kabar – 2

Sebenarnya, melihat Hanan ada di gang rumahnya lagi adalah hal yang tidak pernah Elina duga. Laki-laki yang dulu pipinya enak dicubit itu tengah menunduk memandang pada ponselnya. Mungkin karena barusan mengabari Elina kalau dia sudah sampai.

Sebenarnya ini sudah pukul 15.00, cukup sore untuk mereka keluar bersama. Meskipun Elina libur, Hanan tetap tidak libur. Untung Elina masih mau diajak pergi.

Sadar kalau Elina mendekat ke arahnya, Hanan mengukir senyuman tipis. Perempuan itu sudah membawa helm seperti yang Hanan minta. Hanan tidak berangkat dari rumah soalnya. Selesai kerja, menumpang mandi di bengkel, terus langsung ke sini.

“Mau ke mana, Nan?” tanya Elina.

“Kamu ada yang mau dikunjungi?”

Elina menggeleng.

“Sama, hehe,” jawab Hanan dengan cengiran tak enak. Sebenarnya ia tak terpikir satu tempat pun mengingat ini sudah sore.

“Nan, coba Rumah Mantan, yuk?” usul Elina cepat.

“Yang mie itu?”

Elina mengangguk. “Iya, yang katanya ada mesin capitnya.”

“Boleh. Di mana?” tanya Hanan. Dia sedikit lega karena Elina sudah menunjukkan keantusiasannya lagi.

“Jalan Jamika. Bentar, aku cari di maps dulu.”

Hanan terdiam, menunggu Elina selesai dengan apa yang ia katakan. Perempuan itu kemudian menunjukkan petanya pada Hanan.

“Kasih tahun sambil jalan aja, ya. Yuk, naik.”

“Sambil nyari jajan juga, yuk, Nan, di jalannya.”

Hanan tersenyum. Dia lega karena Elina mulai menunjukkan keantusiasannya lagi.

“Boleh, yuk!”

Elina duduk dengan canggung di boncengan motor Hanan. Tangannya dengan ragu memegang ujung jaket berwarna hitam yang laki-laki itu gunakan. Hanan sendiri tidak terlalu memikirkannya.

Ini pertama kalinya Hanan membonceng Elina, dia hanya ingin perempuan itu duduk dengan nyaman. Jadi, Hanan tidak memprotes apa pun.

Hanan berhenti di sisi jalan ketika mereka menjumpai cukup banyak gerobak pedagang kaki lima. Hanan sedikit memundurkan badannya agar Elina bisa mendengar perkataannya mengingat ini di pinggir jalan yang cukup berisik.

“Mau beli sesuatu di sini gak, Lin?”

Elina tidak langsung menjawab, dia menatap ke arah sekitar. Pilihannya cukup banyak.

“Kamu?”

Hanan tertawa kecil. “Lah, kok aku?”

“Gantian, Nan. 'Kan, yang mau ke rumah mantan aku.”

Kali ini, Hanan yang mengamati gerobak makanan itu satu per satu.

“Beli surabi aja, yuk. Mumpung tempat duduknya masih kosong.”

“Boleh.”

“Turun dulu, Lin. Aku mau parkir.”

Elina menurut dan Hanan segera memarkirkan motornya. Laki-laki itu kemudian menerima helm Elina untuk diletakkan juga di sana.

“2.500-an, Lin. Beli empat mau?” bisik Hanan begitu melihat menu yang tertempel di atas gerobaknya. Pedagangnya sedang sibuk membuat, jadi mereka tak begitu memperhatikan kehadiran keduanya.

“Beli enan aja, Nan. Soalnya kita makan di sini. Terus beli yang oncom sama kinca aja, biar kerasa surabinya.”

Hanan tergelak mendengar itu. “Boleh, tiga-tiga kalau gitu, ya,” ucapnya sebelum mendekati pedagangnya untuk memesan.

Mereka sekarang sudah duduk manis di sana. Hanan sedikit menyandarkan badannya ke meja. Tubuhnya baru kerasa pegal sekarang.

Hanan menghembuskan napasnya seraya merapihkan rambut dengan tangan. Elina cuma memainkan jarinya, tiba-tiba merasa canggung lagi.

“Nan, interview-nya kemarin gimana?”

Hanan menoleh. “Aku ngerasanya lancar, sih. Cuma baru dikabarin hari kerja nanti.”

“Apa emang, Nan?”

“Staff gudang gitu,” balas Hanan.

Elina mengangguk. “Semoga diterima kalau gitu.”

Hanan cuma tersenyum menanggapi itu.


“Rame, ya,” komentar Hanan begitu memasuki area rumah makan itu.

“Malming, sih,” balas Elina. “Tapi ini masih sore, deng.”

Hanan terkekeh. “Mau coba mesin capitnya, 'kan?”

Elina mengangguk. “Iyaa. Ayo beli koinnya dulu.”

Hanan hanya mengikuti langkah Elina. Warmindo ini cukup unik dengan keberadaan mesin capit berisi mie yang jika didapatkan bisa mereka makan di sini.

Namun, melihat jajaran berbagai mie instan yang disusun tinggi. Hanan jadi lebih tertarik untuk memilih langsung saja daripada bermain dulu.

Jadi, laki-laki itu hanya mengikuti Elina. Ikut antusias mengamati bagaimana Elina bermain. Hingga memainkan koin terakhir milik perempuan itu yang untungnya ia berhasil mengambil salah satunya.

“Dapet dua ... mau makan yang ini aja?” tanya Elina.

“Itu, 'kan, punya kamu. Aku beli aja.”

“Ish gak papa. Kamu yang bayar pendamping mienya.”

Hanan akhirnya mau tidak mau setuju. Dua orang yang belum lama ini lulus sekolah itu kini sudah duduk berhadapan. Menunggu mie mereka selesai dibuat.

“Oh iya, Lin, sekarang kerjanya di mana?” tanya Hanan, memulai percakapan.

“Tempatnya kayak gudang dari perusahaannya gitu. Tapi aku masuk ke bagian QC,” balas Elina.

“Baju kah?”

“Macem-macem, sih. Yang bisa dipake sama badan.”

Hanan mengangguk paham. Laki-laki mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Bingung harus bertanya apa lagi.

“Aku lega, Nan,” ucap Elina membuat Hanan kembali menatapnya lagi.

“Lega?”

“Iya. Aku lega karena kamu masih mau dengerin aku,” ucap Elina. “Padahal aku sempat ngehindar agak lama. Maaf, ya, aku jadinya terkesan dateng tiap butuh aja.”

Hanan menggeleng dengan cepat. “Aku gak pernah mikir kayak gitu. Aku cuma bingung aja kenapa kamu tiba-tiba ngehindar.”

Elina memainkan jarinya. Sebenarnya agak ragu mengungkapkan apa alasannya. Ia takut merusak pertemuan mereka di hari ini.

“Tapi aku lega soalnya lihat update-an kamu yang kelihatan asik sama temen-temen kamu. Jadi, aku gak mau desak. Aku mikirnya kamu mulai enjoy sama kehidupan kamu yang sekarang. Gak seharusnya aku maksa supaya kita tetap jalan berkomunikasi,” sambung Hanan.

Perempuan kelahiran Desember itu lantas menatapnya. “Kamu serius mikir kayak gitu?”

“Iya.”

Bibir Elina kini tertekuk ke bawah. Entah disadari atau tidak oleh perempuan itu.

“Kamu baik banget ....”

Hanan menggeleng. Elina baru akan berucap lagi, tapi mie mereka sudah diantarkan. Hal itu membuat bibir Elina kembali terkatup.

Paham kalau suasana akan semakin berubah jika mereka meneruskan pembicaraan ini. Hanan mendekatkan mangkuk yang ia yakini milik Elina dilihat dari pendamping yang perempuan itu pilih tadi.

“Makan dulu, Lin. Jaga-jaga kalau nanti obrolan kita jadi sedih, kita ada tenaga buat nangis,” ucap Hanan diakhiri dengan cengiran khasnya. Elina mengerucutkan bibirnya, tapi tetap menuruti apa kata laki-laki itu.


“Aku kepikiran ngehindar itu waktu kamu jadi panitia pensi,” ucap Elina. Sekarang mereka sedang duduk di pinggir jalan. Entah apa motivasi Hanan memberhentikan motornya di sana.

“Terus, 'kan, kamu mulai aktif di SMA. Jadi, aku gak mau ganggu kamu. Kamu juga masih tahu waktu kalau nge-chat, gak kayak aku.”

Elina memainkan jarinya, tidak berani menatap Hanan. Sedangkan lawan bicaranya belum bersuara lagi, dia hanya menatap langit dengan menerawang.

“Sekolah di sana tanpa ada yang aku kenal sebelumnya, ngebuat aku malah masang topeng, Nan. Mereka tahu aku nulis, terus mereka puji aku karena aku bisa bawain tulisan sedih tanpa ngalamin. Padahal semua tulisanku ... inspirasinya, ya, diri sendiri.”

Elina mengambil napas. “Bener kata kamu tadi. Aku jadi lebih enjoy dan ngerasa lebih baik kalau gak ada yang tahu soal masalahku. Tapi aku gak bisa ngejalanin semua itu dengan maksimal karena ada kamu.”

“Karena aku tahu?”

“Karena kamu tahu,” ulang Elina. “Kamu mungkin lebih tahu aku dari orang tuaku sendiri, Nan. Aku gak bisa pakai topeng kalau sama kamu. Aku juga gak mau ngehambat kamu yang mulai berproses. Jadi, aku pikir kita lebih baik jalan masing-masing aja.”

Elina menyisir rambutnya yang digerai ke belakang dengan tangannya. “Tapi aku gagal nahan diri buat gak nyari tahu soal kamu. Setiap hari aku buka medsos cuma buat lihat kamu ada update atau enggak.”

Hanan menghembuskan napasnya. Sedikit tidak menyangka kalau alasan Elina seperti ini, tapi ia mencoba mengerti.

“Sama. Aku juga nunggu postingan kamu biar tahu gimana kamu dari hari ke hari. Agak lucu juga sebenarnya, aku ini dulu tahu kabar kamu gimana bahkan sebelum kamu bilang ke aku. Tapi malah ngandelin medsos cuma biar tahu kamu baik-baik aja,” balas Hanan.

Elina melirik pada Hanan sekilas. “Kamu marah, ya?”

Hanan tersenyum tipis kemudian balas menatap. “Biasa aja, ah. Namanya juga hidup, 'kan, pasti ada fase kayak gitunya. Mungkin kamu bosen cerita sama aku dan nyaman sama temen-temen baru di SMA. Aku sempet kesel, tapi buat apa coba? Yang penting, 'kan, kamunya nyaman dan terus berkembang.”

Hanan kembali melihat wajah Elina yang merengut. “Percaya, deh, aku gak marah. Cuma sempet kesel aja dan mikir aneh-aneh takutnya aku yang salah.”

Elina langsung menggeleng. “Enggak, kamu gak salah. Aku yang salah.”

“Udah, ah, itu cukup wajar terjadi di pertemanan, kok, Lin. Terlebih kita berasa temenan virtual semenjak beda sekolah.”

“Tetep aja, aku minta maaf udah bersikap kayak gitu, Nan.”

“Ya udah, aku juga minta maaf karena malah ikut pasif dan ngebuat kita kayak lost contact.”

“Salaman?” ucap Elina sambil mengajak Hanan untuk berjabat tangan.

“Salaman,” balas Hanan disertai kekehan kecil.

Mereka terdiam cukup lama. Sama-sama memandangi langit yang tidak ramai oleh bintang hari ini.

“Elina,” panggil Hanan membuat yang mempunyai nama pantas menoleh padanya.

“Sehabis ini, saling cerita itu bukan tuntutan yang harus kita penuhi dalam pertemanan ini. Jadi, kamu bebas mau lari ke mana pun tanpa ngerasa terhambat sama pertemanan kita.”

Hanan kembali melihat pada Elina. Tangan kirinya bergerak untuk mengusak rambut Elina pelan.

“Tolong diingat aja. Aku gak jauh, aku gak akan pergi ke mana-mana.”