Hoshi membenarkan topinya setelah berhasil mendapatkan sebuah kentang tornado. Ia mencari keberadaan Woozi dan mendapati temannya itu masih mengantri.
Di pasar malam ini, cuacanya cukup mendukung. Hoshi sendiri sudah melepaskan kemejanya dan membiarkan benda itu menggantung di lehernya.
Dia mencicipi makanan yang baru saja ia beli. Memutuskan untuk tetap berdiri di sana sembari menunggu Woozi. Saking asiknya menikmati kentang yang ada di tangannya, Hoshi tidak sigap ketika seorang perempuan yang tengah berlari sambil melihat ke belakang itu akan menabraknya.
“Duh! Hati-hati, dong!” protes Hoshi sembari berbalik.
Perempuan dengan napas terengah itu menundukkan kepalanya, berusaha menetralkan napasnya lagi.
“Ma-maaf ... aku gak bermaksud.”
Hoshi mengerjapkan matanya begitu melihat penampilan perempuan itu. Apa yang Hoshi pakai, hampir semuanya dipakai juga oleh perempuan itu. Mulai dari topi berwarna hitam, kemeja dengan warna yang hampir sana, dalaman berwarna putih, celana jeans, bahkan kaki mereka pun ditutupi oleh sepatu putih.
Heran karena laki-laki di depannya tak berbicara lagi, ia mendongakkan kepalanya. Ketika mata keduanya bertemu, ada rasa tersengat di lengan kanan atas masing-masing. Tempat di mana tato yang baru keduanya dapatkan semalam berada.
Mereka refleks memegangi lengan masing-masing. Mata keduanya membulat karena gerakan tubuh yang kompak barusan.
“Kamu ... Sana—”
“Ssst, ayo pindah. Jangan bicara di sini!” potong Sana sambil menarik tangan Hoshi. Laki-laki Gemini itu tak sempat membalas, membiarkan dirinya mengikuti Sana ke mana pun perempuan itu mau.
Kentang tornado di tangan Hoshi tak begitu menarik lagi ketika ia sudah memastikan kalau perempuan ini adalah Sana. Tadi ia sempat mengabari Woozi untuk tak menunggunya karena Sana membawanya ke sebuah restoran dan kini mereka duduk di private room.
Topi dan masker yang semula sangat mereka butuhkan jika ada di luar, kini sudah tak begitu dibutuhkan. Setidaknya selama mereka masih ada di sini.
Hoshi melepaskan kentang tornado di tangannya, tak peduli kalau makanan itu akan terjatuh. Sana yang melihatnya malah meringis karena masih banyak tersisa.
“Ini beneran Sana Twice? Bukan hasil operasi biar mirip dia, 'kan?” tanya Hoshi masih dengan raut tak percayanya.
“Ini beneran aku, Hosh—”
“Soonyoung.”
“Hah?”
“Kita lagi gak kerja, jadi aku lebih nyaman dipanggil pakai nama asliku. Terus gak usah formal-formal, karena kita bisa dibilang udah kenal cukup lama,” papar Hoshi diakhiri dengan sebuah tawa yang canggung.
Sana mengangguk paham. “Aku beneran Sana, kok. Bukan seseorang yang nyamar jadi dia.”
Hoshi mengusap leher belakangnya. “Aneh ... kenapa baru sekarang?”
“Aku juga bingung,” ucap Sana. “Padahal kita pernah interview bareng, 'kan? Terus beberapa kali juga ketemu karena jadwal comeback yang hampir selalu bareng, belum kalau ada acara akhir tahun.”
“Aku boleh lihat tatonya? Siapa tahu tadi kayak gitu karena soulmate yang asli ada di sekitar kita?*
Sana meringis, tadi saat menarik Hoshi ia juga sempat berpikir seperti itu. Namun, ketika menyadari kalau tatonya adalah harimau dan orang yang di hadapannya adalah Hoshi. Sosok yang sering menyangkut pautkan dirinya dengan hewan itu membuat Sana tetap menarik Hoshi hingga ke tempat ini.
“Tatoku harimau.” Sana menaikkan sebelah lengan kemejanya. “Sama kayak punya kamu?”
Hoshi menatap gambar harimau yang tengah terduduk itu lekat sebelum mengangguk. Ia melepaskan kemeja yang menggantung dan memindahkannya pada pangkuannya. Hoshi sedikit menyingkap bagian atas kaos tanpa lengan yang ia gunakan guna memperlihatkan tatonya yang ada di pundak kirinya.
“Sama.”
Sana mengerjapkan matanya melihat tato itu, sama persis dengan yang ada di lengannya. Matanya kemudian mengikuti gerak jari Hoshi yang berhenti di lengan kanannya, menunjuk pada tato hamster di sana.
“Ini juga sama?”
“Sama,” ucap Sana. Ia hendak sedikit menyingkap atasanya menunjukkan tato yang sama yang berada di perutnya. Namun, Hoshi langsung menghentikannya.
“Gak papa, gak usah kasih aku lihat kalau di situ. Aku percaya.”
Hoshi kembali memakai kemejanya. Agak canggung memakai atasan tanpa lengan dengan seorang perempuan di hadapannya.
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Hoshi menatap pada Sana penuh arti.
“Aku boleh minta kontak kamu? Kita mau gak mau harus sering berkomunikasi mulai sekarang.”
Hoshi mengambil jeda sejenak. Merasa malu dengan kalimat yang selanjutnya akan ia katakan.
“K-kita soulmate sekarang. Kita bisa mencoba untuk menerima hubungan ini secara bersama-sama.”