jenwan ; miracle.
Wonwoo as Awan. Jennie as Jennifer.
Ada satu hari di mana Awan gak mau jadi siapa-siapa. Dia gak butuh untuk jadi seorang teman, untuk jadi seorang anak, bahkan untuk sekedar jadi Awan Pradipta yang orang-orang bilang hobinya nantangin angin.
Orang-orang akan paham kalau Awan ada dalam kondisi ini. Gak ada yang ngehubungin dia, gak akan ada yang mengunjungi dia. Mereka membiarkan Awan tinggal sendiri di kamarnya, meringkuk dengan selimut yang tebal.
Jika dipikirkan lagi, ada di kondisi itu di umurnya yang udah melewati 25 rasanya cukup keterlaluan. Awan bakal merasa bersalah karena gak ngehasilin apa pun dalam seharian penuh.
Namun, hari ini, buat sekali aja. Awan mau itu lagi, dia butuh untuk menjadi sendiri. Dia menginginkan itu untuk jadi kado ulang tahunnya.
Rentetan notifikasi tentang ucapan selamat ulang tahun yang masuk ke ponselnya gak Awan hiraukan. Cowok itu memejamkan mata, ia bisa membalas itu di esok hari.
Tampaknya, dunia gak mau Awan sendiri hari ini. Di antara semua yang paham kalau Awan ingin sendiri, ada satu orang yang selalu memaksa masuk buat menemani dia.
Buktinya sekarang di apartemen yang udah jadi tempat pulangnya beberapa tahun terakhir ini, ada dia yang bisa masuk tanpa permisi. Ada dia yang tahu segalanya tentang Awan, ada dia yang selalu ngerepotin dirinya buat bikin kue yang bahkan nantinya gak akan mereka habiskan karena sama-sama gak doyan manis.
Awan yang duduk malas di sofa dengan selimut yang membungkus tubuh yang itu menatap dengan mata sayu. Sementara si tamu rasa tuan rumah lagi berdiri dengan kue yang ia buat sendiri.
Ada dua lilin di kue itu, menuliskan umur yang baru Awan temui hari ini. Cewek itu memberikan senyumannya sembari jalan ke arah pacarnya.
“Selamat ulang tahun, Awan, my baby!”
Awan tersenyum geli mendengar panggilan itu. “Aku lagi mau sendiri padahal, Jen.”
“It's your special day, I don't want you to be alone,* Awan sayang.”
Awan tertawa kecil. Iya, dia seneng walau niatnya untuk sendiri udah jelas terganggu. Tapi ini Jennifer, Awan gak bisa untuk gak bahagia atas segala gerak-geriknya.
Terkadang, Awan ingin sendirian. Namun, Jennifer selalu punya kekuatan untuk menembus segala pintu yang ia miliki.
Menembus supaya mereka bersama dan bisa membuat Awan tetap senang meski gagal sendirian.
Cewek itu bertumpu dengan lututnya, menghadap yang lebih muda beberapa bukan darinya itu yang tengah duduk di atas sofa. Awan udah gak bersandar, dia menegakkan tubuhnya guna mempermudah mata mereka buat saking bertemu.
Jennifer mendekatkan kue yang sengaja ia buat dalam ukuran kecil itu pada kekasihnya. “Make a wish dulu, baru tiup lilinnya.”
Apa yang Jennifer katakan, maka itu yang akan Awan lakukan. Cowok itu memejamkan matanya, dia gak butuh waktu lama untuk membuat harapan karena Awan mulai merasa cukup dengan hidupnya sendiri. Selepas itu, dia memadamkan api yang menyala pada sumbu lilin.
Awan mungkin melihatnya secara berlebihan. Namun, Jennifer memandangnya dengan binar paling indah yang pernah Awan lihat.
“Awan, do you believe in miracles?” tanya Jennifer.
Awan menaikkan sebelah alisnya, heran karena Jennifer tiba-tiba menyinggung soal itu. Seolah paham kalau Awan menunggu maksudnya bertanya demikian, Jennifer kembali berucap, “Orang-orang bilang aku kurang beruntung karena harus sama kamu yang serampangan. Kamu yang balapan, kamu yang hobinya bantah, kamu yang disebut bebal karena ketinggalan dari temen-temen kamu yang sehari-harinya gak jauh beda sama apa yang kamu lakuin.”
Baiklah, Awan gak tahu soal ini. Jennifer gak pernah bilang bagaimana pandangan orang-orang di sekitar cewek itu tentang dia.
Jennifer memandang Awan penuh arti. “I do believe in miracles since the day I found you. Di antara semua penilaian soal kamu, yang mereka gak tahu adalah kamu udah buat aku jadi orang yang lebih berani. Kamu juga kasih aku pengertian soal perlunya menikmati hidup sendiri.”
Awan mengusap pelan pipi Jennifer kalau perempuan itu melukis sebuah senyum. Ada efek tersendiri yang gak bisa Awan jelaskan, yang jelas dia menyukai efek ini karena dia selalu hadir ketika Jennifer bersamanya.
“Kebalik kali. You are a miracle to me. You made me a better person, Jen,” ucap Awan diakhiri senyuman tipis.
“*Well ... then we are a miracle to each other, *” ucap Jennifer dengan senyuman paling manis yang Awan pernah janjiin untuk selalu hadir di antara momen mereka berdua.
Isi kepala Awan berganti. Tadinya dia ingin sendiri, tapi sekarang Jennifer malah menguasainya sendiri. Jennifer, Jennifer, Jennifer.
Silakan katain Awan bulol atau apa, yang jelas dia mungkin gak akan bisa lanjutin langkahnya kalau gak ada Jennifer. Kalau bisa pun, butuh waktu lama buat kakinya berkenan melangkah lagi.
Jennifer segalanya buat Awan. Dia gak akan pernah capek buat ngejar cewek itu sampai mana pun.
“I am so thankful for being with you, Awan sayang. Hope the best on your birthday.“
Awan tersenyum geli. “Gak perlu berharap lagi, aku udah dapetin yang terbaik itu di hadapan aku sekarang.”