kabar – 3
Elina terbiasa ada di tempat ramai, sempat menjadi anggota OSIS dan bekerja di tempat yang pegawainya mencapai puluhan tak membuatnya merasa asing. Elina mampu bergaul, tapi tak mampu untuk membuka diri. Jadi, apa yang ia tunjukkan pada yang lain tak benar-benar nyata.
Kecuali pada Hanan.
Tak ada yang tahu kalau Elina pindah karena diskriminasi dari keluarganya selain Hanan. Tak ada yang tahu apa alasan Elina menunda kuliahnya selain Hanan. Hanan mungkin terlalu banyak tahu tentangnya, tapi Elina tak bisa berhenti untuk tak bergantung pada laki-laki itu bahkan setelah mereka bekerja di daerah yang berbeda sekalipun.
Elina memang terbiasa dengan keramaian, tapi tidak jika keramaian itu terjadi di rumah. Elina merasa asing dan tertekan disaat yang sama.
Perempuan itu meremas ujung hoodie yang ia kenakan. Setelah menahan diri selama acara berlangsung, kini ia ditahan untuk tak pulang lebih dulu. Elina tidak terlalu bermasalah saat acara tadi karena semua orang tentu fokus pada hal itu. Namun, jika sudah selesai seperti ini, perasaannya menjadi tidak enak.
“Elina, kenapa gak kuliah?”
“Mau kerja dulu anaknya, padahal udah ada tabungan kalau mau kuliah tahun ini.”
Kedua tangan Elina saling meremas mendengar jawaban yang ibunya suarakan. Lidahnya menjadi kelu dan tanpa sadar dia menatap ke arah kakaknya yang sama sekali tak tersinggung dengan topik ini.
“Loh? Sayang sekali, Elina. Awas, loh, malah keasikan kerja.”
“Biarin aja, aku udah gak bisa ngasih tahu dia. Terserah dia mau jadi apa.”
Cukup.
“Enggak, Tante. Aku mau kuliah tahun ini, aku juga mau pakai tabungannya. Tapi, mama malah pakai tabungannya buat biayain nikah orang ini.”
Elina menunjuk pada Haikal tanpa keraguan.
“Dek, apa sih?!”
“Sekarang aku udah kerja, tapi uangku masih diminta buat biayain dia. Dia yang nikah pake uang kuliahku, masih minta uangku buat biayain hidupnya. Terus nanti playing victim, kayak apa yang mama bilang barusan ke kalian.”
“Eli—”
“Kak Haikal bahkan belum kerja sampai sekarang, tapi kenapa semuanya harus dibuat seolah aku yang salah? Aku udah biayain pernikahan dia, tapi kenapa masih aku yang harus dipojokin?”
Elina menatap pada ibunya dengan napas yang memburu. “Ma, aku juga anak mama. Sebentar aja akunya dikasih apresiasi, gak bisa, ya? Aku udah berusaha buat gak jadi beban kalian lagi.”
Hening. Suasana yang menjadi diam seketika membuat Elina tak bisa untuk tak menahan kakinya untuk tak pergi dari sana. masa bodoh dengan namanya yang diteriakkan secara bergantian, Elina tak ingin ada di sana.
“Kenapa kamu mau menulis?” tanya Hanan. Laki-laki itu tadi datang tanpa mengajukan pertanyaan sama sekali. Membawa Elina menjauh dari sana, membiarkannya melepaskan perasaan sedihnya.
Ketika tangisan Elina mulai mereda, barulah laki-laki itu mengajukan pertanyaan tadi.
“N-nulis?”
Hanan mengangguk seraya menghapus jejak air matanya. “Kamu, 'kan, udah banyak menulis cerita. Kenapa kamu mau buat semua itu?”
Ada jeda sebelum Elina menjawab, “Aku suka bercerita, tapi gak ada yang mendengarkan sebelum kamu datang. Jadi, aku menulis.”
Elina mulai menulis ketika temannya menyinggung tentang salah satu aplikasi dengan warna jingga yang sudah menjadi khasnya. Itu sekitar lima tahun yang lalu, ketika rok sekolah yang Elina kenakan baru berwarna biru.
Awalnya ia merasa antusias dalam menulis. Menyalurkan sembari isi pikiran dan perasaannya di sana. Kesedihannya, kesenangan, segalanya. Ia kemas dengan tokoh-tokoh baru tanpa memperdulikan tanggapan yang ia dapatkan.
Namun, ketika satu ceritanya mulai mendapat cukup banyak tanggapan. Elina tanpa sadar menjadi butuh hal itu hingga ia kewalahan.
Tanggapan dari pembacanya berhasil mengalihkan pikirannya dari apa yang terjadi di rumah. Lama-lama, ia menulis sebagai pelarian hingga ia bertemu dengan Hanan di kelas 8.
Elina mulai mengurangi porsi menulisnya karena sudah menemukan teman cerita yang nyata.
Hanan mengangguk paham. “Sekarang, mau cerita?”
Elina terdiam sebelum memberikan gelengan pada Hanan. “Enggak dulu, deh. Kamu juga kayaknya udah bisa nebak aku kenapa. Sekarang ayo cari buku aja.”
“Ya udah, ayo naik ke motor lagi,” tanya Hanan tanpa ingin memaksa.
Elina menuruti apa kata Hanan. Naik ke motor laki-laki itu setelah pemiliknya. Elina memegang ujung jaket yang Hanan kenakan, kepalanya maju ke depan, dagunya nyaris mengenai pundak yang lebih tua beberapa bulan darinya itu.
“Hanan, boleh, ya?”
Hanan awalnya diam, tapi ia mulai paham apa maksud Elina ketika perempuan itu memainkan bagian jaket yang ia pegang. Hanan mengangguk.
“Boleh.”
Selanjutnya, tangan Elina melingkari pinggang Hanan. Dagunya ia tumpukan pada pundak laki-laki itu.
“Hanan, makasih ... karena selalu ada.”
Hanan menyalakan mesin motornya tanpa kata. Dia mengelus sebentar tangan Elina yang ada di perutnya. “Berangkat, ya.”
“Iyaa.”