karsalakuna

Sana menghela napasnya, ini sudah tengah hari, tapi kedua orang tuanya belum muncul juga. Sana takut saat mereka datang, Ochi sudah memasuki waktu untuk menjadi mode setengah manusianya.

Perempuan itu menatap layar komputernya, dia tengah mengedit sebuah video seperti biasa. Sana kemudian menyimpannya secara sementara dan bergumam, “Nanti aja, deh, gue gak bisa fokus.”

Sana memutar kursinya untuk mengecek Ochi. Kucing itu tidak terlalu menempeli dirinya hari ini. Sana tersenyum tanpa sadar ketika melihat Ochi yang tertidur dalam keadaan terlentang. Seingatku Sana, jarang kucing yang mau tertidur dengan perut yang ditunjukkan seperti itu.

“Ochi,” panggil Sana iseng. Selanjutnya dia melotot karena Ochi langsung bangun dan menghampirinya. Sana tidak menduga hal itu.

“Meow,” balas Ochi sembari mengusakkan dirinya pada kaki Sana.

“Kenapa sampai bangun segala?”

“Meow.”

“Karena aku yang panggil?” tebak Sana dan kucing dengan corak yang khas itu tampak menyetujui ucapannya.

Sana tersenyum gemas sebelum memindahkan tubuh Ochi ke pangkuannya. Tangan Sana bergerak untuk mengusapi Ochi.

“Ochi, katanya papi sama mami mau ke sini hari ini. Semisal mereka datangnya malam, kalau bisa kamu jangan berubah dulu, ya? Tetap jadi kucing aja. Kalau gak bisa, setidaknya sembunyi. Okay?”

Sana tidak yakin Ochi dalam mode ini bisa mengerti perkataannya atau tidak. Namun, itu tak menghilangkan harapan Sana tentang Ochi yang akan menuruti perkataannya.

“Meow,” balas Ochi lalu menjilati jari Sana yang semula mengelusnya.

“Bener, ya? Janji, loh, kamu. Nanti aku kasih ikan salmon yang banyak, deh, kalau nurut.”

Ochi tak membalas lagi. Kucing itu malah menyamankan dirinya dalam pangkuan Sana sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

“Dasar.”

Ini sudah hampir seminggu semenjak Sana tidak lagi sendirian menempati tempat ini. Sebenarnya tak banyak yang berubah semenjak kedatangan Ochi selain dalam pengeluarannya.

Ochi memerlukan makanan kucing yang khusus. Belum lagi, Sana juga harus menyetok beberapa makanan tambahan yang bisa dinikmati olehnya kala kucing itu berubah.

Sana tidak terlalu sering meninggalkan apartemennya. Pekerjaannya sebagai freelancer membuatnya memilih untuk berkomunikasi secara online dengan para pengguna jasanya. Mungkin hanya Jennie yang berinteraksi secara langsung dengannya, itu pun karena mereka teman semasa sekolah dan tetangga.

Sana merasa enggan pergi keluar dan terlanjur nyaman berada di sini. Ini tempatnya tinggalnya dan Sana akan selalu merasa lebih baik berada di sini.

Kehadiran Ochi pun malah membuatnya semakin betah di rumah.

Mungkin kalian juga bisa menangkap kalau Sana berasal dari keluarga yang sangat mampu. Perempuan itu lahir sebagai anak kedua dari pasangan yang kelebihan harta.

Beruntung, Sana tak terlalu banyak diatur sehingga dia bisa tinggal sendiri dan bekerja sesuai dengan apa yang Sana inginkan.

Namun, Sana tak begitu yakin dengan kebebasan yang selalu diberikan kedua orang tuanya ini akan bertahan lama. Terlebih kakaknya sempat mengatakan soal pernikahan bisnis yang akan terjadi lagi di keluarga mereka.

Sana harap, sih, bukan dirinya. Namun, ia juga ragu kalau itu akan terjadi pada Brian mengingat sudah sangat banyak tuntutan yang laki-laki itu terima.

Entah sudah kali ke berapa Sana menghembuskan napas pertanda pasrah hari ini. Perempuan itu melirik ke arah jam sebelum mengambil ponselnya yang ada di atas meja.

Seharusnya sedari tadi dia menghubungi mereka.

“Halo, Mi? Jadi gak ke apart akunya?”


Sana meletakkan Ochi di atas sofa yang ada di kamar. Perempuan itu menatap peliharaannya dengan tajam.

“Pokoknya turuti apa kata aku tadi, oke? Kalau bisa jangan berubah dulu sebelum mereka pulang. Tapi kalau gak bisa gak berubah, kamu sembunyi di kamar mandi. Di sana. Terus kunci pintunya,” ucap Sana sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

Ochi memiringkan kepalanya. Tampak bingung.

“Aku janji bakal kasih ikan yang banyak kalau kamu nurut.”

“Meow~”

Sana menghela napasnya dan tersenyum. Dia membingkai kepala kucingnya dengan kedua tangan. “Pokoknya aku percaya kamu. Tunggu di sini, ya.”

“Meow.”

Setelah itu, Sana keluar dari kamar tanpa lupa menutup pintunya. Jika sesuai dengan apa yang ibunya katakan di telepon tadi, seharusnya mereka sebentar lagi sampai.

Jamnya sama dengan jam di mana Ochi biasa berubah.

Jantungnya berdegup kencang kala mendengar suara bel. Perempuan itu dengan cepat membuka pintu dan mendapati kedua orang tuanya dengan banyak barang bawaan.

Tubuh Sana dipeluk oleh perempuan yang lebih tua. Sementara ayahnya hanya mengelus kepalanya sebentar.

“Mami bawain beberapa makanan khas Jepang. Ada sushi, sashimi, terus bumbu kare—banyak pokoknya nanti lihat sendiri aja. Kamu pasti kangen, 'kan?”

Sana tersenyum tipis. “Makasih banyak, Mi. Tapi kalian bukannya dari Thailand? Yang di Jepang, 'kan, Kak Brian.”

“Memang. Ini beli di Mall yang katanya sushinya enak dan murah itu, loh. Yang banyak dibahas di tiktok. Mami penasaran, jadi tadi mampir dulu. Kalau dari Thailand, ada beberapa baju yang mami beliin buat kamu.”

“Sebenarnya itu papi yang beliin, 'kan, uangnya punya papi,” sahut ayahnya.

“Mami lah. Uang papi itu uang mami, kalau uang mami, ya, tetap uang mami.”

Jika dirinya sedang tidak khawatir soal Ochi yang akan berubah atau tidak, mungkin Sana akan tertawa dan turut meledeki ayahnya. Namun, yang bisa ia lakukan hanya tersenyum canggung sekarang.

“Kalian mau menginap di sini?”

Please, jangan.

“Sekarang gak bisa. Besok papi sama mami harus ke Singapura. Kamu mau ikut?”

Sana menghela napasnya lega dan menggeleng. “Aku ada beberapa kerjaan, Pi.”

“Oke, jaga diri di sini. Uang bulanan kamu masih ada?”

“Masih ada, kok.”

“Yuk, sekarang makan dulu. Mami juga mau nyoba sushinya,” ajak ibunya sembari menuntun Sana agar duduk di kursi. Perempuan itu kemudian sibuk membuka bungkus makanan yang dia beli.

“Papi simpenin bajunya ke kamar, ya,” ucap ayahnya dan tanpa menunggu persetujuan laki-laki itu sudah pergi ke tempat Ochi berada.

Sana awalnya tak menghiraukan hal itu karena sushi yang ada di depannya jauh lebih menarik. Namun, di suapan pertama dia baru sadar akan hal itu.

Sana berdiri, pintu kamar sudah terbuka pertanda kalau ayahnya sudah masuk ke dalam. Perempuan itu kemudian berlari kecil mengabaikan panggilan ibunya.

Semoga Ochi udah sembunyi, batin Sana.

Sana terheti di ambang pintu dengan napas yang memburu. Matanya membulat begitu melihat ayahnya tengah berjongkok.

Sana berjalan mendekat, dia kemudian mendapati Ochi yang masih dalam mode kucingnya tengah memainkan tangan ayahnya dengan kaki depan yang dia miliki. Menyadari ada anak bungsunya, laki-laki itu langsung berdiri.

“Ini kucing yang dari Brian itu?”

Sana mengangguk dengan kaku. “Iya, Pi.”

“Kalau gitu papi tambahin uang bulanan kamu supaya bisa beliin dia banyak makanan.”

Sana meringis mendengar itu. Padahal belum terlalu lama berinteraksi, tapi Ochi tampaknya sudah bisa menarik hati ayahnya.

“Bawa dia ke luar, Sa. Biar mamimu bisa lihat.”

Sana mengangguk, dia membiarkan ayahnya keluar kamar lebih dulu. Perempuan itu kemudian menggendong Ochi dan memeluknya dengan erat.

“Makasih, makasih, makasih karena udah nurut apa kata aku, Ochi!”

“Meow~”

Kedua orang tua Sana ada di sana sampai jam 10 malam. Sana mengantar mereka hingga ke lobi dan saat kembali sudah ada Ochi dalam mode manusianya. Laki-laki itu juga tampaknya sudah paham kalau ia harus memakai pakaian.

Sana mengerjap. “Kamu, kok, bisa nahan buat gak berubah?”

Ochi menatapnya dengan bingung. “Ya, bisa ... Shasha ikannya mana?”

“Oh, iya! Sashimi yang mami bawa masih nyisa, kamu mau nyoba?”

Meski tak tahu dengan apa yang Sana sebutkan, tapi Ochi mengangguk antusias. “Mau!”

Sana tersenyum lalu mengambil dua bungkus sashimi yang masih tersisa. “Ini, cara makannya tuh ambil ikannya kayak gini lalu dicocol dulu ke sini.”

Sana mempraktekkan bagaimana dirinya memakan sashimi. Mulai dari mengambil potongan ikan dengan sumpit sampai memasukkannya ke dalam mulut.

Mata Ochi tampak berbinar kala menerima sumpit yang Sana berikan. Saat dilihat itu mudah, tapi ketika mencoba Ochi kesulitan.

“Pakai tangan aja, boleh?”

“Sini aku suapin,” ucap Sana dan Ochi langsung duduk dengan rapih di kursinya. Sana tersenyum geli dan berdiri agar lebih mudah untuk menyuapi kucing besarnya.

Di suapan pertama, Ochi terlihat mengernyit memakan itu. Namun lama-lama ekornya bergerak antusias.

“Lebih suka ini,” komentar Ochi.

“Kamu lebih suka yang mentah daripada yang direbus?”

Ochi mengangguk.

“Aku gak akan sering-sering beli ini, soalnya jauh.”

“Gak papa, Shasha ... yang kemarin aku juga makan.”

Sana mengusap kepala laki-laki itu. “Pinter.”

Lama-lama Sana menjadi terlarut dengan pemikirannya sendiri. Perubahan raut wajah Sana yang menjadi sendu pun disadari oleh Ochi.

“Shasha kenapa?”

Sana mengedipkan matanya beberapa kali. “Agak sedih aja soalnya aku ditinggal lagi. Papi sama mami pergi ... terus Kak Ian juga gak tahu kapan balik ke sini. Aku sendirian lagi.”

Orang bilang, Sana beruntung terlahir dalam keluarga ini. Namun, jika sudah dihadapkan dengan keadaan ini, Sana merasa enggan untuk mensyukuri hidupnya.

Tiba-tiba Sana merasakan sebuah pelukan. Ochi memeluknya dengan kepala yang mendongak agar Sana bisa melihat keyakinan yang dia berikan lewat tatapan mata.

“Shasha gak sendiri. Ada aku.”

“Shasha, jangan marah ....”

Sana menoleh ke asal suara. Ada Ochi yang duduk lesehan di bawah dengan kepala yang bertumpu pada sofa yang tengah Sana duduki. Memandang ke arah Sana dengan mata memelasnya.

Sana menghela napas, mungkin dia akan ikut bergabung dalam obrolan nanti saja ketika Ochi sudah tidur. Dia meletakkan ponselnya lalu mengelus kepala Ochi sebentar.

“Aku gak marah,” jawab Sana.

“Tapi, diem ... dari tadi.” Telinga Ochi menurun kala mengucapkan itu.

“Maaf, ya, aku lagi ngobrol sama temen.”

Ochi kembali memberanikan dirinya untuk menatap si pemilik. Ujung ekornya sedikit naik. “Temen?”

Sana mengangguk. “Iya, temen. Soalnya bukan cuma kamu aja yang bisa berubah kayak gini. Kucing mereka juga kayak kamu.”

“Ohh.” Kini keseluruhan ekornya naik, tapi tak sampai berdiri. “June, Uji, Wonu?”

Sana mengerjap. “Iya, mereka. Kamu kenal?”

“Pas di sana, temen aku.”

“Sini, deh, Chi,” ucap Sana seraya menepuk pahanya. Raut wajah laki-laki itu menjadi cerah seketika.

“Aku boleh naik?”

“Eh, jangan! Berat, dong, kalau kamu dipangku pake tubuh ini. Kepalanya aja, ya,” balas Sana dengan cepat. Ochi menuruti, menggantikan tumpuan kepalanya menjadi di paha Sana.

Sana mengusap rambut laki-laki itu. “Aku mau nanya. Boleh, 'kan?”

“Iya.”

“Kamu kenapa bisa berubah kayak gini?” tanya Sana. “Setiap malam aja lagi.”

Ochi mendongakkan kepalanya lalu menggeleng. “Aku gak ingat.”

Sana menghembuskan napasnya. Dari Ochi yang membalas seperti ini, pasti mereka tidak 'murni' bisa berubah. Ada campur tangan dari seseorang yang membuat mereka seperti ini.

“Shasha,” panggil Ochi menggantung.

“Iya?”

“Jangan takut sama aku, ya. Aku sayang Shasha, aku gak akan gigit atau cakar kamu. Aku bakal jadi anak baik biar Shasha gak capek ngurus aku.”


“Wonu,” panggil Jennie untuk ke sekian kalinya, tapi laki-laki yang tengah duduk dengan selimut yang menutupi tubuhnya itu cuma memicingkan mata sebagai balasan.

“Wonu, jawab, dong.”

“Apa, sih? Ganggu.”

Jennie mendengus. “Kamu kenapa galak? Harusnya aku yang marah karena kamu udah curi salmon aku.”

Jennie bersidekap dada sambil berdiri, menatap pada Wonu yang duduk nyaman di sofa.

“Makan.”

“Iya, tahu. Tapi aku juga butuh itu buat makan,” balas Jennie.

“Tukar makanan,” ucap Wonu seraya menunjuk pada mangkuk makanan miliknya yang masih terisi setengah. “Itu buat Jen.”

Jennie sudah menunjukkan raut wajah kesalnya sekarang. “Aku gak mungkin makan itu, Won!”

Wonu tak membalas lagi, dia hanya menatap Jennie masih dengan wajah yang menurut Jennie banyak beban.

Jennie menarik napasnya dalam-dalam. Tak ingin kelepasan marah-marah pada sosok yang jelas merasa tak bersalah. Perempuan itu berbalik, memilih untuk tak mengajak Wonu berinteraksi lagi.

“Gue agak nyesel pilih Wonu,” gumam Jennie seraya berjalan menuju dapur. Ia butuh segelas air putih sekarang.

Telinga Wonu dapat mendengar itu. Dia tetap setengah kucing yang bisa menangkap suara lebih tajam dari manusia. Dia berdiri, menatap kepergian Jennie, telinga kucingnya menegak.

Jennie duduk dengan gelas yang airnya sudah habis setengahnya. Perempuan itu tak mendapati adanya notifikasi lagi dari group chat mereka, mungkin karena sama-sama teralih karena kucing masing-masing.

Matanya membulat begitu ada seseorang yang duduk di lantai di dekatnya. Disusul dengan sebuah ekor yang melingkari kakinya.

Jennie menoleh ke sisi kanannya. Ada Wonu yang duduk membelakanginya dengan kepala menunduk. Ekornya masih melingkari sebelah kaki Jennie.

“Wonu?”

Cukup lama, Jennie tak kunjung mendapatkan balasan. “Mending tidur sana, daripada ganggu aku.”

Telinga hitam Wonu menurun. “Jen ...,” panggilnya.

Jennie tak membalas. Membiarkan Wonu merasakan apa yang ia alami.

“Ma-maaf ... Jen jangan bu-buang Wonu hiks.”

Alis Jennie terangkat karena terkejut mendengar suara isakan itu. Perempuan lantas mengubah posisinya menjadi berjongkok di hadapan Wonu.

“Eh, aduh ... kenapa nangis?”

Wonu memejamkan matanya erat, masih ada air mata yang turun dari sana. Tahu kalau Jennie ada di hadapannya, dia pun langsung memeluk perempuan itu membuat Jennie sedikit terhuyung ke belakang. Untuk Jennie masih bisa menahan dirinya sehingga tubuh belakangnya tak membentur lantai.

Jennie dapat merasakan tubuh Wonu yang bergetar, juga pundaknya yang basah. Pelukannya semakin terasa erat, membuat Jennie mau tak mau membalasnya.

“Cup ... cup ... udahan, yuk, nangisnya.”

“J-jen, ja-jangan buang Wonu, ya. HUWAA.”

Astaga, malah makin kejer, batin Jennie sambil meringis.


“Jangan tidur terus, gue butuh nanya-nanya sama lo, nih.”

Pipi Uji sudah berulang kali Eunha sentuh, tapi laki-laki itu tak kunjung terusik. Eunha mengetukkan kakinya ke lantai, berpikir cara seperti apa yang bisa membuat Uji bangun.

Matanya kemudian tertuju pada ekor Uji yang mengintip dari selimut yang ia kenakan. Perempuan itu berjalan ke sisi lain tempat tidurnya agar bisa dekat dengan ekor itu.

Dengan ragu ia menyentuhnya. Pada awalnya, hanya sentuhan ringan. Namun, karena Uji masih bergeming, Eunha memberanikan dirinya untuk menggenggam ekor itu. Kemudian mencengkeramnya.

Itu sukses membuat Uji menjerit dan loncar dari tempat tidur ke lantai. Bulu ekornya berdiri, khas kucing yang siap untuk bertengkar. Eunha memandangnya dengan kikuk, Uji membalas dengan tatapan memangsa.

Sorry.

Perlahan, ekor Uji kembali seperti semula. Namun, dia masih memandang Eunha tak ramah. “Una, jahat.”

Eunha meringis. “Iya, maaf. Habis gak bangun-bangun.”

“Uji suka tidur.”

“Iya, tahu. Tapi gue sekarang butuh lo buat jawab pertanyaan gue, oke?”

Uji menggeleng. “Uji mau tidur.”

Eunha berdecak. “Jangan dulu! Gue nanya juga gak akan lama.”

“Gak mau!”

Eunha melotot memandang manusia setengah kucing itu. Dia mendengus lalu berbalik. “Ya udah tidur aja, nanti tahu-tahu bangun udah di tempat sampah.”

Eunha tidak tahu dirinya yang lambat atau Uji punya kecepatan super. Laki-laki itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

“Uji—”

Tubuh yang besarnya hampir sama dengan tubuh Eunha itu tiba-tiba melompat ke arahnya. Mengalungkan kedua tangannya pada leher Eunha dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang.

Eunha sempat menahan pinggulnya, tapi karena tak sigap dan menanggung beban yang di luar kuasanya. Eunha gagal mempertahankan keseimbangannya dan terhuyung ke belakang masih dengan Uji yang menempelinnya.

Untung posisinya tak jauh dari tempat tidur sehingga mereka jatuh di sesuatu yang empuk.

Napas terasa sulit untuk Eunha ambil. Perempuan itu meringis karena dengan posisi ini, beban di atasnya makin terasa.

“U-uji, gue pe-pengap! Turun.”

No! Uji turun kalau Una janji gak akan buang Uji.”

“J-ji, please. Bentar lagi gu-gue mati kalau gini terus.”

“Janji dulu bakal rawat Uji terus walau suka tidur! Jangan buang Uji ke tempat sampah juga! Una jangan jadi orang jahat.”

Eunha berdecak. “Iya, iya, janji! Se-sekarang turun!”


Tzuyu menatap ke arah June yang terbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar. Saat awal perubahan, laki-laki itu masih ceria. Ketika Tzuyu menyinggung soal orang tuanya yang ada di negara berbeda dengannya, June langsung masuk ke kamar dan ada di posisi yang masih terlihat sekarang.

“June, kamu lagi banyak pikiran?”

“Aku gak bisa mikir, Juju.”

Baiklah, Tzuyu tidak menyangka laki-laki itu akan menyahut.

“Kamu kenapa bisa berubah kayak gini, Jun?” tanya Tzuyu, berharap ia akan mendapatkan jawaban yang sesungguhnya.

“Kenapa, ya? Aku juga gak tahu. Apa karena aku ganteng? Apa karena aku dikutuk? Apa karena aku memang dilahirkan seperti ini? Gak tahu, aku gak ingat kenapa aku harus kayak gini.”

Tzuyu berkedip beberapa kali selepas mendengar pernyataan itu. Dia beneran overthinking atau cuma lebay?

“Aku juga gak tahu kenapa Juju mau rawat aku. Padahal aku gede dan berat, gak nyaman kalau digendong lama-lama. Bulu aku juga banyak ... susah rawatnya.”

Tzuyu menghela napas. Dari sini, ia yakin untuk menemukan jawaban sebenarnya akan sangat susah.

“Kamu mau aku berhenti rawat kamu?”

“Ya jangan, dong, Juju sayang,” balas June cepat disusul sebuah cengiran. Kini dia sudah dalam posisi duduk dan bersandar dengan nyaman.

“Kalau gitu, minggir! Aku mau tidur di situ.”

June menggeleng, dia menepuk bagian yang masih kosong. “Kita tidur bersama aja.”

Tzuyu melotot. “Gak! Cepat pindah, ih, June. Kalau gak nurut aku gak mau rawat kamu lagi, biarin aja cari makan di jalanan.”

June dengan cepat berdiri, ia mempersilakan Tzuyu untuk menempati tempat tidur miliknya. “Silakan, Yang Mulia.”

Tzuyu memutar bola matanya malas sebelum berbaring di sana. Menarik selimut hingga sebatas dada lalu memejamkan matanya erat-erat berharap bisa segera lelap.

Bibir June cemberut, tempat tidur sangat nyaman. Ia ingin di sana untuk semalaman. Namun, apa boleh buat? Daripada tidak dapat makanan.

Laki-laki itu membaringkan dirinya di atas sofa. Sekali lagi menatap langit-langit dengan menerawang.

“Oh, kapan aku bisa tidur dengan nyaman? Aku juga mau pake selimut tebal dan peluk boneka. Aku—”

Ucapan June terpotong akibat sebuah boneka mengenai kepalanya. “Jangan bicara terus! Biarin aku tidur nyenyak atau besok kamu aku kasih tetangga.”

“Iya, Juju, sayangku, pemilikku. Maafin aku. Aku janji bakal bikin senang kamu, jadi gak perlu repot-repot ketuk pintu tetangga. Aku nan—”

“June!”

June langsung mengambil boneka yang Tzuyu lemparkan lalu menutup mulutnya rapat.

Zoa as Amy. Sana as Anna. Hoshi as Edward.

Note: ini merupakan alternative story. bisa dianggap sebagai bagian dari before 20.


“Saya belum nentuin, Kak,” jawab Amy ketika dirinya ditanya oleh seorang perempuan yang bertugas mempromosikan tempat les mereka ke sekolahnya.

“Kamu minatnya di bidang apa?”

“Banyak ...,” jawab Amy menggantung.

“Banyak?”

“Iya, Kak. Aku udah coba beberapa. Di bidang seni aku pernah jadi anggota teater dan tari, aku pernah ikut taekwondo, aku menulis, aku sering bantu mami bikin kue. Jadi ... aku masih bingung.”

Ada keheningan yang tercipta setelah Amy berucap panjang lebar.

“Kalau di mata pelajaran?”

“Amy pinter, Kak. Public speaking-nya juga bagus,” sahut Richard yang duduk di belakangnya sebelum Amy sempat membalas.

“Betul?”

Teman sekelas Amy kompak membalas, “Iya, Kak!”

Amy tidak memperkirakan teman-temannya akan menjawab. Perempuan itu hanya tersenyum canggung menatap perempuan di hadapannya.

“Wah hebat. Lebih baik cepat diputuskan mau bidang apa, ya? Supaya kamu gak kewalahan dengan semua yang udah kamu pelajari.”

Ucapan kakak tadi cukup membekas dalam kepala Amy. Dalam perjalanan pulangnya, Amy terus memikirkan itu.

“Gak usah terlalu dipikirin, kita masih kelas 10,” ucap Johny. Amy hampir lupa kalau laki-laki itu duduk di sebelahnya.

Amy menghela napasnya. “Iya.”

Johny tersenyum tipis. “Gue turun duluan, awas jangan ngelamun. Nanti kelewat.”

“Iya, sampai jumpa besok, Johny!”

Laki-laki itu cuma mengangguk sambil melambaikan tangannya. Lalu ikut turun bersama orang lain yang juga turun di halte ini.

Amy menatap ke arah jendela. Halte berikutnya adalah tujuannya.

Ketika turun, awalnya Amy biasa saja. Namun, melihat jalanan yang ia pijaki membuatnya menatap sekitar dengan perasaan was-was. Bahunya menurun ketika dugaannya terbukti benar.

“Aduh ... jangan lagi,” celetuk Amy. Padahal ia sudah turun di halte yang biasa, tadi juga bukan hanya dirinya. Namun, kenapa Amy malah sampai ke tempat yang cukup asing untuknya?

“Harusnya aku gak naik bus lagi,” sambungnya. Amy kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentak-hentakkan akibat kesal karena kejadian seperti ini terulang lagi seperti waktu itu.

Padahal Amy hanya ingin segera pulang dengan naik bus. Namun, sekali lagi bus malah membawanya pulang dengan waktu yang berbeda dari seharusnya.

Melihat tempat ia diturunkan bukanlah area perumahannya, membuat Amy menduga kalau saat ini adalah saat di mana Edward belum membangun rumah mereka. Amy berhenti sejenak untuk memperhatikan sekitarnya.

“Ini ... yang mau ke rumah nenek bukan, sih?” gumamnya. Jalanannya cukup asing, tapi Amy merasa kenal. Bermodal kenekatan, Amy memanfaatkan ingatannya berjalan sesuai dengan arah yang biasa ia lalui jika akan ke rumah neneknya.

Langkah Amy terhenti tak jauh dari rumah yang di cat dengan warna coklat muda. Perempuan itu berhenti karena melihat sosok Anna yang menggunakan seragam turun dari boncengan sepeda seseorang yang tak Amy kenali.

Anna tampak masih sangat muda. Ibunya itu tampil dengan poni rata, rambut cokelat yang sedikit bergelombang, juga bando berwarna putih. Seragamnya juga dibalut sebuah jaket berwarna ungu pucat yang tampak kebesaran di tubuhnya.

Amy membasahi bibir bawahnya. “Jadi, sekarang pas mereka masih sekolah?”

“Papi sama mami cuma beda setahun ... kemungkinan papi juga masih sekolah.”

Amy tetap diam di balik pohon itu. Memperhatikan interaksi dua orang di sana, walau tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Amy menahan napas karena Anna tampak sedih selepas laki-laki itu pergi. “Mami kenapa? Eh, tadi itu cowok yang sama kayak waktu aku nyasar pertama kali, 'kan? Kalau iya, mami pacarannya lama banget, dong?”

Amy sibuk dengan teori yang ada dalam pikirannya hingga tak sadar kalau Anna sudah ada di sebelahnya. Anna sadar kalau ada yang memperhatikannya sedari tadi. Lalu, ia berhasil menemukan seorang yang tampaknya seumuran dengannya.

“Hei,” tegur Anna membuat Amy terlonjak seketika.

Amy mengambil langkah mundur, menatap Anna kelewat canggung. “H-hai.”

Anna terdiam, mengamati dengan baik wajah orang di depannya. Ia memiringkan kepalanya begitu mata mereka bertemu.

Orang ini kok mirip aku, ya? batin Anna.

Jika diperhatikan secara saksama, penampilan mereka saat ini memang terbilang mirip. Sama-sama tampil dengan rambut digerai dan poni yang sudah menyentuh alis. Yang membedakan hanyalah seragam keduanya.

Amy dengan cepat menutupi nama yang terpampang di dadanya dengan jaket yang ia kenakan. Pura-pura bertingkah seolah kedinginan di sore hari yang masih terasa panas ini.

Ia berharap, Anna tak sempat melihat namanya.

“Uhm, kamu baru pindah ke perumahan ini, ya? Aku baru pertama kali lihat kamu.”

Amy berkedip beberapa kali. “Ah ... enggak, aku ... aku habis kerja kelompok! Iya, hehe, kerja kelompok.”

“Di perumahan ini?”

Amy mengangguk.

“Aku baru pertama kali lihat seragam kamu,” ucap Anna. “Jadi, aku kira kamu baru pindah. Maaf, ya.”

Amy tersenyum canggung. “Iya, gak papa.”

Amy memainkan tali tasnya dengan sepatu yang ia ketuk-ketukkan ke tanah. Dia menatap Anna dengan ragu. “Kamu tadi kenapa sedih?”

Anna mengangkat kedua alisnya. Lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku sedih?”

“Iya, sehabis cowok tadi pergi. Kamu kayak sedih.”

Ini memang sedikit aneh. Namun, Anna sedang butuh teman bicara saat ini. “Ngobrol di bangku rumahku, aja, yuk?

Amy mengerjap lalu mengangguk. “ Bo-boleh?”

“Boleh! Kan, aku yang ajak. Aku juga kemarin baru buat biskuit, mungkin kamu mau nyoba,” jawabnya.

Anna menarik tangan Amy. “Ayo!”

Amy mau tak mau mengikutinya.

Sekarang, Amy sudah terduduk dengan kaku di bangku yang ada di perkarangan rumah Anna. Sesuai dugaannya, ini memang benar rumah nenek.

Namun, tampaknya rumah ini memang cukup sering direnovasi. Di waktu Amy yang sebenarnya, bangku di depan rumah sudah tidak ada lagi. Rumahnya juga belum ditingkat.

Anna kembali setelah memakai pakaian santainya. Perempuan itu membawa toples biskuit yang sempat ia bicarakan juga dua gelas berisi susu. Anna meletakkannya di tengah-tengah keduanya.

“Ayo, dicoba.”

Amy mengambil satu buah dengan canggung. Kemudian memakan biskuit coklat itu dalam satu gigitan.

Alisnya terangkat setelah menelan itu. Dia menatap Anna dengan antusias. “Enak! Ternyata mami udah jago bikin kue dari dulu, ya,” ucap Amy sebelum memakan sisa kuenya dalam satu suapan.

“Mami?”

Amy melotot ketika sadar dengan apa yang ia ucapkan.

“E-eh maksud aku ini ngingetin aku sama buatan mami aku. Maaf, ya, aku suka ngaco kalau ketemu makanan enak.”

“Oh,” balas Anna diakhiri dengan tawa canggung. “Terima kasih sudah suka buatanku.”

“Semua orang pasti suka, soalnya ini keterlaluan enaknya.”

Anna tersenyum malu. “Jangan berlebihan.”

“Aku jujur, ma—uhm ... maksudnya Anna.”

“Kamu tahu namaku?”

Amy mengerjap, lagi-lagi merutuki mulutnya yang terbiasa jujur ini. Duh, Amy!

“Tadi lihat dari seragamnya. Benar Anna, 'kan?”

“Iya, benar.”

Amy menatap Anna yang menunduk menatap gelas yang ia pegang. Dia cukup jarang melihat masa muda kedua orang tuanya karena mereka sama-sama tak sering mengambil potret masing-masing.

Melihat Anna di masa mudanya, ibunya itu terlihat manis dengan gaya rambut seperti ini. Rambutnya yang panjangnya hingga sepinggang dan berponi. Berbanding terbalik dengan yang sering ia lihat.

Anna tak begitu betha jika rambutnya sepanjang itu, apalagi jika berponi. Entah karena kesibukkan atau ada hal lain yang membuat Anna merubah penampilannya.

“Jadi, tadi kenapa sedih?” tanya Amy, mengembalikan mereka pada tujuan yang membuat ia duduk di sini.

Anna tak langsung membalas. “Soalnya Carel baru bilang kalau besok dia ada turnamen.”

Oh, namanya Carel.

“Kamu sedih karena dia ikut itu?”

Anna menggeleng dengan cepat. “Enggak, aku dukung dia. Itu mimpinya. Aku juga mau nonton dia besok.”

“Lalu?”

“Besok ada lomba masak di Mall ... tadinya aku mau ikut itu.”

Amy terdiam. Mulai memahami apa duduk permasalahannya.

“Kamu mau jadi chef, 'kan?” tanya Amy dengan nada seolah dirinya menebak. Padahal Amy sudah tahu kalau pekerjaan itu yang berhasil Anna raih nantinya.

Anna mengangguk sambil menatapnya. “Iya.”

Amy menatap Anna cukup lekat. “Jadi, kamu mau mentingin mimpi orang lain dibandingkan mimpi sendiri?”

Anna terdiam, ucapan Amy barusan cukup menusuk untuknya. Anna tak harus membalas apa.

Menyadari hal itu, Amy kembali bertanya, “Kamu umur berapa?”

“Desember nanti aku 16 tahun.”

Oke, berarti mami seumuran sama aku.

“Kita seumuran! Kamu tahu gak, sih, kalau di umur kita ini saatnya kita mencoba banyak hal?”

Anna mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mengangguk.

“Nah! Aku pernah denger dari seseorang. Kita ini punya sayap yang gak terlihat, kita perlu memanfaatkan sayap itu buat terbang kemana pun, setinggi apa pun.”

Mami yang pertama kali bilang soal ini ke aku, sambung Amy dalam hati.

Amy menunduk sembari mengayunkan kakinya yang menggantung karena bangkunya cukup tinggi. “Aku udah nyoba banyak hal, tapi sampai sekarang belum tahu mau jadi apa. Tapi mami sama papi tetap dukung aku buat nyoba apa yang aku pengen tahu.”

Amy kembali menatap pada Anna. “Kita perlu mencoba banyak hal sebelum menentukan tujuan. Nah, kamu mumpung udah tahu tujuan kamu apa. Saranku lebih baik kamu menabung buat meraih hal itu. Kayak ikut lomba tadi contohnya.”

“Tapi, Carel—”

“Dia gak akan marah, percaya, deh. Kalian juga belum tentu menikah, 'kan? Kalau dia marah, berarti dia gak layak kamu jadiin tempat pulang.”

Yang layak cuma papi soalnya.

Anna terdiam, dia kembali menunduk. “Carel penting buat aku.”

“Begitu juga mimpi kamu,” balas Amy cepat.

Amy menghela napasnya kala Anna tak kunjung membalas. “Gini, deh, cuma sekali ini aja kamu gak nonton dia. Dia juga pasti gak akan temenin kamu ikut lomba, 'kan? Anggap aja itu fair.”

“Aku gak tahu ... aku merasa perlu dukung Carel.”

Amy mendengus. Mami kok bucin banget? Padahal belum lulus SMA.

“Mendukung gak harus selalu terlihat, kok. Bisa lewat pesan dan sebagainya. Kalau kalian saling sayang, dia juga bakal paham, kok, kalau kamu dukung dia.”

Sebenarnya, Amy malas sekali mengungkapkan kalimat yang seakan mendukung hubungan Anna dengan laki-laki itu. Amy sudah tahu apa alasan mereka berpisah dan laki-laki itu layak dibenci karenanya.

Namun, Amy tak ingin merubah terlalu banyak apa yang seharusnya terjadi.

“Dicoba aja, ya? Sekali ini. Orang mungkin ngasih kesempatan kedua dengan mudah, tapi mimpi gak akan semudah itu.”

Anna tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Amy menatapnya heran. “Kenapa sampai bilang terima kasih?”

“Soalnya kamu udah nyadarin aku sama hal ini. Semoga kamu bisa tahu tujuan kamu secepatnya, ya.”

Amy tersenyum dan mengangguk. “Sama-sama kalau gitu, aku juga sadar hal itu dari orang tuaku.”

“Mereka sering di rumah, ya?”

“Mami yang sering, tapi papi selalu ingat pulang. Mereka selalu punya waktu buat aku.”

“Syukurlah kalau gitu.”

Amy menatap Anna menyelidik. Sekarang raut wajahnya kembali terlihat sedih.

“Oh, iya, orang rumah pada gak ada?”

Anna menggeleng. “Mungkin mereka lagi ajak Cherry jalan-jalan. Kamu mau masuk?”

Amy menggeleng. “Eh, gak perlu. Aku mau pulang aja. Takutnya kemalaman.”

“Oh, iya. Makasih, ya, udah temenin aku ngobrol. Sebentar aku bungkusin kuenya dulu.”

“Gak perlu.”

“Gak papa. Anggap aja ini ucapan terima kasih dari aku. Tolong diterima, ya?”

Anna tak menunggu balasan Amy kala memasukkan biskuit yang ia buat ke dalam plastik yang sebelumnya ia ambil dulu dari rumah. Memberikannya pada Amy disertai dengan senyuman manis.

“Ini, ya.”

“Makasih banyak, aku pamit pulang, ya.”

Anna mengangguk. Namun, kemudian ia tersadar sesuatu.

“Tunggu, nama kamu siapa?”

Namun, pertanyaannya itu tak berhasil didengar oleh Amy. Perempuan itu sudah berlari kecil menjauhi rumahnya.

Anna menghela napasnya, lalu membereskan apa yang sudah ia bawa keluar rumah. Baru ia mengangkatnya sudah ada suara lagi yang menyapa pendengaran.

“Ada tamu, Kak?”

Anna menoleh ke asal suara, ada ibunya dan Cherry yang baru pulang. Adiknya itu membawa sesuatu yang Anna yakini menjadi alasan kenapa mereka pergi tanpa mengajaknya.

Anna menggeleng, mengabaikan pikiran buruknya barusan. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk. “Iya, ada temenku tadi.”

“Lomba besok gimana, Kak? Kamu jadi ikut, 'kan?”

Anna terdiam, berpikir. Ia menatap pada ibunya. “Aku kalau ikut lain kali aja boleh, 'kan, Ma?”

“Ya, boleh aja. Mama gak akan memaksa.”

Anna tersenyum tipis. “Aku besok izin pulang telat, ya. Pulangnya mau lihat Carel ikut turnamen dulu.”


“HP-ku gak bisa dipake,” gerutu Amy sembari berjalan. Ia memasukkan benda itu kembali ke dalam tasnya.

Amy yang berjalan tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya membuat ia menabrak seseorang. Amy membulatkan matanya lalu dengan cepat berkata, “Maaf, aku gak sengaja.”

Orang yang barusan ia tabrak itu langsung menggeleng. “Gak papa.”

Oh, Amy tidak sadar kalau dirinya sudah ada di halte lagi.

Amy mengambil satu biskuit yang Anna bawakan untuknya. Perempuan itu sengaja menyimpannya dalam saku. Amy punya kebiasaan menyimpan makanan dalam saku jaketnya.

Laki-laki itu melirik padanya, merasa diperhatikan Amy balas menatap. “Mau?”

“Eh ... enggak, kok.”

Amy cukup sadar kalau seragamnya ini akan menarik perhatian. Tampaknya sekolah Amy belum ada di tahun ini, jika sudah ada pun mungkin seragamnya bukanlah seragam dengan rompi merah dan rok hitam.

Amy menaikkan kembali resleting jaketnya. Ia mengamati laki-laki yang tampaknya juga menunggu bus datang.

Amy membasahi bibirnya bawahnya, ragu dengan pemikirannya. Masa aku langsung ketemu papi, sih?

“Edward,” panggil Amy, memeriksa apakah dugaannya benar atau tidak.

Laki-laki itu menoleh. “Ya?”

Amy berkedip beberapa kali. Dugaannya sekali lagi benar. Amy benar-benar tidak terpikirkan satu hal pun kenapa ia bisa sampai di masa ini lagi.

Saat itu, 'kan, ia perlu membuat kedua orang tuanya menjadi tak asing jika tak ada dirinya. Kalau sekarang, dia harus apa?

Dengan Anna tadi pun, ia hanya sebatas membicarakan soal mimpi.

“Kamu kenapa panggil saya?” tanya Edward lagi.

“Gak papa, maaf, ya. Tadi sempat baca name tag-nya sekilas, ternyata aku bener.”

Edward hanya mengangguk setelah itu. Bus yang mereka tunggu datang. Sebenarnya Amy tak yakin menaiki bus ini, sekarang ia memutuskan untuk mengikuti Edward secara diam-diam saja.

“Aku boleh duduk di sini?” tanya Amy pada Edward karena kursi sebelahnya masih kosong.

“Silakan.”

Amy tersenyum lalu duduk dan menyamankan dirinya di sana. Ia diam-diam melirik pada Edward yang mengeluarkan buku gambar dari tasnya.

Edward tampak mencari halaman yang kosong, tapi buku itu sudah terisi cukup penuh.

“Harus beli baru,” gumamnya yang masih bisa Amy dengar karena jarak mereka bisa dibilang dekat.

“Aku punya ... mau minta selembar?” tawar Amy yang membuat Edward melihat padanya.

“Gak perlu, terima kasih,” balas Edward.

Amy mengangguk, tak ingin memaksa. Dia kemudian memperhatikan gambar yang terdapat di halaman yang Edward buka. Gambar itu berisi sebuah rumah yang ada dalam sebuah bingkai yang rusak.

Amy mengerjap. “Kenapa bingkainya rusak?”

Edward menunduk, menatap pada gambar yang pertama ia buat di buku ini. “Karena rumahnya udah rusak.”

“Rusak? Ada angin—”

“Bukan. Penghuninya yang ngerusakin,” potong Edward membuat Amy terdiam. Memikirkan maksudnya.

Edward kembali memasukkan bukunya pada tas. Niatnya untuk menggambar dalam perjalanan harus ia urungkan kali ini karena tak ada lagi halaman yang kosong.

“Kenapa penghuninya mau rusak rumah sendiri?”

Astaga, masih nanya aja, batin Edward. Jujur, ia agak sebal karena perempuan itu sok akrab dengannya. Anehnya, Edward tak bisa menolak untuk menjawab.

Ia merasa dekat padahal ini kali pertama mereka bertemu.

“Karena salah satunya memaksa buat membawa penghuni baru buat tinggal bersama. Lalu mengusir yang menemaninya dari awal.”

Amy memainkan jarinya. “Maksudnya, selingkuh, ya? Aku takut salah nyimpulin.”

Edward mengangguk. “Iya.”

“Jahat,” balas Amy.

“Sangat,” sambung Edward.

“Pasti rumahnya jadi gak nyaman. Kadang berantem kecil aja bikin gak betah apa lagi karena itu.”

“Iya, sangat gak nyaman. Penghuni lama yang dipaksa tinggal juga mau ke luar, tapi bingung harus gimana.”

Amy menatapnya dengan heran. “Kenapa bingung? Kalau bikin gak nyaman dan sakit hati lebih baik keluar.”

Edward tak membalas. Dia menatap ke luar jendela. “Kalau memaksa, nanti yang ada semakin rusak.”

Amy terdiam lagi. Berusaha menyambungkan apa yang Edward katakan dengan apa yang ada dalam ingatannya.

Baik Edward atau Evan sama-sama tak betah berada di rumah mereka yang dulu. Mereka juga tidak akrab dengan Candy padahal perempuan itu adik bungsu mereka. Terlebih Evan sering menunjukkan dengan jelas kalau ia tak menyukai dua orang yang kini menghuni rumah itu.

Ah, jadi nenek Catherine itu ... selingkuhan?

Amy meringis tanpa sadar. Hal itu jelas mengundang atensi dari Edward yang mengira kalau perempuan itu kesakitan.

“Kenapa? Pusing?” tanya Edward.

“Gak papa, baru kepikiran sesuatu aja,” balas Amy diakhiri dengan tawa yang canggung.

“Kalau rumahnya rusak, kita bisa memperbaiki, 'kan?”

Edward menggeleng. “Beberapa bisa, beberapa gak bisa.”

“Iya, kalau memang gak bisa berarti harus buat yang baru. Yang lebih baik dan layak dijadikan rumah,” ucap Amy dengan nada cerianya.

“Rumah yang aman buat dijadikan tempat pulang, rumah yang nyaman dijadikan tempat istirahat.”

Edward terdiam, memikirkan perkataan Amy barusan. “Aku mau buat rumah yang kayak gitu nanti. Setidaknya itu alasan yang gak nimbulin kerusakan lagi di rumah yang lama.”

“Kenapa nanti?”

“Aku belum punya apa-apa. Aku cuma murid kelas 11.”

Amy nyaris lupa kalau sekarang kedua ia ada di masa kedua orang tuanya masih berstatus sebagai siswa. Amy menghela napasnya kemudian mengukir senyuman. “Jangan lupa, ya.”

“Lupa apa?”

“Rumah perlu orang-orang yang membuatnya benar-benar menjadi rumah.”

Edward menatap pada Amy. “Aku bisa sendiri.”

“Memang bisa, tapi kamu bakal kesepian. Percaya, deh, ada teman hidup lebih enak.”

“Teman hidup? Pasangan maksud kamu?”

Amy menggeleng. “Bukan cuma pasangan, tapi juga keluarga. Walau nantinya cuma istri sama anak kamu itu udah cukup.”

Edward merasa merinding mendengar itu. Ia rasanya tak ingin membangun sebuah hubungan. Namun, ia tak ingin mengobrol lebih dalam dengan perempuan ini.

Edward menghembuskan napasnya. Lalu membalas, “Ya. Saya bentar lagi turun, boleh miring gak duduknya?”

“Eh?” balas Amy. “Atau juga turun di sini.”

Edward menatapnya heran, tapi malas bertanya. Laki-laki itu tanpa permisi melewati Amy lalu membayar dan berlari kecil ke luar bisa. Setelah kakinya menyapa jalanan, barulah ia mempercepat langkahnya.

Edward berjalan biasa ketika sudah ada di depan rumah yang sering menjadi objek gambarnya. Laki-laki itu menoleh ke belakang, memeriksa apa perempuan tadi mengikutinya atau tidak.

Ia bernapas lega ketika tak mendapati siapa-siapa. Edward melangkah memasuki area rumah yang cukup besar itu.

“Aku pulang,” ucap Edward walau ia yakin itu tak akan dihiraukan.

Kening Edward mengernyit ketika mendapat foto keluarganya yang dipajang di ruang tengah ada di bawah. Ia mendongak, mendapati foto baru ada di sana.

Di foto itu hanya terdapat foto pernikahan antara ayahnya dan istri keduanya. Edward berdecih, ia kembali membawa kakinya keluar dari rumah ini.

Di depan ia mendapati ayahnya yang baru keluar dari mobil. Laki-laki itu baru pulang bekerja.

“Edward, mau ke mana? Ini udah mau mal—”

“Gak usah sok peduli sama aku!” balas Edward sebelum berlari menjauh dari sana.

Ia ingin segera keluar dari rumah itu. Edward sudah tak betah.


Amy yang terhambat oleh penumpang lain yang juga akan turun membuatnya kehilangan jejak Edward. Perempuan itu sudah menunjukkan raut cemberutnya, ia benar-benar tak ada tenaga untuk mencari tahu apa alasannya ada di sini.

Pemikirannya soal tujuan yang tak kunjung ia tentukan padahal sudah banyak mencoba. Lalu tentang dirinya yang ada di masa lalu dan Amy tak tahu harus bagaimana kalau ingin pulang ke masanya.

Amy berjongkok dan di sebelah sebuah pohon. Kemudian menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan lengan yang ia tumpukan pada lututnya.

“Aku mau pulang ....”

Cukup lama Amy berada di sana dengan posisi itu. Ia sudah tak peduli dengan sekitar. Rasanya Amy mau menangis, tapi malu karena ia tahu sesekali ada yang lewat di depannya.

Ia berusaha menahan, tapi air matanya berhasil menembus. Sekarang Amy hanya menahan diri agar tak terisak dan mengundang perhatian.

“Amy?” panggil seseorang membuat Amy spontan menoleh.

“Om Mik!”

Mikhael yang ada di hadapannya bukanlah Mikhael muda. Namun, ini Mikhael yang sama yang sering Amy temui di rumah dan di sekolah, paman Amy yang paling dekat.

Langit juga sudah gelap, tapi Amy tetap bernapas lega karena tampaknya ia sudah kembali ke masa yang seharusnya.

Mikhael menghembuskan napasnya lega. “Di sini kamu. Papi sama mami kamu nyariin tahu. Panik banget mereka kamu malam-malam begini belum pulang ke rumah. Ayo sekarang pulang.”

Amy mengernyit. “Ini, 'kan, belum malam banget, Om.”

“Belum apanya? Ini udah mau tengah malam! Ayo Om anter pulang.”

Amy membeku di tempatnya. Hari ini sungguh membingungkan dan melelahkan untuknya.

Amy tak akan sempat memikirkan lagi soal tujuannya malam ini. Ia hanya ingin segera tidur selepas dapat omelan dari papi dan mami nanti.


maaf untuk semua kesalahan pengetikkan yang ada.

Sebenarnya, melihat Hanan ada di gang rumahnya lagi adalah hal yang tidak pernah Elina duga. Laki-laki yang dulu pipinya enak dicubit itu tengah menunduk memandang pada ponselnya. Mungkin karena barusan mengabari Elina kalau dia sudah sampai.

Sebenarnya ini sudah pukul 15.00, cukup sore untuk mereka keluar bersama. Meskipun Elina libur, Hanan tetap tidak libur. Untung Elina masih mau diajak pergi.

Sadar kalau Elina mendekat ke arahnya, Hanan mengukir senyuman tipis. Perempuan itu sudah membawa helm seperti yang Hanan minta. Hanan tidak berangkat dari rumah soalnya. Selesai kerja, menumpang mandi di bengkel, terus langsung ke sini.

“Mau ke mana, Nan?” tanya Elina.

“Kamu ada yang mau dikunjungi?”

Elina menggeleng.

“Sama, hehe,” jawab Hanan dengan cengiran tak enak. Sebenarnya ia tak terpikir satu tempat pun mengingat ini sudah sore.

“Nan, coba Rumah Mantan, yuk?” usul Elina cepat.

“Yang mie itu?”

Elina mengangguk. “Iya, yang katanya ada mesin capitnya.”

“Boleh. Di mana?” tanya Hanan. Dia sedikit lega karena Elina sudah menunjukkan keantusiasannya lagi.

“Jalan Jamika. Bentar, aku cari di maps dulu.”

Hanan terdiam, menunggu Elina selesai dengan apa yang ia katakan. Perempuan itu kemudian menunjukkan petanya pada Hanan.

“Kasih tahun sambil jalan aja, ya. Yuk, naik.”

“Sambil nyari jajan juga, yuk, Nan, di jalannya.”

Hanan tersenyum. Dia lega karena Elina mulai menunjukkan keantusiasannya lagi.

“Boleh, yuk!”

Elina duduk dengan canggung di boncengan motor Hanan. Tangannya dengan ragu memegang ujung jaket berwarna hitam yang laki-laki itu gunakan. Hanan sendiri tidak terlalu memikirkannya.

Ini pertama kalinya Hanan membonceng Elina, dia hanya ingin perempuan itu duduk dengan nyaman. Jadi, Hanan tidak memprotes apa pun.

Hanan berhenti di sisi jalan ketika mereka menjumpai cukup banyak gerobak pedagang kaki lima. Hanan sedikit memundurkan badannya agar Elina bisa mendengar perkataannya mengingat ini di pinggir jalan yang cukup berisik.

“Mau beli sesuatu di sini gak, Lin?”

Elina tidak langsung menjawab, dia menatap ke arah sekitar. Pilihannya cukup banyak.

“Kamu?”

Hanan tertawa kecil. “Lah, kok aku?”

“Gantian, Nan. 'Kan, yang mau ke rumah mantan aku.”

Kali ini, Hanan yang mengamati gerobak makanan itu satu per satu.

“Beli surabi aja, yuk. Mumpung tempat duduknya masih kosong.”

“Boleh.”

“Turun dulu, Lin. Aku mau parkir.”

Elina menurut dan Hanan segera memarkirkan motornya. Laki-laki itu kemudian menerima helm Elina untuk diletakkan juga di sana.

“2.500-an, Lin. Beli empat mau?” bisik Hanan begitu melihat menu yang tertempel di atas gerobaknya. Pedagangnya sedang sibuk membuat, jadi mereka tak begitu memperhatikan kehadiran keduanya.

“Beli enan aja, Nan. Soalnya kita makan di sini. Terus beli yang oncom sama kinca aja, biar kerasa surabinya.”

Hanan tergelak mendengar itu. “Boleh, tiga-tiga kalau gitu, ya,” ucapnya sebelum mendekati pedagangnya untuk memesan.

Mereka sekarang sudah duduk manis di sana. Hanan sedikit menyandarkan badannya ke meja. Tubuhnya baru kerasa pegal sekarang.

Hanan menghembuskan napasnya seraya merapihkan rambut dengan tangan. Elina cuma memainkan jarinya, tiba-tiba merasa canggung lagi.

“Nan, interview-nya kemarin gimana?”

Hanan menoleh. “Aku ngerasanya lancar, sih. Cuma baru dikabarin hari kerja nanti.”

“Apa emang, Nan?”

“Staff gudang gitu,” balas Hanan.

Elina mengangguk. “Semoga diterima kalau gitu.”

Hanan cuma tersenyum menanggapi itu.


“Rame, ya,” komentar Hanan begitu memasuki area rumah makan itu.

“Malming, sih,” balas Elina. “Tapi ini masih sore, deng.”

Hanan terkekeh. “Mau coba mesin capitnya, 'kan?”

Elina mengangguk. “Iyaa. Ayo beli koinnya dulu.”

Hanan hanya mengikuti langkah Elina. Warmindo ini cukup unik dengan keberadaan mesin capit berisi mie yang jika didapatkan bisa mereka makan di sini.

Namun, melihat jajaran berbagai mie instan yang disusun tinggi. Hanan jadi lebih tertarik untuk memilih langsung saja daripada bermain dulu.

Jadi, laki-laki itu hanya mengikuti Elina. Ikut antusias mengamati bagaimana Elina bermain. Hingga memainkan koin terakhir milik perempuan itu yang untungnya ia berhasil mengambil salah satunya.

“Dapet dua ... mau makan yang ini aja?” tanya Elina.

“Itu, 'kan, punya kamu. Aku beli aja.”

“Ish gak papa. Kamu yang bayar pendamping mienya.”

Hanan akhirnya mau tidak mau setuju. Dua orang yang belum lama ini lulus sekolah itu kini sudah duduk berhadapan. Menunggu mie mereka selesai dibuat.

“Oh iya, Lin, sekarang kerjanya di mana?” tanya Hanan, memulai percakapan.

“Tempatnya kayak gudang dari perusahaannya gitu. Tapi aku masuk ke bagian QC,” balas Elina.

“Baju kah?”

“Macem-macem, sih. Yang bisa dipake sama badan.”

Hanan mengangguk paham. Laki-laki mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Bingung harus bertanya apa lagi.

“Aku lega, Nan,” ucap Elina membuat Hanan kembali menatapnya lagi.

“Lega?”

“Iya. Aku lega karena kamu masih mau dengerin aku,” ucap Elina. “Padahal aku sempat ngehindar agak lama. Maaf, ya, aku jadinya terkesan dateng tiap butuh aja.”

Hanan menggeleng dengan cepat. “Aku gak pernah mikir kayak gitu. Aku cuma bingung aja kenapa kamu tiba-tiba ngehindar.”

Elina memainkan jarinya. Sebenarnya agak ragu mengungkapkan apa alasannya. Ia takut merusak pertemuan mereka di hari ini.

“Tapi aku lega soalnya lihat update-an kamu yang kelihatan asik sama temen-temen kamu. Jadi, aku gak mau desak. Aku mikirnya kamu mulai enjoy sama kehidupan kamu yang sekarang. Gak seharusnya aku maksa supaya kita tetap jalan berkomunikasi,” sambung Hanan.

Perempuan kelahiran Desember itu lantas menatapnya. “Kamu serius mikir kayak gitu?”

“Iya.”

Bibir Elina kini tertekuk ke bawah. Entah disadari atau tidak oleh perempuan itu.

“Kamu baik banget ....”

Hanan menggeleng. Elina baru akan berucap lagi, tapi mie mereka sudah diantarkan. Hal itu membuat bibir Elina kembali terkatup.

Paham kalau suasana akan semakin berubah jika mereka meneruskan pembicaraan ini. Hanan mendekatkan mangkuk yang ia yakini milik Elina dilihat dari pendamping yang perempuan itu pilih tadi.

“Makan dulu, Lin. Jaga-jaga kalau nanti obrolan kita jadi sedih, kita ada tenaga buat nangis,” ucap Hanan diakhiri dengan cengiran khasnya. Elina mengerucutkan bibirnya, tapi tetap menuruti apa kata laki-laki itu.


“Aku kepikiran ngehindar itu waktu kamu jadi panitia pensi,” ucap Elina. Sekarang mereka sedang duduk di pinggir jalan. Entah apa motivasi Hanan memberhentikan motornya di sana.

“Terus, 'kan, kamu mulai aktif di SMA. Jadi, aku gak mau ganggu kamu. Kamu juga masih tahu waktu kalau nge-chat, gak kayak aku.”

Elina memainkan jarinya, tidak berani menatap Hanan. Sedangkan lawan bicaranya belum bersuara lagi, dia hanya menatap langit dengan menerawang.

“Sekolah di sana tanpa ada yang aku kenal sebelumnya, ngebuat aku malah masang topeng, Nan. Mereka tahu aku nulis, terus mereka puji aku karena aku bisa bawain tulisan sedih tanpa ngalamin. Padahal semua tulisanku ... inspirasinya, ya, diri sendiri.”

Elina mengambil napas. “Bener kata kamu tadi. Aku jadi lebih enjoy dan ngerasa lebih baik kalau gak ada yang tahu soal masalahku. Tapi aku gak bisa ngejalanin semua itu dengan maksimal karena ada kamu.”

“Karena aku tahu?”

“Karena kamu tahu,” ulang Elina. “Kamu mungkin lebih tahu aku dari orang tuaku sendiri, Nan. Aku gak bisa pakai topeng kalau sama kamu. Aku juga gak mau ngehambat kamu yang mulai berproses. Jadi, aku pikir kita lebih baik jalan masing-masing aja.”

Elina menyisir rambutnya yang digerai ke belakang dengan tangannya. “Tapi aku gagal nahan diri buat gak nyari tahu soal kamu. Setiap hari aku buka medsos cuma buat lihat kamu ada update atau enggak.”

Hanan menghembuskan napasnya. Sedikit tidak menyangka kalau alasan Elina seperti ini, tapi ia mencoba mengerti.

“Sama. Aku juga nunggu postingan kamu biar tahu gimana kamu dari hari ke hari. Agak lucu juga sebenarnya, aku ini dulu tahu kabar kamu gimana bahkan sebelum kamu bilang ke aku. Tapi malah ngandelin medsos cuma biar tahu kamu baik-baik aja,” balas Hanan.

Elina melirik pada Hanan sekilas. “Kamu marah, ya?”

Hanan tersenyum tipis kemudian balas menatap. “Biasa aja, ah. Namanya juga hidup, 'kan, pasti ada fase kayak gitunya. Mungkin kamu bosen cerita sama aku dan nyaman sama temen-temen baru di SMA. Aku sempet kesel, tapi buat apa coba? Yang penting, 'kan, kamunya nyaman dan terus berkembang.”

Hanan kembali melihat wajah Elina yang merengut. “Percaya, deh, aku gak marah. Cuma sempet kesel aja dan mikir aneh-aneh takutnya aku yang salah.”

Elina langsung menggeleng. “Enggak, kamu gak salah. Aku yang salah.”

“Udah, ah, itu cukup wajar terjadi di pertemanan, kok, Lin. Terlebih kita berasa temenan virtual semenjak beda sekolah.”

“Tetep aja, aku minta maaf udah bersikap kayak gitu, Nan.”

“Ya udah, aku juga minta maaf karena malah ikut pasif dan ngebuat kita kayak lost contact.”

“Salaman?” ucap Elina sambil mengajak Hanan untuk berjabat tangan.

“Salaman,” balas Hanan disertai kekehan kecil.

Mereka terdiam cukup lama. Sama-sama memandangi langit yang tidak ramai oleh bintang hari ini.

“Elina,” panggil Hanan membuat yang mempunyai nama pantas menoleh padanya.

“Sehabis ini, saling cerita itu bukan tuntutan yang harus kita penuhi dalam pertemanan ini. Jadi, kamu bebas mau lari ke mana pun tanpa ngerasa terhambat sama pertemanan kita.”

Hanan kembali melihat pada Elina. Tangan kirinya bergerak untuk mengusak rambut Elina pelan.

“Tolong diingat aja. Aku gak jauh, aku gak akan pergi ke mana-mana.”

Zoa as Amy. Sana as Anna. Hoshi as Edward.


Saat kecil, Amy pernah diberi kepercayaan untuk memilih seekor kucing yang ia selamatkan dari selokan. Anak kucing dengan bulu putih dan corak abu-abu itu awalnya tak Edward inginkan untuk berada di rumah. Namun, pada akhirnya papi kesayangan Amy itu luluh.

Kucing yang Amy panggil dengan sebutan Snowi itu dapat beradaptasi dalam rumah mereka dengan baik. Ia terkadang akan mengeong meminta perhatian, di sisi lain dia akan lebih senang tertidur sambil menunggu Amy kembali dari sekolahnya.

“Snowi, kamu jadi temen aku terus, ya? Kita tumbuh sama-sama di rumah ini.”

Itu perkataan Amy karena saking sayangnya dia pada kucing itu. Pemandangan yang cukup menghibur, tapi menenangkan bagi Anna kala melihat anak tunggalnya berinteraksi dengan kucing itu. Terlihat lucu bagaimana tubuh Amy yang lebih tinggi dari teman-teman seusianya berhadapan dengan tubuh Snowi yang hampir sama dengan kaki Edward.

“Amy, sayang banget sama Snowi, ya?” tanya Anna.

Amy mengangguk dengan penuh keyakinan. “Sayang! Amy sayang banget sama Snowi.”

Anna tersenyum. “Kalau gitu, jaga baik-baik, ya?”

“Siap!” katanya dengan antusias dan pose hormat yang ia tunjukkan.

Amy benar-benar menunjukkan kesungguhannya dalam merawat kucing itu. Dia tetap meminta pertolongan orang tuanya dalam prosesnya. Mulai dari diperiksa ke klinik saat di awal Amy membawa kucing ke rumah, sampai membeli apa saja yang dibutuhkan Snowi agar nyaman berada di rumah ini. Amy bahkan tidak ragu kala harus membersihkan pasir bekas Snowi.

Edward dan Anna pun sama-sama memberi pengertian kalau tak semua yang Amy makan, bisa dimakan oleh Snowi. Mereka tak pernah bosan menanggapi setiap celotehan Amy tentang Snowi. Mereka pun perlahan-lahan ikut berinteraksi dengan Snowi. Kucing kecil dengan bulu putih yang mendominasi dirinya itu kini sudah menjadi penghuni baru di rumah keluarga Kwon.

Di waktu lain, akan ada Amy yang menginginkan waktu sendiri untuk fokus pada tugasnya. Amy tak terlalu menyukai tugas kerajinan karena malas berhadapan dengan lem dan teman-temannya, tapi ia tetap harus menyelesaikannya karena itu termasuk kewajiban yang ia miliki.

Biasanya, Amy tak ingin ditemani oleh siapapun termasuk Edward yang pasti dapat membantu. Ia akan mencobanya terlebih dahulu, sebelum pasrah dan memanggil bala bantuan.

Namun, kali ini dia tak keberatan mengerjakan tugasnya dengan Snowi yang ada dalam pangkuannya.

“Mau ke mana?” tanya Amy kala kucing itu bergerak dan berjalan menjauhi dirinya. Amy sebenarnya tak membatasi ruang gerak Snowi, jika bermain keluar kucing itu tahu kapan dan ke mana dia harus pulang. Namun, kali ini entah kenapa dia ingin melihat ke mana perginya Snowi.

Anak berusia 10 tahun itu menipiskan bibirnya kala Snowi menduduki pasir miliknya. Amy mengambil langkah mundur dengan kedua tangan terangkat.

“Oke, Snowi. Aku gak akan ngintip,” katanya sebelum kembali ke ruang tengah dan melanjutkan tugas kerajinannya.

Amy berhasil membuat dirinya fokus dengan tugas hingga ia bisa menyelesaikan tugasnya itu sendiri. Amy tengah membereskan sisa-sisa kertas warna yang ia gunakan kala Anna mendatanginya.

“Udah selesai, Sayang?”

“Udah, Mami. Gimana ... bagus gak?” tanya Amy dengan wajah berseri.

Anna terdiam untuk mengamati kerajinan yang Amy selesaikan. Perempuan itu kemudian mengukir senyum sembari bertepuk tangan. “Bagus, hebat anaknya mami. Terus ditingkatkan, ya, Sayang?”

“Pasti!”

“Mami habis bikin biskuit, kamu mau gak?”

Amy langsung mengangguk antuasias. Dia tak pernah tak menyukai setiap kue yang dibuat oleh mami. Pokoknya gak ada masakan mami yang gak enak buat Amy.

“Mau dicelup pakai susu, boleh, Mi?”

Anna mengangguk. “Boleh, ayo di meja makan aja makannya.”

Okay!” seru Amy lantas berjalan mendahului Anna. Anak itu langsung duduk di kursi yang biasa ia gunakan. Menunggu Anna menaruh beberapa buah biskuit cokelat di atas piring dan menuangkan segelas susu dingin.

“Ah, iya. Susunya mau dihangatin dulu?”

“Gak perlu, Mami. Amy mau yang dingin,” balas Amy.

“Baiklah, udah cuci tangan belum, Sayang?”

“Oh, iya! Belum.” Amy lantas turun dan mencuci tangannya. Setelah itu, ia kembali duduk di tempat semula.

Baru satu gigitan ia telan, gerakannya terhenti karena teringat sesuatu.

“Mami, Snowi mana?”


Biasanya, Edward akan langsung mandi selepas pulang kerja. Namun, baru saja memarkir mobilnya dia harus pergi ke luar lagi untuk mencari kucing rumah mereka.

Edward cukup terkejut karena pulang disambut dengan wajah Amy yang sembab. Kali ini, dia pulang sedikit terlambat karena jalanan yang macet. Ia kira itu yang menjadi alasan anaknya menangis, tapi ternyata karena Snowi tidak kunjung pulang.

Pemandangan yang cukup mencolok kala Edward dengan pakaian kerjanya terus membungkukkan badannya di setiap beberapa langkah untuk mencari Snowi.

“Tadi saya sama Amy sempat keliling, tapi gak ketemu. Udah nanya tetangga juga siapa tahu Snowi masuk ke rumah mereka dan semuanya bilang gak ada.”

“Papi, tolong cari temen aku. Dia masih kecil, Papi.”

Edward menggaruk kepala belakangnya, bingung harus cari ke mana lagi. Pasalnya ini sudah cukup jauh dari rumah mereka, Edward pesimis Snowi akan berjalan sampai ke sini.

“Eh, Pak Edward. Tumben main ke sini?”

Edward menoleh lalu tersenyum canggung. “Sebenarnya, saya lagi cari sesuatu.”

Edward mengeluarkan ponselnya. Ia ingat pernah memotret Amy dan Snowi bersama.

“Ini, bapak pernah lihat gak, ya? Tadi pergi main, tapi sampai jam segini belum ke rumah.”

Edward tidak ingat siapa nama orang yang baru menyapanya ini. Namun, dia ingat dengan wajahnya.

“Loh, anaknya hilang, Pak? Sudah hubungi polisi?”

Edward mengerjap lalu menggeleng. “Bukan ... bukan anak saya yang hilang. Saya lagi cari kucingnya.”

Orang itu membenarkan posisi kacamatanya. “Ah, begitu. Saya gak lihat, Pak. Tapi tadi kabarnya ada orang dari komunitas gitu yang mau mengurus kucing masih kecil yang terlantar. Mungkin kucingnya kebawa sama mereka, Pak.”

Edward terdiam. Kalau sampai benar, ini akan lebih berat.

“Tapi, kucing saya pakai kalung yang menandakan dia bukan kucing terlantar.”

“Gimana kalau dipastikan dulu saja, Pak? Setahu saya Pak Brian punya nomornya.”

Edward mengangguk. “Baik, terima kasih banyak, ya, Pak. Kalau semisal lihat, tolong hubungi saya.”

“Siap, gampang kalau itu, Pak.”

Setelah berpamitan, Edward langsung mengunjungi rumah yang namanya disebut oleh orang tadi. Kaki Edward terasa lemas kala perwakilan komunitas itu menjawab mereka tak membawa Snowi dan tak mungkin membawa kucing yang memiliki tanda kepemilikan. Kucing yang mereka bawa pun, sudah hasil memastikan dari orang sekitar di mana satu kucing ditemukan kalau mereka bukan kucing peliharaan.

Edward berjalan lesu menuju rumahnya. Langit sudah gelap, sudah cukup lama Edward mencari kucing milik anaknya. Namun, hasilnya nihil. Ia hanya berharap kalau sekarang kucing kecil yang perlahan-lahan sudah menjadi kesayangan orang rumah itu sudah ada di rumah.

Bahu Edward merosot kala mendapati Amy dan Anna yang menunggunya di depan rumah. Wajah Amy terlihat sendu dengan Anna yang tak berhenti mengusapi punggungnya. Hidung Amh memerah, pertanda kalau dia menahan tangisannya.

Melihat ayahnya ada di depan pagar, Amy lantas berdiri. Matanya sedikit berbinar karena Edward adalah satu-satunya harapan sekarang. Namun, kala sadar kalau Edward datang sendiri, bibir Amy kembali melengkung ke bawah.

Edward mendekat lalu mengubah posisinya menjadi setengah berdiri dengan bertumpu pada lutut, mensejajarkan dirinya dengan Amy.

“Maaf, Dek. Papi gak nemuin Snowi.”

Amy menunduk dan tangannya mengepal. Anna yang sadar dengan itu lantas memberikan usapan lagi puncak kepalanya.

“Papi, Mami ... aku gagal, ya?”

Edward dan Anna saling berpandangan sebelum Anna ikut mesejajarkan dirinya dengan Amy. Perempuan itu mengusap pundak anaknya.

“Enggak, Sayang. Kamu gak gagal. Buktinya Snowi senang dirawat sama kamu, dia sayang sama kamu.”

Amy menggeleng. “Enggak, Mami—hiks ... kalau ... kalau sayang di-dia gak akan tinggalin aku.”

“Snowi belum tentu ninggalin kamu, Dek. Mungkin dia masih senang main di luar, tunggu sampai besok, ya?”

Amy mengusap air matanya, dia tak ingin menangis sekarang. Edward menahan tangannya. “Gak papa, jangan ditahan. Kamu boleh sedih, Dek.”

Mendengar itu, tangis Amy yang sedari tadi berusaha ia tahan akhirnya pecah juga. Anna dengan sigap membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. Tangannya tidak berhenti mengusapi kepala anaknya.

“Semoga Snowi pulang besok, ya? Kalau enggak, mungkin dia sekarang udah nemu rumahnya yang sebenarnya.”

“A-aku udah janji sam—hiks sama kalian... ka-kalau aku bakal ja—hiks ga Snowi baik-baik. Se-sekarang Snowi gak pulang. Aku u-udah gak bisa dipercaya—hiks buat ja ... jaga sesuatu lagi.”

“Loh, kata siapa? Amy selama ini bener, kok, jaga Snowi. Amy sayang sama Snowi dan jaga dia dengan baik. Snowi, 'kan, sampai nempel ke kamu terus, Sayang,” ucap Anna.

Amy tidak membalas, dia sibuk terisak. Edward dan Anna lagi-lagi memandang satu sama lain. Sedikit tidak menyangka sebenarnya kalau Amy akan sampai seperti ini.

“Adek, sekarang kamu harus percaya kalau Snowi baik-baik aja di mana pun dia berada. Semoga kucing kita besok—kalau bisa malam ini pulang ke rumah, ya? Papi coba cari sekali lagi.”

Amy tak membalas Edward, dia malah mengeratkan pelukannya pada Anna. Edward memberi isyarat pada Anna kalau dia akan pergi lagi. Anna mengganguk lalu berucap, “Jangan sampai larut.”

Sekarang, hanya tinggal mereka berdua di saja. “Ke dalam, yuk?” ajak Anna.

Amy menggeleng. “Ga-gak mau, na-nanti Snowi pulang hiks.”

“Pintunya kita buka, kita diam di ruang tengah. Mami takut kamu sakit besok.”

Amy tak membalas.

“Mami paham kalau Snowi berarti banyak untuk kamu ... untuk kita. Gak semua hal yang kita miliki bakal bertahan sama kita, Sayang. Ada kalanya mereka akan pergi. Pada dasarnya, datang dan pergi sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap manusia.”

“Amy boleh sedih karena kehilangan Snowi. Tapi, Amy juga harus yakin kalau Snowi baik-baik aja dan lekas pulang. Snowi pasti gak akan lupa semudah itu sama orang yang udah rawat dia cukup lama, loh.”

Snowi.

Kucing kecil yang Amy temukan dalam perjalanan pulangnya selepas bermain lompat tali itu sudah hidup bersama mereka nyaris 3 bulan lamanya. Memang tak begitu lama, tapi dia sudah menghadirkan banyak kenangan untuk mereka.

Khususnya pada Amy.

Amy mendapatkan kepercayaan untuk merawat sesuatu yang berharga, dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Dia berusaha untuk tak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberi dengan merawat Snowi semampu yang ia bisa.

Namun, keinginannya untuk tumbuh bersama dengan Snowi di rumah ini tampaknya tak dapat terwujud. Kucing itu tak kunjung pulang di hari-hari berikutnya.

Snowi adalah kehilangan pertama yang Amy alami dan cukup membekas untuknya. Dia memang diperbolehkan untuk menikmati rasa sedih juga kehilangannya. Namun, Amy tak ingin berlarut.

Secara perlahan, anak itu berusaha berdamai. Kembali menjadi ceria di hadapan semua orang dan terus meyakinkan dirinya sendiri kalau Snowi baik-baik saja di mana pun dia berada.

Walau diam-diam, dia sempat kehilangan kepercayaan dirinya untuk merawat sesuatu yang bernyawa lagi setelah itu.


Sorry for typo

Semenjak bekerja, Elina sedikitnya menjadi kurang perhatian pada media sosialnya. Alasannya tentu karena tubuhnya yang masih beradaptasi dengan kesibukan sekarang.

Salahnya juga, sih, bermalas-malasan selepas ujian akhir kemarin.

Namun, walau begitu ada satu akun yang selalu ia tunggu postingannya meski sekedar story yang cuma bertahan selama 24 jam. Yap, dari akun Hanan yang makin ke sini makin jarang update.

Dari awal kenal, cowok itu memang bukan tipe yang apa-apa disebar. Dia update paling cuma tentang promosi atau memposting ulang dari seseorang yang menandai akunnya. Terkadang dia juga suka upload video kucing, sih, tapi itu jarang sekali. Kalau Hanan sudah mempostingnya, berarti dia benar-benar luang.

Jika diingat lagi, orang pertama yang mengurangi komunikasi antar keduanya adalah Elina sendiri. Awalnya, Hanan masih sering menghubunginya walau Elina membalas seadanya karena mencoba menghindar. Lama-lama terlebih setelah cowok itu terpilih jadi salah satu caketos, dia mulai gak menghubungi Elina lagi.

Mereka pun menjauh tanpa alasan yang gak diketahui masing-masing.

Elina terkadang merasa berat dengan hal itu meski dia yang memulai. Mau bagaimanapun, Hanan adalah teman yang baik. Mereka bisa berteman dan tak mengikuti pernyataan kalau pertemanan antar cowok dan cewek bakal berakhir dengan salah satu yang suka.

Elina menghela napasnya. Ini bukan saatnya ia mengingat kenangan mereka. Pada kenyataannya, Elina perlu fokus untuk mengendari sepedanya agar terhindar dari bahaya.

Cewek itu menatap lurus ke depan. Niatnya hari ini, dia mau berolahraga dengan mengendarai sepeda di sore hari. Harusnya tadi pagi, tapi tubuhnya baru terasa lebih enak sekarang.

Elina bertekad untuk menikmati waktunya di perjalanan kali ini. Namun, tampaknya dunia tak mau Elina seperti itu karena sepeda yang ia kendarai malah oleng.

Elina buru-buru menghentikan gerakannya. Ia bernapas lega karena sepeda yang sudah menemaninya cukup lama ini tak membuatnya terjatuh.

Cewek itu menatap sekitar, ia perlu mencari tahu soal apa yang terjadi dengan sepedanya dan kalau bisa memperbaikinya karena ini cukup jauh dari rumah. Matanya sedikit berbinar ketika mendapati sebuah bengkel.

“Eh, bisa gak, ya?” gumamnya. Namun, bukan Elina namanya kalau gak sedikit nekat. Untuk saat ini, ia perlu nekat mengingat tempat ini cukup jauh dari rumah.

“Permisi,” ucap Elina dengan canggung, “kayaknya ban sepeda saya bocor. Kira-kira di sini bisa benerin gak, ya, Pak?

Elina mengerjap, mereka juga ikut mengerjap.

“Bisa, Neng. Tapi tunggu bentar, ya, yang lagi kosong belum diajarin kalau sepeda.”

Elina mengangguk paham.

“Nan, coba itu sepeda si neng taruh di saja dulu.”

“Iya, Bang. Sebentar.”

Elina membasahi bibir bawahnya. Panggilan juga suara yang menyahut barusan tak asing untuknya. Walau ia sudah tak mendengar suara itu setahun ke belakang, tapi ia yakin kalau pemiliknya adalah Hanan.

Alis Elina terangkat begitu sosok yang dipanggil menampakkan mukanya. Benar sesuai dugaannya, itu adalah Hanan yang kini mengeluarkan reaksi tak jauh berbeda darinya.

Hanan semakin mendekat, Elina spontan menahan napas. Cowok yang kini tampil dengan rambut cukup pendek itu mengambil alih sepedanya, tapi ia tak lantas membawanya ke tempat yang seharusnya.

Mereka bertatapan sebelum akhirnya Hanan mengukir sebuah senyuman.

“Hai, Lin,” sapanya.

Elina tanpa sadar memainkan jarinya, berusaha menghilangkan rasa canggung yang semakin memuncak. Cewek itu mengukir senyum, kelihatan sekali kalau Elina memaksa agar itu bisa ia tampilkan.

“Halo, Nan ....”

Hanan masih mempertahankan senyumnya. Ia tak bisa berbohong kalau ia senang melihat Elina ada di hadapannya lagi setelah sekian lama. Laki-laki itu sedikit mencengkeram sepeda Elina, walau senang ia tetap merasa ada sesuatu yang menahan mereka untuk kembali seperti semula.

“Apa kabar?”

Hanan bertanya dengan pelan dan tenang, tapi Elina merasa kalau ia diteriaki oleh laki-laki itu.

Mereka sudah lama kenal karena sempat sebangku saat kelas 8. Lama-lama menjadi akrab dan nyaman berbagi cerita. Perbincangan mereka melebar hingga ke tahap menceritakan masalah dan menyarankan solusi. Setelah berbeda sekolah pun, mereka tetap bisa mempertahankan pola hubungan itu.

Harusnya, pertanyaan seperti 'apa kabar?' tak pernah mereka pertanyakan karena saking seringnya berkomunikasi lewat pesan. Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa begitu menekan untuk memberikan jawaban yang tak kalah sederhana.

Padahal dulu mereka bisa mengetahui kabar masing-masing tanpa perlu bertanya.

Elina memberanikan dirinya lagi untuk menatap Hanan. Dia mengangguk dan kembali memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku baik, kamu?”

Satu hal yang jelas terlihat. Situasi ini sama-sama tak pernah mereka inginkan.


“Pake yang bener, ih, jaket lo,” ucap Awan dengan gemas. Sudah jelas Jennifer memakai crop top tapi perempuan itu masih enggan menyatukan kedua sisi jaketnya.

Laki-laki itu kira, Jennifer akan melakukan itu sekalian saat dirinya mengganti bawahannya dengan celana yang Awan bawa.

Jennifer menghela napasnya, tanpa kata menuruti apa kata Awan.

“Bagus,” komentar Awan kala selesai. Dia kemudian mengambil satu helm lagi yang tak ia pakai. Awan memasangkannya ke kepala Jennifer tanpa kata. Tindakannya itu tentu membuat Jennifer tertegun untuk beberapa detik.

“Lo emang gak ada temen buat balik bareng?” tanya Awan.

“Ada, dia juga nawarin buat bareng tadi,” jawab Jennifer ringan.

Awan mengernyit. “Lo kenapa gak bareng aja aja? Malah bangunin orang tidur. Untung besok Minggu.”

Jennifer menatap Awan dengan sebal. Ia kira Awan sudi datang ke sini itu berarti ia tka keberatan. Nyatanya laki-laki itu masih saja mengeluarkan protesannya.

“Gak enak, she is with her crush.”

“Lah? Baru crush mau jemput dia jam segini? Bucin tolol.”

Jennifer menatap Awan lekat. Bagaimana, ya, kalau laki-laki ini tahu bahwa yang dia katain tolol barusan adalah temannya sendiri?

“Lo juga,” ucap Jennifer menggantung.

“Juga apa?”

“Mau jemput gue jam segini. Mereka mending karena punya perasaan buat satu sama lain. Sementara kita? Gak ada, Wan.”

Awan terdiam, baru sadar kalau tindakan dan perkataannya tak seiras. Laki-laki itu berdeham, mengurangi kecanggungan yang ia yakin hanya dirinya saja yang merasakannya.

“Ya, gue, kan, tetap manusia yang harus menolong orang. Udah, ah, ayo balik. Ke rumah lo, 'kan?”

“Soal itu ... gue yakin udah dikunci. Boleh gak, Wan, ke rumah guenya pas pagi aja?”

Awan menatap Jennifer dengan heran. Mau ngapain lagi, dah, ni cewek?

“Terus lo mau ke mana?”

“Ikut lo.”

“Hah?”

“Gue ikut lo.”


Awan berdecak sebal, sadar kalau sekarang apartemennya sudah terkunjungi oleh seorang perempuan. Untung tak terlalu berantakan.

Awan mengambil baju yang ada di paling bawah lemarinya. Itu hanya kaos yang sering ibunya beli, tapi belum sempat Awan pakai. Terbukti dengan plastik yang masih mengelilinginya.

Awan melemparkan benda itu kepada Jennifer. Untungnya, perempuan itu sigap menangkapnya.

“Ganti ah, baju lo. Gue gak suka lihatnya,” ucap Awan.

“Lo kalau mau tidur di sofa aja, ya. Gue mau ke kamar, ngantuk.”

Jennifer mengerjap. “Tapi, Wan—”

Belum selesai Jennifer berucap, Awan sudah menutup kamarnya. Perempuan itu menghela napasnya, padahal ia hanya ingin bertanya kamar mandinya ada di mana.

Jennifer menatap sekitarnya. Mungkin ia akan berganti di sini, mumpung ia hanya sendirian. Setelah itu, Jennifer juga berbaring di sofa yang Awan maksud dengan menumpuk bantalnya terlebih dahulu.

Sofa nya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tubuh Jennifer jika ia melipat kalinya. Perempuan itu tak langsung terlelah, ada hal yang mengganggu pikirannya.

Kenapa, ya, Awan sudi jemput gue? Padahal kayaknya dia bukan tipe manusia yang gampang peduli.

Lama-lama, mata itu terpejam juga. Hari ini, Jennifer lumayan banyak memiliki kegiatan. Setelah photoshoot, ia harus menghadiri pesta yang diadakan agensinya. Mau pulang lebih dulu pun selalu ditahan oleh yang lain. Makanya, Jennifer baru bisa keluar sekitar pukul 2 lebih.

Yang tidak Jennifer ketahui, Awan kembali keluar kamarnya untuk memeriksa keadaannya. Mengetahui dirinya sudah tertidur, Awan kembali masuk untuk mengambil selimut. Awan memakaikannya kepada perempuan yang cukup merepotkannya hari ini, lalu kembali masuk ke kamar untuk menyusul ke alam mimpi.

Ah, iya.

Awan juga sempat mengusap pipi Jennifer sebentar.

hoshi as Edward sana as Anna. zoa as Amy.

note : ini minim dialog.


Amy's POV.

Manusia itu sebenarnya menakjubkan, ya? Terlepas dari jalan mana yang mereka pilih untuk dipakai melangkah, semuanya tetap berujung pada diri mereka sendiri.

Namaku Amy—Amy Kwon. Lahir 16 tahun yang lalu dengan hanya diberi satu harapan, yakni dipenuhi cinta kasih dari orang sekitarnya sesuai nama yang selalu tubuhku bawa kemana pun.

Aku anak tunggal dari pasangan Edward dan Anna. Hidup lumayan berkecukupan mengingat papi kerjanya arsitek dan mami yang sekarang udah punya dua kafe.

Papi orangnya tampak kaku, tapi kalau udah nyaman dia bakal bersikap sangat hangat. Terkadang buat tulisan yang katanya iseng, lalu dipublikasikan di blog yang dia punya. Gak pernah menyatakan langsung, tapi dari phone case sampai jaket yang bertema harimau, papi suka sama hewan itu.

Mami orangnya hangat dan murah senyum, nomor satu tempat ternyaman yang aku punya. Cantiknya gak pernah luntur sampai sekarang bahkan aku beberapa kali dikira sebagai adiknya mami. Mami jago masak, apalagi kalau buat kue—jangan heran, dia memang pastry chef. Namun, Mami gak bisa kalau sehari gak megang oven atau bikin adonan.

Orang-orang bilang kalau papi sama mami adalah dua orang yang pantas buat dijadikan contoh 'orang tua yang baik'. Semua teman-teman yang datang ke rumah bilang begitu, bahkan sepupuku juga pernah bilang hal yang sama.

Aku juga sempat lihat beberapa komentar yang menyukai parenting-nya papi dan mami.

Aku juga sangat mengagumi mereka berdua sama seperti orang-orang yang udah kusebut sebelumnya. Mungkin, aku adalah orang yang paling mengagumi papi dan mami.

Aku sudah sering menyatakan dan menunjukkan itu. Jadi, untuk kali ini biarkan aku membahas hal yang sedikit berbeda.

Di antara semua hal yang aku kagumi tentang papi dan mami. Aku sebagai anak mereka juga mempunyai hal yang kubenci tentang keluargaku. Kamu akan mengetahuinya di sini, jadi selamat menikmati.


I hate it when they become strangers when I'm not around.

Papi sama mami bilang kalau 31 Mei selalu menjadi hari berkesan untuk mereka. Itu hari kelahiranku, di mana papi dan mami memulai peran baru mereka sebagai orang tua.

Jika kami ada di ruang ramai, mata mereka berdua selalu senantiasa menatapku. Memperhatikan semua gerak-gerikku tanpa kenal lelah.

Papi dan mami adalah dua orang yang paling memahami bagaimana si Amy ini bekerja. Mereka akan menjadi sangat akrab jika topiknya aku, akan menatap dengan sayang jika ada aku, akan menjadi dua orang yang cocok bersama untuk melakukan sesuatu.

Aku selalu takjub ketika papi dan mami menanggapi semua yang aku tanyakan. Aku juga menjadi takjub ketika papi dan mami menghadapi orang-orang di sekitar mereka dan menghadapi aku. Itu berbeda.

Seberapa hebatnya papi dan mami dalam menjalankan peran mereka sebagai orang tua. Ada satu hal yang akan terus menggangguku dan membuat aku merasa enggan meninggalkan mereka berdua.

Aku gak pernah memergoki papi dan mami bermesraan. Gak pernah ada adegan pelukan di pagi hari ketika mami memasak atau sekedar bergandengan kala berjalan bersama.

Aku pernah sengaja masuk ke rumah tanpa mengatakan permisi. Aku mendapati bagaimana papi dan mami seperti dua orang asing yang harus ada di satu ruangan yang sama. Papi akan sibuk dengan laptopnya dan mami menonton televisi. Mereka duduk dengan jarak yang cukup jauh.

Tak ada obrolan, tak ada pula sandaran di pundak. Niatku memberi waktu agar mereka berdua menjadi kembali muda dengan menikmati cinta yang ada. Namun, yang aku dapati malah mereka yang sibuk masing-masing sampai membuatku bertanya, apakah cinta itu masih ada?

Aku benci hal itu.

Aku benci ketika papi dan mami, malah jadi dua orang asing ketika aku gak ada. Padahal mereka sudah menikah lama, mereka sudah hidup bersama denganku hampir 17 tahun lamanya.

Awalnya aku pikir itu hanya sesekali. Nyatanya, mereka selalu begitu. Jadi, aku gak bisa menahan diriku buat gak bertanya.

“Papi sama mami kenapa, sih?”

“Kami kenapa, sayang?”

“Kenapa kayak gak kenal satu sama lain kalau aku gak ada?”

Mereka diam. Kelihatan bingung.

“Harusnya kami kayak gimana, Dek?” Sekarang, papi yang ngomong.

“Ya ... kaya suami istri. Mesra-mesraan atau gimana gitu ... masa duduk aja ada jaraknya.”

Papi dan mami sekarang kelihatan canggung. Mereka saling melempar tatapan sebelum kembali melihat ke arahku lagi.

“Maaf, ya, Dek. Papi sama mami gak bermaksud kayak gitu, kami udah biasa kayak gini,” ucap papi.

“Ya, jangan dibiasain, dong. Aku tuh sengaja kalau libur suka keluar biar papi sama mami bisa ngehabisin waktu berdua. Aku pikir kalian memang sengaja gak mesra-mesraan di depan aku, jadi aku maunya di belakang aku kalian saling sayang.”

“Amy, papi sama mami saling sayang. Kalau enggak kami berdua gak bersama-sama di depan kamu sekarang,” kata mami.

“Gak semua sayang harus dilampiaskam dengan sentuhan fisik, Dek,” sambung papi.

Aku menggeleng. “Enggak ... kalian beda. Kalian malah kayak orang asing yang harus duduk bareng.”

Papi sama mami diam lagi.

“Papi minta maaf, ya, Dek? Kami berdua menikah bukan karena saling cinta, bertahan juga karena kehadiran kamu. Rasa sayang itu muncul belakangan,” ucap papi.

“Lalu, bagaimana kami menghabiskan waktu berdua ... gak seharusnya semuanya kamu ketahui. Karena ketika berdua, kami hanya Edward dan Anna. Bukan papi dan mami yang kamu kenali.”


I hate it when they make decisions about us without me.

Ada yang bilang, seribu kebaikan bisa menjadi hilang hanya karena satu kesalahan.

Manusia terkadang akan menjadi egois dan enggan ikhlas. Selama perjalanan yang aku punya pun, aku mengalaminya.

Papi dan mami selalu membimbingku dengan baik. Mereka tahu apa yang akan aku pilih buat dilakukan, tapi gak pernah memaksaku untuk segera mengatakannya.

Dalam sebuah keluarga, semua anggota butuh duduk bersama untuk berbincang, untuk menetukan segalanya yang berhubungan dengan seisi penghuni rumah.

Papi dan mami juga selalu melakukannya padaku.

Mami selalu minta pendapatku kalau dia punya resep baru, foto yang mami ambil, bahkan sekedar tayangan televisi. Papi juga terkadang selalu tanya pendapatku soal tulisan yang papi buat khusunya tema yang dia bahas.

Papi dan mami bilang, mereka perlu untuk berbagi isi hati agar aku juga gak ragu kalau ingin melakukan hal yang sama ke mereka.

Walau hanya terjadi sekali, tapi aku terkadang terus mengingatnya dan menahan diri untuk tak membahasnya lagi. Mereka berdua pernah tak mengajakku dalam membuat keputusan, padahal itu juga soal rumah yang kami inapi hingga hari ini.

“Kita mau tinggalin rumah ini? Mami sama Papi kok gak tanya aku?”

“Amy, gak mau pindah dari sini?”

“Papi dulu cerita sama Amy. Kalau rumah ini berharga. Kata papi, di sini semuanya dimulai dan papi ngerasa nyaman ada di sini. Papi emang gak sedih kalau kita ninggalin rumah ini?”

Berkat ucapanku yang itu, akhirnya kami tetap bisa tinggal di sini bersama-sama.


I hate it when they can find out about me so easily.

Jika ditanya siapa yang paling mengenaliku, tentu jawabannya adalah papi dan mami. Ini juga alasan kenapa aku jarang membutuhkan kehadiran orang lain di kehidupanku.

Aku butuh papi buat jaga aku, aku butuh mami buat mendampingimu. Papi memberi rasa aman dan mami memberi rasa nyaman.

Papi dan mami itu menakjubkan. Mungkin ini memang wajar dirasakan oleh orang tua, tapi aku tetap gak bisa untuk gak kagum pada keduanya.

Papi dan mami yang tahu aku lagi senang karena dapat sesuatu, papi dan mami yang tahu ketika aku menginginkan sesuatu, juga papi dan mami yang bisa tahu aku gak baik-baik aja. Gak semua berhasil aku katakan, tapi papi dan mami selalu sanggup untuk mengetahuinya.

Terkadang akan ada titik di mana aku enggan berlari ke arah mereka. Seringnya soal hubungan sosialku dengan teman sekolah di mana itu memang urusanku dan aku gak ingin papi dan mami terlibat.

Namun, sekali lagi. Papi dan mami bisa mengetahuinya dan itu sering membuatku tertekan karena gak bisa bercerita ke mereka. Aku benci karena aku merasa dikejar oleh papi dan mami, bahkan di saat yang mereka lakukan hanya menatapku saja.

Jika itu terjadi, aku perlu untuk menerima perasaan sedihku lebih dulu, aku perlu menelan bulat-bulat rasa marahku dulu agar semua yang tercerita tak terpercik rasa benci. Kepalaku perlu menjadi dingin agar tak meledak di hadapan mereka yang nantinya mungkin bisa lebih parah karena mau bagaimana pun, papi dan mami tetaplah orang tua yang mampu menjadi over protective ketika menemui alasannya.

Jika ada sesuatu yang belum ingin aku ceritakan. Papi dan mami memang gak akan memaksa untuk aku berkata. Mereka membiarkan aku ada di kamar, menyusul setelah lumayan lama, lalu mereka akan melakukan hal yang ujungnya membuat aku bercerita.

Seperti waktu itu.

Papi dan mami masuk ke kamarku di jam makan malam. Namun, dibanding mengajakku untuk makan, mereka malah melakukan hal yng berbeda. Mengalihkan perasaan kesalku menjadi penasaran.

“Makan malam diundur sampai jam 7.30, soalnya mami mau cerita sama kalian!”

“Eh? Mami mau cerita?”

“Iya! Gimana kalau kita sharing review hari ini masing-masing. Kayaknya udah lama, ya, kita gak ngelakuin itu?”

“Mau, ayo di sini. Di kamar aku.

Yap, papi dan mami punya kendali sebesar itu terhadapku.


Dibandingkan semua itu, aku lebih benci ketika aku gak bersyukur buat semuanya. Buat kehadiran papi dan mami yang selalu mendampingi setiap langkahku. Buat segala usaha mereka dalam membimbingku untuk terbang ke arah yang memang aku inginkan. Buat kesabaran mereka dalam menemaniku yang kebingungan arah.

Si Amy ini di satu waktu ingin menjadi penari, di waktu lain dia malah diterima audisi untuk berperang sebagai orang lain, di hari lain dia malah membeli buku tentang medis. Aku pernah ada di jalan itu dan papi sama mami dengan sabar membimbingku untuk memilih yang benar-benar ingin aku jadikan tujuan.

Mereka sangat mengapresiasi kehadiranku, begitu pun aku pada mereka. Aku sempat merasa gak butuh orang lain selama papi dan mami masih ada. Aku hanya butuh orang tuaku.

Makanya, aku juga membenci ketika mereka gak ada di sekitarku.

Kata mami, sewaktu bayi aku akan menangis dengan keras ketika dia terpaksa harus pergi ke kafe dan gak memungkinkan untuk menbawaku. Aku gak lelah menangis sampai tubuhku ada di gendongan mami lagi.

Malamnya, ketika papi gak pulang karena harus ke luar kota, aku juga akan menjadi enggan tertidur dan rewel semalaman. Terlebih papi gak mungkin pulang di hari di mana ia baru berangkat.

Kata mami, aku baru bisa diam ketika baju papi menjadi selimut untuk tubuh kecilku.

Dari bayi, kebutuhanku buat kehadiran mereka sudah sebesar itu.

Bahkan sekedar memikirkan kalau salah satu dari mereka akan pergi pun, aku membencinya. Dalam mimpi sekali pun, aku gak siap. Ketika terbangun, aku bisa menjadi histeris dan menjadi marah ketika papi bilang kalau aku perlu bersiap untuk itu.

Batas keberadaan manusia di dunia ini adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan.

Papi dan mami bilang, aku gak suka ditinggalkan mereka. Itu benar. Aku bahkan membencinya meski sekedar terlintas di kepala. Aku ketakutan.

Tak banyak yang aku benci soal papi dan mami. Hal di atas pun, ujungnya malah menjadi alasan agar aku bersyukur atas kehadiran mereka berdua.

Edward dan Anna. Dua orang yang selalu ada di posisi teratas dalam pikiran juga hatiku. Ditinggalkan mereka adalah hal yang paling kubenci seumur hidup.

“Amy.”

Aku beralih dari buku yang semula menjadi tempatku menulis semua yang aku sampaikan pada kalian. Beralih pada sosok yang berdiri di ambang pintu.

“Ah, iya. Kenapa?”

“Gak papa, kamu ke klinik jam berapa?”

“Hari ini jam 8 ... oh, iya, aku mau ketemu papi sama mami dulu.”

“Aku ikut, ya?”

Aku mengangguk. “Boleh, tapi nanti kita nanti beli bunga dulu, ya?”

dan akan ada masa di mana kita perlu memaksa diri untuk berdamai dengan keadaan. Termasuk hal yang paling kita benci sekalipun.

Wonwoo as Awan. Jennie as Jennifer.


Ada satu hari di mana Awan gak mau jadi siapa-siapa. Dia gak butuh untuk jadi seorang teman, untuk jadi seorang anak, bahkan untuk sekedar jadi Awan Pradipta yang orang-orang bilang hobinya nantangin angin.

Orang-orang akan paham kalau Awan ada dalam kondisi ini. Gak ada yang ngehubungin dia, gak akan ada yang mengunjungi dia. Mereka membiarkan Awan tinggal sendiri di kamarnya, meringkuk dengan selimut yang tebal.

Jika dipikirkan lagi, ada di kondisi itu di umurnya yang udah melewati 25 rasanya cukup keterlaluan. Awan bakal merasa bersalah karena gak ngehasilin apa pun dalam seharian penuh.

Namun, hari ini, buat sekali aja. Awan mau itu lagi, dia butuh untuk menjadi sendiri. Dia menginginkan itu untuk jadi kado ulang tahunnya.

Rentetan notifikasi tentang ucapan selamat ulang tahun yang masuk ke ponselnya gak Awan hiraukan. Cowok itu memejamkan mata, ia bisa membalas itu di esok hari.

Tampaknya, dunia gak mau Awan sendiri hari ini. Di antara semua yang paham kalau Awan ingin sendiri, ada satu orang yang selalu memaksa masuk buat menemani dia.

Buktinya sekarang di apartemen yang udah jadi tempat pulangnya beberapa tahun terakhir ini, ada dia yang bisa masuk tanpa permisi. Ada dia yang tahu segalanya tentang Awan, ada dia yang selalu ngerepotin dirinya buat bikin kue yang bahkan nantinya gak akan mereka habiskan karena sama-sama gak doyan manis.

Awan yang duduk malas di sofa dengan selimut yang membungkus tubuh yang itu menatap dengan mata sayu. Sementara si tamu rasa tuan rumah lagi berdiri dengan kue yang ia buat sendiri.

Ada dua lilin di kue itu, menuliskan umur yang baru Awan temui hari ini. Cewek itu memberikan senyumannya sembari jalan ke arah pacarnya.

“Selamat ulang tahun, Awan, my baby!”

Awan tersenyum geli mendengar panggilan itu. “Aku lagi mau sendiri padahal, Jen.”

“It's your special day, I don't want you to be alone,* Awan sayang.”

Awan tertawa kecil. Iya, dia seneng walau niatnya untuk sendiri udah jelas terganggu. Tapi ini Jennifer, Awan gak bisa untuk gak bahagia atas segala gerak-geriknya.

Terkadang, Awan ingin sendirian. Namun, Jennifer selalu punya kekuatan untuk menembus segala pintu yang ia miliki.

Menembus supaya mereka bersama dan bisa membuat Awan tetap senang meski gagal sendirian.

Cewek itu bertumpu dengan lututnya, menghadap yang lebih muda beberapa bukan darinya itu yang tengah duduk di atas sofa. Awan udah gak bersandar, dia menegakkan tubuhnya guna mempermudah mata mereka buat saking bertemu.

Jennifer mendekatkan kue yang sengaja ia buat dalam ukuran kecil itu pada kekasihnya. “Make a wish dulu, baru tiup lilinnya.”

Apa yang Jennifer katakan, maka itu yang akan Awan lakukan. Cowok itu memejamkan matanya, dia gak butuh waktu lama untuk membuat harapan karena Awan mulai merasa cukup dengan hidupnya sendiri. Selepas itu, dia memadamkan api yang menyala pada sumbu lilin.

Awan mungkin melihatnya secara berlebihan. Namun, Jennifer memandangnya dengan binar paling indah yang pernah Awan lihat.

“Awan, do you believe in miracles?” tanya Jennifer.

Awan menaikkan sebelah alisnya, heran karena Jennifer tiba-tiba menyinggung soal itu. Seolah paham kalau Awan menunggu maksudnya bertanya demikian, Jennifer kembali berucap, “Orang-orang bilang aku kurang beruntung karena harus sama kamu yang serampangan. Kamu yang balapan, kamu yang hobinya bantah, kamu yang disebut bebal karena ketinggalan dari temen-temen kamu yang sehari-harinya gak jauh beda sama apa yang kamu lakuin.”

Baiklah, Awan gak tahu soal ini. Jennifer gak pernah bilang bagaimana pandangan orang-orang di sekitar cewek itu tentang dia.

Jennifer memandang Awan penuh arti. “I do believe in miracles since the day I found you. Di antara semua penilaian soal kamu, yang mereka gak tahu adalah kamu udah buat aku jadi orang yang lebih berani. Kamu juga kasih aku pengertian soal perlunya menikmati hidup sendiri.”

Awan mengusap pelan pipi Jennifer kalau perempuan itu melukis sebuah senyum. Ada efek tersendiri yang gak bisa Awan jelaskan, yang jelas dia menyukai efek ini karena dia selalu hadir ketika Jennifer bersamanya.

“Kebalik kali. You are a miracle to me. You made me a better person, Jen,” ucap Awan diakhiri senyuman tipis.

“*Well ... then we are a miracle to each other, *” ucap Jennifer dengan senyuman paling manis yang Awan pernah janjiin untuk selalu hadir di antara momen mereka berdua.

Isi kepala Awan berganti. Tadinya dia ingin sendiri, tapi sekarang Jennifer malah menguasainya sendiri. Jennifer, Jennifer, Jennifer.

Silakan katain Awan bulol atau apa, yang jelas dia mungkin gak akan bisa lanjutin langkahnya kalau gak ada Jennifer. Kalau bisa pun, butuh waktu lama buat kakinya berkenan melangkah lagi.

Jennifer segalanya buat Awan. Dia gak akan pernah capek buat ngejar cewek itu sampai mana pun.

I am so thankful for being with you, Awan sayang. Hope the best on your birthday.

Awan tersenyum geli. “Gak perlu berharap lagi, aku udah dapetin yang terbaik itu di hadapan aku sekarang.”

Soonyoung gak tahu harus bersikap kayak gimana ketika Jihoon udah masuk ke kamarnya sama temen-temennya. Mereka bertiga sekarang malah ninggalin Soonyoung di sini sendirian dengan alasan nyari sarapan dan dia bakal dibawain nanti.

tanya cowok yang udah dia anggap adiknya sendiri itu ke mana, dia beneran memanfaatkan waktunya di sini buat jalan-jalan.

Sebenarnya, Soonyoung gak kau ketemu Jihoon. Dia malu karena secara gak sengaja udah nyindir Jihoon yang bareng sama Eunha terus. Yang secara gak langsung juga nunjukkin kalau dia gak suka itu.

Namun, Jihoon tetap memaksanya supaya mereka bisa bicara.

Sekarang, cowok yang pakai kaos hitam itu tetap berdiri di dekat pintu yang udah dia tutup. Bersebrangan sama Soonyoung yang duduk di tepi ranjang.

“Soonyoung,” panggil Jihoon pelan, tapi itu tetap bisa menghadirkan efek tersendiri di badan Soonyoung yang entah sejak kapan perlu ngerepotin dirinya buat cemburu sama cowok ini.

Soonyoung mendongak, dia mau lihat wajah Jihoon. Berusaha mengabaikan gimana gelisahnya dirinya, cowok Gemini itu membalas, “Kenapa?”

“Gue boleh duduk di situ?”

Satu anggukan diberi, banyak langkah yang Jihoon ambil buat sampai di sebelah Soonyoung. Ikut duduk manis di sana dengan jantung yang sama-sama gak karuan.

Jihoon gak mau mereka menghabiskan waktu dengan diam lama-lama. Namun, dia juga kebingungan harus gimana. Pada akhirnya, cowok itu malah berkata, “Soon, lo pernah denger soal 'love is crazy' gak?”

Soonyoung mengerjap dan mengangguk.

“Gokil gak, sih, ketika satu manusia cuma mau menyampaikan perasaannya, tapi dia malah dapetin julukan macem-macem? Dari bucin sampai bulol, disebutin semua.”

Sejujurnya, Soonyoung kebingungan kenapa Jihoon datang membawa topik ini. Jadi, mulutnya menjadi kaku karena gak tahu harus bilang apa.

Jihoon bisa menangkap itu. Soonyoung yang bawel bisa berubah jadi anteng ketika bareng Jihoon karena obrolan yang lebih muda bawa selalu perlu dicerna lebih lama oleh Soonyoung.

“Udah jelas sayang itu pasti ada batasnya, tapi tetep aja beberapa orang maksa buat ngelewatin batas itu. Bertindak layaknya budak, padahal digaji cuma sama kasih sayang. Kadang malah dibales sama yang nyakitin, tapi gilanya masih jadi orang yang paling khawatir.”

“Lo beneran nganggep cinta itu gila, ya?” Akhirnya, Soonyoung membalas.

Jihoon ketawa, kedengeran renyah tapi ngebingungin buat Soonyoung. Pertanyaannya gak cukup lucu buat diketawain sama orang semacam Jihoon.

“Bukan nganggep, sih. Lebih ke mikir, kayaknya cinta emang gila. Orang bisa jadi yang paling berkorban karena cinta, orang bisa ngasih hampir seluruh waktunya karena cinta, dan orang-orang pun kadang maafin kesalahan besar karena cinta,” balas Jihoon.

“Terus menurut gue, yang lebih gilanya adalah cinta bisa bikin satu orang mengasihi orang lain lebih dari dirinya sendiri. We make a fool of ourselves when we're in love. Being in love makes us crazy.

Jihoon menatap Soonyoung yang menatap jari-jarinya sendiri. Mungkin Soonyoung gugup karena dia gak berhenti memainkan jarinya.

“Soonyoung,” panggil Jihoon dan cowok itu menoleh dengan cepat.

“Tadi gue bilang kalau being in love makes us crazy,” ucap Jihoon dengan menggantung.

Do you want to go crazy with me?