Zoa as Amy.
Sana as Anna.
Hoshi as Edward.
Note: ini merupakan alternative story. bisa dianggap sebagai bagian dari before 20.
“Saya belum nentuin, Kak,” jawab Amy ketika dirinya ditanya oleh seorang perempuan yang bertugas mempromosikan tempat les mereka ke sekolahnya.
“Kamu minatnya di bidang apa?”
“Banyak ...,” jawab Amy menggantung.
“Banyak?”
“Iya, Kak. Aku udah coba beberapa. Di bidang seni aku pernah jadi anggota teater dan tari, aku pernah ikut taekwondo, aku menulis, aku sering bantu mami bikin kue. Jadi ... aku masih bingung.”
Ada keheningan yang tercipta setelah Amy berucap panjang lebar.
“Kalau di mata pelajaran?”
“Amy pinter, Kak. Public speaking-nya juga bagus,” sahut Richard yang duduk di belakangnya sebelum Amy sempat membalas.
“Betul?”
Teman sekelas Amy kompak membalas, “Iya, Kak!”
Amy tidak memperkirakan teman-temannya akan menjawab. Perempuan itu hanya tersenyum canggung menatap perempuan di hadapannya.
“Wah hebat. Lebih baik cepat diputuskan mau bidang apa, ya? Supaya kamu gak kewalahan dengan semua yang udah kamu pelajari.”
Ucapan kakak tadi cukup membekas dalam kepala Amy. Dalam perjalanan pulangnya, Amy terus memikirkan itu.
“Gak usah terlalu dipikirin, kita masih kelas 10,” ucap Johny. Amy hampir lupa kalau laki-laki itu duduk di sebelahnya.
Amy menghela napasnya. “Iya.”
Johny tersenyum tipis. “Gue turun duluan, awas jangan ngelamun. Nanti kelewat.”
“Iya, sampai jumpa besok, Johny!”
Laki-laki itu cuma mengangguk sambil melambaikan tangannya. Lalu ikut turun bersama orang lain yang juga turun di halte ini.
Amy menatap ke arah jendela. Halte berikutnya adalah tujuannya.
Ketika turun, awalnya Amy biasa saja. Namun, melihat jalanan yang ia pijaki membuatnya menatap sekitar dengan perasaan was-was. Bahunya menurun ketika dugaannya terbukti benar.
“Aduh ... jangan lagi,” celetuk Amy. Padahal ia sudah turun di halte yang biasa, tadi juga bukan hanya dirinya. Namun, kenapa Amy malah sampai ke tempat yang cukup asing untuknya?
“Harusnya aku gak naik bus lagi,” sambungnya. Amy kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentak-hentakkan akibat kesal karena kejadian seperti ini terulang lagi seperti waktu itu.
Padahal Amy hanya ingin segera pulang dengan naik bus. Namun, sekali lagi bus malah membawanya pulang dengan waktu yang berbeda dari seharusnya.
Melihat tempat ia diturunkan bukanlah area perumahannya, membuat Amy menduga kalau saat ini adalah saat di mana Edward belum membangun rumah mereka. Amy berhenti sejenak untuk memperhatikan sekitarnya.
“Ini ... yang mau ke rumah nenek bukan, sih?” gumamnya. Jalanannya cukup asing, tapi Amy merasa kenal. Bermodal kenekatan, Amy memanfaatkan ingatannya berjalan sesuai dengan arah yang biasa ia lalui jika akan ke rumah neneknya.
Langkah Amy terhenti tak jauh dari rumah yang di cat dengan warna coklat muda. Perempuan itu berhenti karena melihat sosok Anna yang menggunakan seragam turun dari boncengan sepeda seseorang yang tak Amy kenali.
Anna tampak masih sangat muda. Ibunya itu tampil dengan poni rata, rambut cokelat yang sedikit bergelombang, juga bando berwarna putih. Seragamnya juga dibalut sebuah jaket berwarna ungu pucat yang tampak kebesaran di tubuhnya.
Amy membasahi bibir bawahnya. “Jadi, sekarang pas mereka masih sekolah?”
“Papi sama mami cuma beda setahun ... kemungkinan papi juga masih sekolah.”
Amy tetap diam di balik pohon itu. Memperhatikan interaksi dua orang di sana, walau tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Amy menahan napas karena Anna tampak sedih selepas laki-laki itu pergi. “Mami kenapa? Eh, tadi itu cowok yang sama kayak waktu aku nyasar pertama kali, 'kan? Kalau iya, mami pacarannya lama banget, dong?”
Amy sibuk dengan teori yang ada dalam pikirannya hingga tak sadar kalau Anna sudah ada di sebelahnya. Anna sadar kalau ada yang memperhatikannya sedari tadi. Lalu, ia berhasil menemukan seorang yang tampaknya seumuran dengannya.
“Hei,” tegur Anna membuat Amy terlonjak seketika.
Amy mengambil langkah mundur, menatap Anna kelewat canggung. “H-hai.”
Anna terdiam, mengamati dengan baik wajah orang di depannya. Ia memiringkan kepalanya begitu mata mereka bertemu.
Orang ini kok mirip aku, ya? batin Anna.
Jika diperhatikan secara saksama, penampilan mereka saat ini memang terbilang mirip. Sama-sama tampil dengan rambut digerai dan poni yang sudah menyentuh alis. Yang membedakan hanyalah seragam keduanya.
Amy dengan cepat menutupi nama yang terpampang di dadanya dengan jaket yang ia kenakan. Pura-pura bertingkah seolah kedinginan di sore hari yang masih terasa panas ini.
Ia berharap, Anna tak sempat melihat namanya.
“Uhm, kamu baru pindah ke perumahan ini, ya? Aku baru pertama kali lihat kamu.”
Amy berkedip beberapa kali. “Ah ... enggak, aku ... aku habis kerja kelompok! Iya, hehe, kerja kelompok.”
“Di perumahan ini?”
Amy mengangguk.
“Aku baru pertama kali lihat seragam kamu,” ucap Anna. “Jadi, aku kira kamu baru pindah. Maaf, ya.”
Amy tersenyum canggung. “Iya, gak papa.”
Amy memainkan tali tasnya dengan sepatu yang ia ketuk-ketukkan ke tanah. Dia menatap Anna dengan ragu. “Kamu tadi kenapa sedih?”
Anna mengangkat kedua alisnya. Lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku sedih?”
“Iya, sehabis cowok tadi pergi. Kamu kayak sedih.”
Ini memang sedikit aneh. Namun, Anna sedang butuh teman bicara saat ini. “Ngobrol di bangku rumahku, aja, yuk?
Amy mengerjap lalu mengangguk. “ Bo-boleh?”
“Boleh! Kan, aku yang ajak. Aku juga kemarin baru buat biskuit, mungkin kamu mau nyoba,” jawabnya.
Anna menarik tangan Amy. “Ayo!”
Amy mau tak mau mengikutinya.
Sekarang, Amy sudah terduduk dengan kaku di bangku yang ada di perkarangan rumah Anna. Sesuai dugaannya, ini memang benar rumah nenek.
Namun, tampaknya rumah ini memang cukup sering direnovasi. Di waktu Amy yang sebenarnya, bangku di depan rumah sudah tidak ada lagi. Rumahnya juga belum ditingkat.
Anna kembali setelah memakai pakaian santainya. Perempuan itu membawa toples biskuit yang sempat ia bicarakan juga dua gelas berisi susu. Anna meletakkannya di tengah-tengah keduanya.
“Ayo, dicoba.”
Amy mengambil satu buah dengan canggung. Kemudian memakan biskuit coklat itu dalam satu gigitan.
Alisnya terangkat setelah menelan itu. Dia menatap Anna dengan antusias. “Enak! Ternyata mami udah jago bikin kue dari dulu, ya,” ucap Amy sebelum memakan sisa kuenya dalam satu suapan.
“Mami?”
Amy melotot ketika sadar dengan apa yang ia ucapkan.
“E-eh maksud aku ini ngingetin aku sama buatan mami aku. Maaf, ya, aku suka ngaco kalau ketemu makanan enak.”
“Oh,” balas Anna diakhiri dengan tawa canggung. “Terima kasih sudah suka buatanku.”
“Semua orang pasti suka, soalnya ini keterlaluan enaknya.”
Anna tersenyum malu. “Jangan berlebihan.”
“Aku jujur, ma—uhm ... maksudnya Anna.”
“Kamu tahu namaku?”
Amy mengerjap, lagi-lagi merutuki mulutnya yang terbiasa jujur ini. Duh, Amy!
“Tadi lihat dari seragamnya. Benar Anna, 'kan?”
“Iya, benar.”
Amy menatap Anna yang menunduk menatap gelas yang ia pegang. Dia cukup jarang melihat masa muda kedua orang tuanya karena mereka sama-sama tak sering mengambil potret masing-masing.
Melihat Anna di masa mudanya, ibunya itu terlihat manis dengan gaya rambut seperti ini. Rambutnya yang panjangnya hingga sepinggang dan berponi. Berbanding terbalik dengan yang sering ia lihat.
Anna tak begitu betha jika rambutnya sepanjang itu, apalagi jika berponi. Entah karena kesibukkan atau ada hal lain yang membuat Anna merubah penampilannya.
“Jadi, tadi kenapa sedih?” tanya Amy, mengembalikan mereka pada tujuan yang membuat ia duduk di sini.
Anna tak langsung membalas. “Soalnya Carel baru bilang kalau besok dia ada turnamen.”
Oh, namanya Carel.
“Kamu sedih karena dia ikut itu?”
Anna menggeleng dengan cepat. “Enggak, aku dukung dia. Itu mimpinya. Aku juga mau nonton dia besok.”
“Lalu?”
“Besok ada lomba masak di Mall ... tadinya aku mau ikut itu.”
Amy terdiam. Mulai memahami apa duduk permasalahannya.
“Kamu mau jadi chef, 'kan?” tanya Amy dengan nada seolah dirinya menebak. Padahal Amy sudah tahu kalau pekerjaan itu yang berhasil Anna raih nantinya.
Anna mengangguk sambil menatapnya. “Iya.”
Amy menatap Anna cukup lekat. “Jadi, kamu mau mentingin mimpi orang lain dibandingkan mimpi sendiri?”
Anna terdiam, ucapan Amy barusan cukup menusuk untuknya. Anna tak harus membalas apa.
Menyadari hal itu, Amy kembali bertanya, “Kamu umur berapa?”
“Desember nanti aku 16 tahun.”
Oke, berarti mami seumuran sama aku.
“Kita seumuran! Kamu tahu gak, sih, kalau di umur kita ini saatnya kita mencoba banyak hal?”
Anna mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mengangguk.
“Nah! Aku pernah denger dari seseorang. Kita ini punya sayap yang gak terlihat, kita perlu memanfaatkan sayap itu buat terbang kemana pun, setinggi apa pun.”
Mami yang pertama kali bilang soal ini ke aku, sambung Amy dalam hati.
Amy menunduk sembari mengayunkan kakinya yang menggantung karena bangkunya cukup tinggi. “Aku udah nyoba banyak hal, tapi sampai sekarang belum tahu mau jadi apa. Tapi mami sama papi tetap dukung aku buat nyoba apa yang aku pengen tahu.”
Amy kembali menatap pada Anna. “Kita perlu mencoba banyak hal sebelum menentukan tujuan. Nah, kamu mumpung udah tahu tujuan kamu apa. Saranku lebih baik kamu menabung buat meraih hal itu. Kayak ikut lomba tadi contohnya.”
“Tapi, Carel—”
“Dia gak akan marah, percaya, deh. Kalian juga belum tentu menikah, 'kan? Kalau dia marah, berarti dia gak layak kamu jadiin tempat pulang.”
Yang layak cuma papi soalnya.
Anna terdiam, dia kembali menunduk. “Carel penting buat aku.”
“Begitu juga mimpi kamu,” balas Amy cepat.
Amy menghela napasnya kala Anna tak kunjung membalas. “Gini, deh, cuma sekali ini aja kamu gak nonton dia. Dia juga pasti gak akan temenin kamu ikut lomba, 'kan? Anggap aja itu fair.”
“Aku gak tahu ... aku merasa perlu dukung Carel.”
Amy mendengus. Mami kok bucin banget? Padahal belum lulus SMA.
“Mendukung gak harus selalu terlihat, kok. Bisa lewat pesan dan sebagainya. Kalau kalian saling sayang, dia juga bakal paham, kok, kalau kamu dukung dia.”
Sebenarnya, Amy malas sekali mengungkapkan kalimat yang seakan mendukung hubungan Anna dengan laki-laki itu. Amy sudah tahu apa alasan mereka berpisah dan laki-laki itu layak dibenci karenanya.
Namun, Amy tak ingin merubah terlalu banyak apa yang seharusnya terjadi.
“Dicoba aja, ya? Sekali ini. Orang mungkin ngasih kesempatan kedua dengan mudah, tapi mimpi gak akan semudah itu.”
Anna tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Amy menatapnya heran. “Kenapa sampai bilang terima kasih?”
“Soalnya kamu udah nyadarin aku sama hal ini. Semoga kamu bisa tahu tujuan kamu secepatnya, ya.”
Amy tersenyum dan mengangguk. “Sama-sama kalau gitu, aku juga sadar hal itu dari orang tuaku.”
“Mereka sering di rumah, ya?”
“Mami yang sering, tapi papi selalu ingat pulang. Mereka selalu punya waktu buat aku.”
“Syukurlah kalau gitu.”
Amy menatap Anna menyelidik. Sekarang raut wajahnya kembali terlihat sedih.
“Oh, iya, orang rumah pada gak ada?”
Anna menggeleng. “Mungkin mereka lagi ajak Cherry jalan-jalan. Kamu mau masuk?”
Amy menggeleng. “Eh, gak perlu. Aku mau pulang aja. Takutnya kemalaman.”
“Oh, iya. Makasih, ya, udah temenin aku ngobrol. Sebentar aku bungkusin kuenya dulu.”
“Gak perlu.”
“Gak papa. Anggap aja ini ucapan terima kasih dari aku. Tolong diterima, ya?”
Anna tak menunggu balasan Amy kala memasukkan biskuit yang ia buat ke dalam plastik yang sebelumnya ia ambil dulu dari rumah. Memberikannya pada Amy disertai dengan senyuman manis.
“Ini, ya.”
“Makasih banyak, aku pamit pulang, ya.”
Anna mengangguk. Namun, kemudian ia tersadar sesuatu.
“Tunggu, nama kamu siapa?”
Namun, pertanyaannya itu tak berhasil didengar oleh Amy. Perempuan itu sudah berlari kecil menjauhi rumahnya.
Anna menghela napasnya, lalu membereskan apa yang sudah ia bawa keluar rumah. Baru ia mengangkatnya sudah ada suara lagi yang menyapa pendengaran.
“Ada tamu, Kak?”
Anna menoleh ke asal suara, ada ibunya dan Cherry yang baru pulang. Adiknya itu membawa sesuatu yang Anna yakini menjadi alasan kenapa mereka pergi tanpa mengajaknya.
Anna menggeleng, mengabaikan pikiran buruknya barusan. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk. “Iya, ada temenku tadi.”
“Lomba besok gimana, Kak? Kamu jadi ikut, 'kan?”
Anna terdiam, berpikir. Ia menatap pada ibunya. “Aku kalau ikut lain kali aja boleh, 'kan, Ma?”
“Ya, boleh aja. Mama gak akan memaksa.”
Anna tersenyum tipis. “Aku besok izin pulang telat, ya. Pulangnya mau lihat Carel ikut turnamen dulu.”
“HP-ku gak bisa dipake,” gerutu Amy sembari berjalan. Ia memasukkan benda itu kembali ke dalam tasnya.
Amy yang berjalan tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya membuat ia menabrak seseorang. Amy membulatkan matanya lalu dengan cepat berkata, “Maaf, aku gak sengaja.”
Orang yang barusan ia tabrak itu langsung menggeleng. “Gak papa.”
Oh, Amy tidak sadar kalau dirinya sudah ada di halte lagi.
Amy mengambil satu biskuit yang Anna bawakan untuknya. Perempuan itu sengaja menyimpannya dalam saku. Amy punya kebiasaan menyimpan makanan dalam saku jaketnya.
Laki-laki itu melirik padanya, merasa diperhatikan Amy balas menatap. “Mau?”
“Eh ... enggak, kok.”
Amy cukup sadar kalau seragamnya ini akan menarik perhatian. Tampaknya sekolah Amy belum ada di tahun ini, jika sudah ada pun mungkin seragamnya bukanlah seragam dengan rompi merah dan rok hitam.
Amy menaikkan kembali resleting jaketnya. Ia mengamati laki-laki yang tampaknya juga menunggu bus datang.
Amy membasahi bibirnya bawahnya, ragu dengan pemikirannya. Masa aku langsung ketemu papi, sih?
“Edward,” panggil Amy, memeriksa apakah dugaannya benar atau tidak.
Laki-laki itu menoleh. “Ya?”
Amy berkedip beberapa kali. Dugaannya sekali lagi benar. Amy benar-benar tidak terpikirkan satu hal pun kenapa ia bisa sampai di masa ini lagi.
Saat itu, 'kan, ia perlu membuat kedua orang tuanya menjadi tak asing jika tak ada dirinya. Kalau sekarang, dia harus apa?
Dengan Anna tadi pun, ia hanya sebatas membicarakan soal mimpi.
“Kamu kenapa panggil saya?” tanya Edward lagi.
“Gak papa, maaf, ya. Tadi sempat baca name tag-nya sekilas, ternyata aku bener.”
Edward hanya mengangguk setelah itu. Bus yang mereka tunggu datang. Sebenarnya Amy tak yakin menaiki bus ini, sekarang ia memutuskan untuk mengikuti Edward secara diam-diam saja.
“Aku boleh duduk di sini?” tanya Amy pada Edward karena kursi sebelahnya masih kosong.
“Silakan.”
Amy tersenyum lalu duduk dan menyamankan dirinya di sana. Ia diam-diam melirik pada Edward yang mengeluarkan buku gambar dari tasnya.
Edward tampak mencari halaman yang kosong, tapi buku itu sudah terisi cukup penuh.
“Harus beli baru,” gumamnya yang masih bisa Amy dengar karena jarak mereka bisa dibilang dekat.
“Aku punya ... mau minta selembar?” tawar Amy yang membuat Edward melihat padanya.
“Gak perlu, terima kasih,” balas Edward.
Amy mengangguk, tak ingin memaksa. Dia kemudian memperhatikan gambar yang terdapat di halaman yang Edward buka. Gambar itu berisi sebuah rumah yang ada dalam sebuah bingkai yang rusak.
Amy mengerjap. “Kenapa bingkainya rusak?”
Edward menunduk, menatap pada gambar yang pertama ia buat di buku ini. “Karena rumahnya udah rusak.”
“Rusak? Ada angin—”
“Bukan. Penghuninya yang ngerusakin,” potong Edward membuat Amy terdiam. Memikirkan maksudnya.
Edward kembali memasukkan bukunya pada tas. Niatnya untuk menggambar dalam perjalanan harus ia urungkan kali ini karena tak ada lagi halaman yang kosong.
“Kenapa penghuninya mau rusak rumah sendiri?”
Astaga, masih nanya aja, batin Edward. Jujur, ia agak sebal karena perempuan itu sok akrab dengannya. Anehnya, Edward tak bisa menolak untuk menjawab.
Ia merasa dekat padahal ini kali pertama mereka bertemu.
“Karena salah satunya memaksa buat membawa penghuni baru buat tinggal bersama. Lalu mengusir yang menemaninya dari awal.”
Amy memainkan jarinya. “Maksudnya, selingkuh, ya? Aku takut salah nyimpulin.”
Edward mengangguk. “Iya.”
“Jahat,” balas Amy.
“Sangat,” sambung Edward.
“Pasti rumahnya jadi gak nyaman. Kadang berantem kecil aja bikin gak betah apa lagi karena itu.”
“Iya, sangat gak nyaman. Penghuni lama yang dipaksa tinggal juga mau ke luar, tapi bingung harus gimana.”
Amy menatapnya dengan heran. “Kenapa bingung? Kalau bikin gak nyaman dan sakit hati lebih baik keluar.”
Edward tak membalas. Dia menatap ke luar jendela. “Kalau memaksa, nanti yang ada semakin rusak.”
Amy terdiam lagi. Berusaha menyambungkan apa yang Edward katakan dengan apa yang ada dalam ingatannya.
Baik Edward atau Evan sama-sama tak betah berada di rumah mereka yang dulu. Mereka juga tidak akrab dengan Candy padahal perempuan itu adik bungsu mereka. Terlebih Evan sering menunjukkan dengan jelas kalau ia tak menyukai dua orang yang kini menghuni rumah itu.
Ah, jadi nenek Catherine itu ... selingkuhan?
Amy meringis tanpa sadar. Hal itu jelas mengundang atensi dari Edward yang mengira kalau perempuan itu kesakitan.
“Kenapa? Pusing?” tanya Edward.
“Gak papa, baru kepikiran sesuatu aja,” balas Amy diakhiri dengan tawa yang canggung.
“Kalau rumahnya rusak, kita bisa memperbaiki, 'kan?”
Edward menggeleng. “Beberapa bisa, beberapa gak bisa.”
“Iya, kalau memang gak bisa berarti harus buat yang baru. Yang lebih baik dan layak dijadikan rumah,” ucap Amy dengan nada cerianya.
“Rumah yang aman buat dijadikan tempat pulang, rumah yang nyaman dijadikan tempat istirahat.”
Edward terdiam, memikirkan perkataan Amy barusan. “Aku mau buat rumah yang kayak gitu nanti. Setidaknya itu alasan yang gak nimbulin kerusakan lagi di rumah yang lama.”
“Kenapa nanti?”
“Aku belum punya apa-apa. Aku cuma murid kelas 11.”
Amy nyaris lupa kalau sekarang kedua ia ada di masa kedua orang tuanya masih berstatus sebagai siswa. Amy menghela napasnya kemudian mengukir senyuman. “Jangan lupa, ya.”
“Lupa apa?”
“Rumah perlu orang-orang yang membuatnya benar-benar menjadi rumah.”
Edward menatap pada Amy. “Aku bisa sendiri.”
“Memang bisa, tapi kamu bakal kesepian. Percaya, deh, ada teman hidup lebih enak.”
“Teman hidup? Pasangan maksud kamu?”
Amy menggeleng. “Bukan cuma pasangan, tapi juga keluarga. Walau nantinya cuma istri sama anak kamu itu udah cukup.”
Edward merasa merinding mendengar itu. Ia rasanya tak ingin membangun sebuah hubungan. Namun, ia tak ingin mengobrol lebih dalam dengan perempuan ini.
Edward menghembuskan napasnya. Lalu membalas, “Ya. Saya bentar lagi turun, boleh miring gak duduknya?”
“Eh?” balas Amy. “Atau juga turun di sini.”
Edward menatapnya heran, tapi malas bertanya. Laki-laki itu tanpa permisi melewati Amy lalu membayar dan berlari kecil ke luar bisa. Setelah kakinya menyapa jalanan, barulah ia mempercepat langkahnya.
Edward berjalan biasa ketika sudah ada di depan rumah yang sering menjadi objek gambarnya. Laki-laki itu menoleh ke belakang, memeriksa apa perempuan tadi mengikutinya atau tidak.
Ia bernapas lega ketika tak mendapati siapa-siapa. Edward melangkah memasuki area rumah yang cukup besar itu.
“Aku pulang,” ucap Edward walau ia yakin itu tak akan dihiraukan.
Kening Edward mengernyit ketika mendapat foto keluarganya yang dipajang di ruang tengah ada di bawah. Ia mendongak, mendapati foto baru ada di sana.
Di foto itu hanya terdapat foto pernikahan antara ayahnya dan istri keduanya. Edward berdecih, ia kembali membawa kakinya keluar dari rumah ini.
Di depan ia mendapati ayahnya yang baru keluar dari mobil. Laki-laki itu baru pulang bekerja.
“Edward, mau ke mana? Ini udah mau mal—”
“Gak usah sok peduli sama aku!” balas Edward sebelum berlari menjauh dari sana.
Ia ingin segera keluar dari rumah itu. Edward sudah tak betah.
Amy yang terhambat oleh penumpang lain yang juga akan turun membuatnya kehilangan jejak Edward. Perempuan itu sudah menunjukkan raut cemberutnya, ia benar-benar tak ada tenaga untuk mencari tahu apa alasannya ada di sini.
Pemikirannya soal tujuan yang tak kunjung ia tentukan padahal sudah banyak mencoba. Lalu tentang dirinya yang ada di masa lalu dan Amy tak tahu harus bagaimana kalau ingin pulang ke masanya.
Amy berjongkok dan di sebelah sebuah pohon. Kemudian menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan lengan yang ia tumpukan pada lututnya.
“Aku mau pulang ....”
Cukup lama Amy berada di sana dengan posisi itu. Ia sudah tak peduli dengan sekitar. Rasanya Amy mau menangis, tapi malu karena ia tahu sesekali ada yang lewat di depannya.
Ia berusaha menahan, tapi air matanya berhasil menembus. Sekarang Amy hanya menahan diri agar tak terisak dan mengundang perhatian.
“Amy?” panggil seseorang membuat Amy spontan menoleh.
“Om Mik!”
Mikhael yang ada di hadapannya bukanlah Mikhael muda. Namun, ini Mikhael yang sama yang sering Amy temui di rumah dan di sekolah, paman Amy yang paling dekat.
Langit juga sudah gelap, tapi Amy tetap bernapas lega karena tampaknya ia sudah kembali ke masa yang seharusnya.
Mikhael menghembuskan napasnya lega. “Di sini kamu. Papi sama mami kamu nyariin tahu. Panik banget mereka kamu malam-malam begini belum pulang ke rumah. Ayo sekarang pulang.”
Amy mengernyit. “Ini, 'kan, belum malam banget, Om.”
“Belum apanya? Ini udah mau tengah malam! Ayo Om anter pulang.”
Amy membeku di tempatnya. Hari ini sungguh membingungkan dan melelahkan untuknya.
Amy tak akan sempat memikirkan lagi soal tujuannya malam ini. Ia hanya ingin segera tidur selepas dapat omelan dari papi dan mami nanti.
maaf untuk semua kesalahan pengetikkan yang ada.