kabar – 1

Semenjak bekerja, Elina sedikitnya menjadi kurang perhatian pada media sosialnya. Alasannya tentu karena tubuhnya yang masih beradaptasi dengan kesibukan sekarang.

Salahnya juga, sih, bermalas-malasan selepas ujian akhir kemarin.

Namun, walau begitu ada satu akun yang selalu ia tunggu postingannya meski sekedar story yang cuma bertahan selama 24 jam. Yap, dari akun Hanan yang makin ke sini makin jarang update.

Dari awal kenal, cowok itu memang bukan tipe yang apa-apa disebar. Dia update paling cuma tentang promosi atau memposting ulang dari seseorang yang menandai akunnya. Terkadang dia juga suka upload video kucing, sih, tapi itu jarang sekali. Kalau Hanan sudah mempostingnya, berarti dia benar-benar luang.

Jika diingat lagi, orang pertama yang mengurangi komunikasi antar keduanya adalah Elina sendiri. Awalnya, Hanan masih sering menghubunginya walau Elina membalas seadanya karena mencoba menghindar. Lama-lama terlebih setelah cowok itu terpilih jadi salah satu caketos, dia mulai gak menghubungi Elina lagi.

Mereka pun menjauh tanpa alasan yang gak diketahui masing-masing.

Elina terkadang merasa berat dengan hal itu meski dia yang memulai. Mau bagaimanapun, Hanan adalah teman yang baik. Mereka bisa berteman dan tak mengikuti pernyataan kalau pertemanan antar cowok dan cewek bakal berakhir dengan salah satu yang suka.

Elina menghela napasnya. Ini bukan saatnya ia mengingat kenangan mereka. Pada kenyataannya, Elina perlu fokus untuk mengendari sepedanya agar terhindar dari bahaya.

Cewek itu menatap lurus ke depan. Niatnya hari ini, dia mau berolahraga dengan mengendarai sepeda di sore hari. Harusnya tadi pagi, tapi tubuhnya baru terasa lebih enak sekarang.

Elina bertekad untuk menikmati waktunya di perjalanan kali ini. Namun, tampaknya dunia tak mau Elina seperti itu karena sepeda yang ia kendarai malah oleng.

Elina buru-buru menghentikan gerakannya. Ia bernapas lega karena sepeda yang sudah menemaninya cukup lama ini tak membuatnya terjatuh.

Cewek itu menatap sekitar, ia perlu mencari tahu soal apa yang terjadi dengan sepedanya dan kalau bisa memperbaikinya karena ini cukup jauh dari rumah. Matanya sedikit berbinar ketika mendapati sebuah bengkel.

“Eh, bisa gak, ya?” gumamnya. Namun, bukan Elina namanya kalau gak sedikit nekat. Untuk saat ini, ia perlu nekat mengingat tempat ini cukup jauh dari rumah.

“Permisi,” ucap Elina dengan canggung, “kayaknya ban sepeda saya bocor. Kira-kira di sini bisa benerin gak, ya, Pak?

Elina mengerjap, mereka juga ikut mengerjap.

“Bisa, Neng. Tapi tunggu bentar, ya, yang lagi kosong belum diajarin kalau sepeda.”

Elina mengangguk paham.

“Nan, coba itu sepeda si neng taruh di saja dulu.”

“Iya, Bang. Sebentar.”

Elina membasahi bibir bawahnya. Panggilan juga suara yang menyahut barusan tak asing untuknya. Walau ia sudah tak mendengar suara itu setahun ke belakang, tapi ia yakin kalau pemiliknya adalah Hanan.

Alis Elina terangkat begitu sosok yang dipanggil menampakkan mukanya. Benar sesuai dugaannya, itu adalah Hanan yang kini mengeluarkan reaksi tak jauh berbeda darinya.

Hanan semakin mendekat, Elina spontan menahan napas. Cowok yang kini tampil dengan rambut cukup pendek itu mengambil alih sepedanya, tapi ia tak lantas membawanya ke tempat yang seharusnya.

Mereka bertatapan sebelum akhirnya Hanan mengukir sebuah senyuman.

“Hai, Lin,” sapanya.

Elina tanpa sadar memainkan jarinya, berusaha menghilangkan rasa canggung yang semakin memuncak. Cewek itu mengukir senyum, kelihatan sekali kalau Elina memaksa agar itu bisa ia tampilkan.

“Halo, Nan ....”

Hanan masih mempertahankan senyumnya. Ia tak bisa berbohong kalau ia senang melihat Elina ada di hadapannya lagi setelah sekian lama. Laki-laki itu sedikit mencengkeram sepeda Elina, walau senang ia tetap merasa ada sesuatu yang menahan mereka untuk kembali seperti semula.

“Apa kabar?”

Hanan bertanya dengan pelan dan tenang, tapi Elina merasa kalau ia diteriaki oleh laki-laki itu.

Mereka sudah lama kenal karena sempat sebangku saat kelas 8. Lama-lama menjadi akrab dan nyaman berbagi cerita. Perbincangan mereka melebar hingga ke tahap menceritakan masalah dan menyarankan solusi. Setelah berbeda sekolah pun, mereka tetap bisa mempertahankan pola hubungan itu.

Harusnya, pertanyaan seperti 'apa kabar?' tak pernah mereka pertanyakan karena saking seringnya berkomunikasi lewat pesan. Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa begitu menekan untuk memberikan jawaban yang tak kalah sederhana.

Padahal dulu mereka bisa mengetahui kabar masing-masing tanpa perlu bertanya.

Elina memberanikan dirinya lagi untuk menatap Hanan. Dia mengangguk dan kembali memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku baik, kamu?”

Satu hal yang jelas terlihat. Situasi ini sama-sama tak pernah mereka inginkan.