Soonyoung gak tahu harus bersikap kayak gimana ketika Jihoon udah masuk ke kamarnya sama temen-temennya. Mereka bertiga sekarang malah ninggalin Soonyoung di sini sendirian dengan alasan nyari sarapan dan dia bakal dibawain nanti.

tanya cowok yang udah dia anggap adiknya sendiri itu ke mana, dia beneran memanfaatkan waktunya di sini buat jalan-jalan.

Sebenarnya, Soonyoung gak kau ketemu Jihoon. Dia malu karena secara gak sengaja udah nyindir Jihoon yang bareng sama Eunha terus. Yang secara gak langsung juga nunjukkin kalau dia gak suka itu.

Namun, Jihoon tetap memaksanya supaya mereka bisa bicara.

Sekarang, cowok yang pakai kaos hitam itu tetap berdiri di dekat pintu yang udah dia tutup. Bersebrangan sama Soonyoung yang duduk di tepi ranjang.

“Soonyoung,” panggil Jihoon pelan, tapi itu tetap bisa menghadirkan efek tersendiri di badan Soonyoung yang entah sejak kapan perlu ngerepotin dirinya buat cemburu sama cowok ini.

Soonyoung mendongak, dia mau lihat wajah Jihoon. Berusaha mengabaikan gimana gelisahnya dirinya, cowok Gemini itu membalas, “Kenapa?”

“Gue boleh duduk di situ?”

Satu anggukan diberi, banyak langkah yang Jihoon ambil buat sampai di sebelah Soonyoung. Ikut duduk manis di sana dengan jantung yang sama-sama gak karuan.

Jihoon gak mau mereka menghabiskan waktu dengan diam lama-lama. Namun, dia juga kebingungan harus gimana. Pada akhirnya, cowok itu malah berkata, “Soon, lo pernah denger soal 'love is crazy' gak?”

Soonyoung mengerjap dan mengangguk.

“Gokil gak, sih, ketika satu manusia cuma mau menyampaikan perasaannya, tapi dia malah dapetin julukan macem-macem? Dari bucin sampai bulol, disebutin semua.”

Sejujurnya, Soonyoung kebingungan kenapa Jihoon datang membawa topik ini. Jadi, mulutnya menjadi kaku karena gak tahu harus bilang apa.

Jihoon bisa menangkap itu. Soonyoung yang bawel bisa berubah jadi anteng ketika bareng Jihoon karena obrolan yang lebih muda bawa selalu perlu dicerna lebih lama oleh Soonyoung.

“Udah jelas sayang itu pasti ada batasnya, tapi tetep aja beberapa orang maksa buat ngelewatin batas itu. Bertindak layaknya budak, padahal digaji cuma sama kasih sayang. Kadang malah dibales sama yang nyakitin, tapi gilanya masih jadi orang yang paling khawatir.”

“Lo beneran nganggep cinta itu gila, ya?” Akhirnya, Soonyoung membalas.

Jihoon ketawa, kedengeran renyah tapi ngebingungin buat Soonyoung. Pertanyaannya gak cukup lucu buat diketawain sama orang semacam Jihoon.

“Bukan nganggep, sih. Lebih ke mikir, kayaknya cinta emang gila. Orang bisa jadi yang paling berkorban karena cinta, orang bisa ngasih hampir seluruh waktunya karena cinta, dan orang-orang pun kadang maafin kesalahan besar karena cinta,” balas Jihoon.

“Terus menurut gue, yang lebih gilanya adalah cinta bisa bikin satu orang mengasihi orang lain lebih dari dirinya sendiri. We make a fool of ourselves when we're in love. Being in love makes us crazy.

Jihoon menatap Soonyoung yang menatap jari-jarinya sendiri. Mungkin Soonyoung gugup karena dia gak berhenti memainkan jarinya.

“Soonyoung,” panggil Jihoon dan cowok itu menoleh dengan cepat.

“Tadi gue bilang kalau being in love makes us crazy,” ucap Jihoon dengan menggantung.

Do you want to go crazy with me?