itu hanya bisa dikunjungi saat malam. Namun, kabar tentang para pegawainya yang memiliki visual menarik membuat mereka berniat untuk nekat malam ini.

Kamu yang awalnya tidak tertarik, jadi terpaksa untuk ikut serta. Di sini lah kamu berada, di depan sebuah toko yang masih tutup karena langit masih menunjukkan jingganya.

Kamu melihat ke sekitar, sudah cukup banyak orang yang menunggu. Kamu berjinjit guna melihat lebih jelas tulisan yang ada di depan pintu.

“Genera Colorum,” ucapmu dengan pelan. “Silahkan datang bersama gelap dan ikut pulang bersamanya ....”

Kamu terdiam memikirkan apa maksud dari kalimat itu. Namun, belum sempat menyimpulkan, langit sudah menggelap. Bersamaan dengan perubahan warna itu, pintu yang sedari tadi tertutup dibuka dengan perlahan.

Dari sana, muncul dua orang laki-laki dengan warna rambut yang mencolok. Yang satu berwarna abu-abu dan yang satu lagi berwarna ungu.

“Selamat datang di Genera Colorum,” sambut si ungu yang tampak lebih menarik dari rekannya. Hal itu terbukti karena beberapa pengunjung menunjukkan raut kagum mereka.

“Saya Wonwoo dan saya mungkin bisa menarik perhatian kalian. Saya juga mungkin bisa membuat kalian sendirian.”

Perkataan Wonwoo barusan membuat kamu menahan napas tanpa sadar. Itu terdengar seperti ancaman, tapi kamu tidak bisa mengalihkan pandanganmu darinya.

“Saya Soonyoung,” ucap laki-laki satunya. “Sesuai kebiasaan kami dan ciri khas toko ini, kita akan bermain dulu sebelum masuk. Permainannya hanya tebak-tebakan. Siapa cepat, dia dapat. Siapa benar, dia dengar.”

Soonyoung memberikan senyuman tipis. “Bisa kita mulai?”

“Bisa!”

Jawaban serentak yang terdengar begitu antusias itu membuat senyuman Soonyoung semakin melebar. Wonwoo yang di sebelahnya hanya diam mengamati.

“Baiklah, yang pertama. Aku memiliki banyak warna dan aku bisa berubah. Ketika ditutup, aku akan berubah menjadi tongkat. Ketika dibuka, aku akan berubah menjadi tenda. Jadi, aku siapa?”

Ada jeda cukup lama setelah Soonyoung mengatakan itu. Soonyoung kembali berkata, “Tidak ada yang bisa menjawab?”

“Ganti saja, itu sulit!” sahut seseorang yang berdiri cukup ujung. Soonyoung dan Wonwoo melihat ke arahnya secara bersamaan.

Soonyoung memiringkan kepalanya, memberikan tatapan meremehkan. “Sulit? Itu bahkan semudah membuatmu pergi dari sini.”

Tak lama dari ucapannya, sosok yang mengajukan protes tadi berbalik. Ia tiba-tiba berlari dari sana, ada teriakan tidak jelas yang ia keluarkan. Namun, kamu bisa menangkap kalau dia berkata, “Hey! A-aku tak bisa mengendalikan tubuhku.”

“Lupakan dia.” Secara ajaib, para pengunjung kembali memberikan perhatiannya pada Wonwoo.

“Ada yang bisa menjawab atau kalian tidak ingin masuk ke dalam?” tanya Soonyoung sekali lagi.

Kamu dengan sedikit ragu mengangkat tangan. Soonyoung dan Wonwoo sama-sama menatapmu sekarang, begitu juga dengan pengunjung lain.

“Apa jawabannya, manis?”

“Payung.”

Soonyoung tersenyum puas. “Betul. Aku tidak pernah mengajukan pertanyaan sulit, kalian saja yang tidak mau mendengar.”

Wonwoo dan Soonyoung kompak memiringkan badannya, menciptakan ruang agar kamu bisa memasuki toko itu.

“Silahkan masuk dan pergunakan telingamu dengan baik,” bisik Wonwoo ketika kamu melewatinya.

Kamu menelan ludah gugup. Berharap kalau di dalam sana tak ada hal aneh lain.


Kesan pertama yang kamu dapatkan dari toko itu adalah colorful. Setiap lorong memiliki barang-barang dengan warna yang berbeda.

Matamu yang masih sehat membuat kamu bisa membaca siapa nama dua laki-laki berambut pirang yang berdiri di dekat lorong kuning. “Jun dan Joshua?”

“Ya? Apakah Anda mau melihat barang-barang kami?” sahut yang bernama Jun.

“Di sini banyak yang menarik dan bisa membuatmu bahagia. Namun, berubah bukan hal yang membahagiakan.” Ucapan Joshua itu membuat kamu menggeleng seketika.

“Ah tidak, saya hanya ingin melihat sekilas saja.”

“Baiklah, silahkan datangi lorong yang lain.”

Di sebelah lorong kuning, ada lorong cokelat yang dijaga oleh dua orang bernama Seokmin dan Vernon. Mereka juga menyapa dirimu seperti yang dilakukan oleh Jun dan Joshua. Melihat di lorong itu lebih banyak barang dibanding makanan, kamu pun memilih untuk mengunjungi lorong yang lain.

Kamu memasuki lorong biru, tak ada pegawai seperti dua lorong sebelumnya. Kamu melihat ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang. Namun, tampaknya lorong ini memang tidak dijaga.

Kamu sedikit membungkuk untuk melihat lebih jelas pada jajaran cupcake dengan krim biru yang terlihat menggiurkan. Saking fokusnya, kamu tidak menyadari kalau ada seseorang yang berdiri di sebelahmu.

“Hai, saya Seungkwan. Penjaga di lorong ini. Bukankah di sini begitu menenangkan?”

Kamu terlonjak kaget dan spontan membuat jarak antara dirimu dan laki-laki tadi. Seungkwan juga menunjukkan raut terkejutnya.

“Ah, maaf mengejutkanmu. Jangan lupa untuk bernapas.”

Seungkwan memperagakan bagaimana mengambil napas, itu membuatmu tertawa karena merasa lucu. Seungkwan ikut tertawa dan kamu kembali merasa tenang ada di sini.

“Di sana ada Chan dan Minghao, rekanku di lorong ini.” Seungkwan menunjuk ke belakang. Di sana ada dua orang lain yang juga sedang berbincang dengan pengunjung.

Rambut ketiganya sama-sama berwarna biru.

“Apakah semua pegawai di sini harus mewarnai rambut mereka sesuai dengan lorong di mana mereka berada?”

“Begitulah.” Seungkwan mengendikkan bahunya. “Kamu mau beli cupcake ini?”

Kamu kembali melihat pada kue itu. “Iya, apakah rasanya enak?”

“Sangat enak, blueberry di atasnya menambah kesan tersendiri saat memakannya.”

Kamu mengambil sebanyak dua buah, lalu menatap pada Seungkwan. “Aku akan membeli ini, terima kasih.”

“Kembali kasih, di lorong merah banyak yang menarik. Mungkin kamu bisa mengunjunginya dulu sebelum membayar ke kasir.”

Kamu mengangguk dan menuruti apa kata Seungkwan barusan. Berbeda dengan yang lain, di lorong merah tak hanya satu warna. Selain merah, ada warna merah muda juga di sana.

Satu orang-orang laki-laki berambut merah muda menghampirinya. Untuk beberapa detik, kamu terpesona olehnya.

“Selamat datang di lorong merah, saya Jeonghan,” ucap Jeonghan, dia lalu menunjuk pada dua laki-laki lain yang ada di ujung ruangan. Dua laki-laki itu memiliki rambut merah yang mencolok. “Mereka Jihoon dan Mingyu, penjaga di sini juga. Tapi, aku sarankan untuk tidak berinteraksi dengan mereka karena mereka menyebalkan.”

Kamu mengangguk, memilih untuk menurut. Jeonghan melirik pada cupcake yang ada di tanganmu. “Oh, kamu sudah membeli kue dari lorong biru.”

“A-ah iya, aku menyukai ini.”

Jeonghan kini berdiri di sebelahmu. “Kamu lihat laki-laki itu? Dia sering berkunjung ke sini dan dia juga menyukai cupcake.”

Kamu menatap pada laki-laki yang Jeonghan tunjuk. Laki-laki itu sedang melihat-lihat pada jajaran buku yang ada di sana.

“Dia tampan bukan? Coba sapa dia, dia tadi bilang padaku kalau ada seseorang yang menarik di lorong biru dan itu kamu! Lumayan, 'kan? Beli cupcake bonus kekasih.”

Kamu terdiam sebelum akhirnya melangkah mendekati laki-laki tersebut. Jeonghan di belakangmu diam-diam tersenyum.

“Hai,” sapamu.

Laki-laki itu melihat padamu. “Oh, hai.”

Kamu terdiam, merasa canggung dan malu di saat yang sama. “Aku dengar kamu suka cupcake.”

Laki-laki itu tersenyum dan menatapnya dalam. “Benar. Tapi aku lebih menyukaimu.”

Kamu bisa merasakan wajahmu memanas. “A-aku?”

“Iya, kamu.”

Setelah ucapannya barusan, kamu merasakan sesuatu melilit kakimu. Matamu membulat melihat sebuah tentakel yang entah datang dari mana. Kamu kembali melihat pada laki-laki tadi, tapi dia sudah berubah menjadi makhluk yang menyeramkan.

Mulutmu ditutup paksa agar tak bisa berteriak, sesaat setelah itu tubuhmu ditarik masuk ke sebuah ruangan yang entah sejak kapan ada di sana.

Ruangan itu menghilang dan laki-laki tadi kembali ada di sana. Jeonghan tersenyum puas saat Mingyu yang merasa tertarik kini ada di dekatnya.

“Malam ini kamu berburu cukup banyak,” ucap Mingyu.

“Hebat bukan?”


Kamu tak bisa bangkit, tubuhmu menempel dengan lantai yang dingin. Ada lebih dari lima orang di sana, mungkin lebih dari sepuluh. Kamu tak peduli, kamu hanya ingin keluar dari sana.

Kamu mendongak ketika ada tiga pasang kaki yang berhenti di depanmu. Ada Soonyoung yang menyambut pengunjung dengan teka-tekinya, lalu ada Jihoon yang kamu lihat di lorong merah tadi, dan ada seseorang berambut hitam yang kamu lihat di meja kasir sebelum menelusuri toko itu.

“Kak Seungcheol, ini terlalu banyak untuk kita,” ucap Jihoon.

“Tak apa, jadi kita bisa menutup toko ini untuk sebulan ke depan,” balas Soonyoung diakhiri dengan tawa yang menggelegar.

Seungcheol menghela napas. “Kita mengambil secukupnya saja, sisanya kita berikan pada kelompok lain yang tak mendapatkan buruan.”

Soonyoung berdecak. “Selalu saja kaku seperti itu.”

“Diam atau kamu mau aku masak bersama mereka?”

“Oh tentu saja tidak, Jihoonku sayang. Buat makanan yang enak, ya. Biasanya mereka yang ditangkap oleh Kak Jeonghan memiliki daging yang enak.”

Tunggu, apa?