kabar – 4
Hanan bukan tipe orang yang mau melibatkan dirinya dalam setiap hal. Terlebih semenjak perceraian kedua orang tuanya terjadi. Namun, ketika keinginan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dirinya ada di keluarga yang perlu usaha lebih untuk mewujudkan keinginannya. Hanan berusaha membuat dirinya sendiri aktif.
Ikut organisasi, aktif berinteraksi ketika di kelas, merubah dirinya menjadi sedikit menyenangkan, dan menjual sesuatu sebagai tambahan. Harusnya, jika mau Hanan bisa mengejar kuliah tahun ini, tapi mungkin itu bisa membuatnya kewalahan. Jadi, Hanan memutuskan untuk menundanya.
Hanan terlalu fokus dengan sifatnya, hingga sedikit abai dengan pembelajaran yang ada. Itu yang membuatnya kewalahan. Hanan kurang percaya diri dengan kemampuannya yang sekarang.
“Hanan cuma bisa bawa ini,” ucap Hanan terdengar canggung sambil menyerahkan satu kantong plastik hitam pada ibunya.
“Gak papa, makasih banyak, Hanan. Ayo masuk dulu.”
Langkah Hanan tertahan, tak memberi tanggapan atas ajakan ibunya.
“Nan?”
“Dia ... ada?” tanya Hanan, padahal jawabannya sudah jelas dengan keberadaan sandal dan motor di depan rumah baru ibunya.
“Ada.”
“Hanan gak mampir dulu, ya, Bu. Maaf,” ucap Hanan dan ibunya tak membalas lagi. Ia mengangguk walau berat hati. Setidaknya, Hanan sudah sudi untuk menemuinya.
Hanan memberi salam pada ibunya. Ketika punggung tangan perempuan itu menjauh dari keningnya, Hanan menahan agar tangan mereka tetap saling menggenggam.
“Waktu ibu pergi, Hanan gak nangis. Jadi, pas Hanan pergi ibu juga jangan nangis, oke?”
Ibunya menggeleng. “Memang Hanan mau ke mana?”
“Maksudnya kalau Hanan balik ke Cimahi, jangan sedih-sedih lagi, ya. Ibu harusnya seneng sama rumah ibu yang sekarang. Ibu ninggalin Hanan sama bapak, karena gak seneng di sana, 'kan?”
“Ih, Hanan!” Rengekkan itu berasal dari Elina yang pipinya baru saja dicolek oleh jari Hanan yang sengaja ia lumuri dengan es krim.
Hanan tertawa kecil. “Maaf, ini pake ini.”
Hanan menyerahkan bungkus tisu yang tersisa sedikit lagi. Bungkus yang selalu ada dalam saku jaketnya.
Elina menerimanya dan membersihkan pipinya. “Tumben kamu nyimpen ginian, Nan.”
“Iya, kemarin lagi butuh soalnya.”
“Pilek?”
“Gitu, deh.”
Elina tak membalas lagi, perempuan itu membuang bekas tisunya ke tong sampah yang ada di dekat mereka lalu kembali menikmati es krim yang ada di tangannya. Keduanya kini sama-sama memandang ke arah depan.
“Dipikir lucu juga, ya, Lin?”
Elina menoleh dengan wajah bingungnya karena ucapan Hanan yang tiba-tiba itu. “Apa?”
“Ya, lucu. Waktu kecil kita mengharapnya bisa jadi orang gede. Tapi, pas udah gede, kita malah merasa kecil.”
Hanan mengaduk es krimnya dengan asal. “Waktu kecil kita berharap banyak,terlebih soal mimpi-mimpi kita. Gak ada yang salah sama mimpi. Tapi, ketika tahu kalau gak semua mimpi bisa diraih dengan mudah, sedihnya gak bisa bohong.”
Elina ikut memainkan sendok es krim miliknya. “Tapi, bukannya harus begitu? Kalau kita punya mimpi dan harapan, secara gak langsung kita punya tujuan yang jadi alasan buat bertahan di dunia ini.”
“Iya, memang harus begitu. Aku ngomongin ini biar ada topik obrolan aja,” balas Hanan diakhiri tawa khasnya. Elina ikut tertawa.
“Serius banget,” balas Elina.
“Ya masa aku bahas apa yang dipikirin kecoa kalau sama kita disiram pakai air?”
Elina tergelak seketika. Hanan yang melihat itu mengukir sebuah senyuman lagi.
“Lin, boleh gak kalau rambutnya aku pegang?”
“Eh?” Elina menjadi salah tingkah. Dia mengangguk dengan kaku dan berkata, “Bo-boleh, kok.”
Tangan Hanan yang tak memegang es krim bergerak untuk menyampirkan rambut Elina ke telinganya. Itu sukses membuat Elina membeku seketika padahal es krimnya sudah tak sedingin tadi lagi.
Hanan menatap Elina dan senyum itu muncul lagi. Wajah mereka yang cukup dekat, membuat Hanan sadar akan keberadaan rona merah di pipinya.
“Lin, makasih banyak karena udah bertahan sampai sekarang, ya? You're good enough. Jadi, jatah mikir buruknya mulai dikurangi, oke?”
Elina mengangguk.
“Hanan—”
“Jaga diri juga jangan lupa. Gak selamanya kita bisa duduk sedekat ini, Lin. Entah kamu atau aku yang pergi nanti, yang jelas aku tahu kalau aku pernah kenal sama orang sekeren ini,” ucap Hanan sambil menatap Elina dengan lekat.
Elina terdiam. Keduanya kini saling menatap.
“Aku bersyukur bisa kenal orang sebaik kamu, Nan. Jangan ke mana-mana, ya?”