jenwan – 1
“Pake yang bener, ih, jaket lo,” ucap Awan dengan gemas. Sudah jelas Jennifer memakai crop top tapi perempuan itu masih enggan menyatukan kedua sisi jaketnya.
Laki-laki itu kira, Jennifer akan melakukan itu sekalian saat dirinya mengganti bawahannya dengan celana yang Awan bawa.
Jennifer menghela napasnya, tanpa kata menuruti apa kata Awan.
“Bagus,” komentar Awan kala selesai. Dia kemudian mengambil satu helm lagi yang tak ia pakai. Awan memasangkannya ke kepala Jennifer tanpa kata. Tindakannya itu tentu membuat Jennifer tertegun untuk beberapa detik.
“Lo emang gak ada temen buat balik bareng?” tanya Awan.
“Ada, dia juga nawarin buat bareng tadi,” jawab Jennifer ringan.
Awan mengernyit. “Lo kenapa gak bareng aja aja? Malah bangunin orang tidur. Untung besok Minggu.”
Jennifer menatap Awan dengan sebal. Ia kira Awan sudi datang ke sini itu berarti ia tka keberatan. Nyatanya laki-laki itu masih saja mengeluarkan protesannya.
“Gak enak, she is with her crush.”
“Lah? Baru crush mau jemput dia jam segini? Bucin tolol.”
Jennifer menatap Awan lekat. Bagaimana, ya, kalau laki-laki ini tahu bahwa yang dia katain tolol barusan adalah temannya sendiri?
“Lo juga,” ucap Jennifer menggantung.
“Juga apa?”
“Mau jemput gue jam segini. Mereka mending karena punya perasaan buat satu sama lain. Sementara kita? Gak ada, Wan.”
Awan terdiam, baru sadar kalau tindakan dan perkataannya tak seiras. Laki-laki itu berdeham, mengurangi kecanggungan yang ia yakin hanya dirinya saja yang merasakannya.
“Ya, gue, kan, tetap manusia yang harus menolong orang. Udah, ah, ayo balik. Ke rumah lo, 'kan?”
“Soal itu ... gue yakin udah dikunci. Boleh gak, Wan, ke rumah guenya pas pagi aja?”
Awan menatap Jennifer dengan heran. Mau ngapain lagi, dah, ni cewek?
“Terus lo mau ke mana?”
“Ikut lo.”
“Hah?”
“Gue ikut lo.”
Awan berdecak sebal, sadar kalau sekarang apartemennya sudah terkunjungi oleh seorang perempuan. Untung tak terlalu berantakan.
Awan mengambil baju yang ada di paling bawah lemarinya. Itu hanya kaos yang sering ibunya beli, tapi belum sempat Awan pakai. Terbukti dengan plastik yang masih mengelilinginya.
Awan melemparkan benda itu kepada Jennifer. Untungnya, perempuan itu sigap menangkapnya.
“Ganti ah, baju lo. Gue gak suka lihatnya,” ucap Awan.
“Lo kalau mau tidur di sofa aja, ya. Gue mau ke kamar, ngantuk.”
Jennifer mengerjap. “Tapi, Wan—”
Belum selesai Jennifer berucap, Awan sudah menutup kamarnya. Perempuan itu menghela napasnya, padahal ia hanya ingin bertanya kamar mandinya ada di mana.
Jennifer menatap sekitarnya. Mungkin ia akan berganti di sini, mumpung ia hanya sendirian. Setelah itu, Jennifer juga berbaring di sofa yang Awan maksud dengan menumpuk bantalnya terlebih dahulu.
Sofa nya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tubuh Jennifer jika ia melipat kalinya. Perempuan itu tak langsung terlelah, ada hal yang mengganggu pikirannya.
Kenapa, ya, Awan sudi jemput gue? Padahal kayaknya dia bukan tipe manusia yang gampang peduli.
Lama-lama, mata itu terpejam juga. Hari ini, Jennifer lumayan banyak memiliki kegiatan. Setelah photoshoot, ia harus menghadiri pesta yang diadakan agensinya. Mau pulang lebih dulu pun selalu ditahan oleh yang lain. Makanya, Jennifer baru bisa keluar sekitar pukul 2 lebih.
Yang tidak Jennifer ketahui, Awan kembali keluar kamarnya untuk memeriksa keadaannya. Mengetahui dirinya sudah tertidur, Awan kembali masuk untuk mengambil selimut. Awan memakaikannya kepada perempuan yang cukup merepotkannya hari ini, lalu kembali masuk ke kamar untuk menyusul ke alam mimpi.
Ah, iya.
Awan juga sempat mengusap pipi Jennifer sebentar.