karsalakuna

Pemandangan dua orang berdebat sambil memakai sepatu mereka adalah hal yang udah gak asing buat Helios dan Helia. Dua anak kembar itu hampir selalu menyaksikannya setiap pagi, kala menunggu yang bersangkutan untuk berangkat bersama.

“Lo, sih, pake bilang ke mama! Jadi, kena marah, 'kan, kita berdua.”

“Ya lo lah, bolos ngajak-ngajak gue. Harusnya lo doang yang kena semprot.”

“Argh! Kalian udahan, dong! Buruan di sepatunya, nanti kita ketinggalan bis lagi,” protes Helia, sudah bosan mendengarkan.

Dua orang yang kena omelan mengerjap, menatap orang yang barusan bersuara.

“Iya, maaf, yak, Dek. Yuk ah, kita cus berangkat,” ucap Chelsea, salah satu di antara mereka. Orang yang mengomeli adiknya karena mengadu soal ketidakhadirannya di tempat les kemarin.

Meski yang paling tua, Chelsea tetap menjadi yang paling mungil di antara mereka. Gak menghiraukan hal itu, dia malah merangkul Helia dan mengajaknya untuk berjalan berdampingan. Membuat yang dirangkul perlu sedikit membungkuk untuk menyesuaikan.

“Lah, kok gue ikut ditinggal?” protes Helios sebelum berlari kecil menyusul dua cewek yang kalau boleh dilebihkan, udah dia kenali semenjak menyambut dunia dengan tangisan.

Elvano, sosok yang udah badmood karena ikut kena omel seusai sarapan itu cuma memutar bola matanya malas. “Ah elah, pait banget hidup gue,” celetuknya sebelum ikut menyusul tiga orang lainnya.

Sudah jadi tetangga semenjak dalam perut, membuat mereka berempat mau gak mau saling mengenal. Terbiasa bersama sejak kecil, bahkan sekolah pun sampai harus disamakan.

Dibandingkan, Elvano, Helios, dan Helia, Chelsea lebih dulu menghadapi kehidupan. Meski cuma berbeda satu angkatan, tapi tetap saja dia dinilai lebih jago buat menghadapi hari-harinya.

Penyebab lainnya karena dia harus mempunyai adik yang umurnya tidak jauh darinya, Elvano. Cowok yang bahkan hadir di rumah mereka di luar rencana yang seharusnya karena insiden yang disebut kebocoran.

Berbanding terbalik dengan Helios dan Helia. Mereka lahir bersama. Mereka juga punya wajah yang hampir sama. Jadi, kata mami jangan sampai gak sama-sama.

Biasanya dalam pertemanan akan ada lingkaran dalam lingkaran. Itu pun terjadi di antara mereka, tepatnya pada Helios dan Chelsea. Kegemaran mereka dalam menggoreskan tinta juga memainkan warna, membuat mereka terkadang ada dalam ruang sendiri. Namun, jangan khawatir, jika sudah begitu Helia dan Elvano akan mencari cara tersendiri supaya gak mereka juga mempunyai kegiatan bersama. Joget tiktok, contohnya.

Namun, untuk di cerita ini, kita akan fokus pada dua orang saja seperti yang tertera di kepala thread. Helios dan Chelsea atau yang lebih akrab dipanggil Iyos dan Cece.

Mereka juga pertemanan yang nyaris menjadi seperti lagu 'Hati-hati di Jalan' milik Tulus.


Diperkenalkan ke dunia gambar, membuat Helios ikut tertarik juga kepada yang mengenalkannya, Chelsea. Awalnya, dia biasa aja pada sosok itu mengingat mereka bahkan menyaksikan bagaimana tubuh masing-masing terbalut hitam gara-gara jatuh di selokan.

Namun, makin bertambahnya umur, Helios makin menyadari kalau Chelsea ada di mana-mana. Di sekolah sebagai kakak kelas, di tempat les karena Helios ikut les di sana, dan di sekitar rumah karena mereka tetangga. Terkadang, ketika Helios sedang hangout bersama teman-temannya pun, dia bisa berpapasan dengan Chelsea yang juga sedang bersama teman-temannya.

Helios gak bosan, sumpah. Dia gak mempermasalahkan itu karena pada faktanya, dia senang melihat wajah mungil Chelsea dengan rambut pendek mengembangnya yang sudah khas.

Namun, ada satu waktu di mana Helios jadi melihat Chelsea dengan cara yang berbeda. Chelsea yang pernah dia lihat kucelnya itu, satu hari bisa menjadi cewek paling cantik yang pernah Helios lihat.

Waktu itu, cowok yang akrab dipanggil Iyos itu sedang mencari inspirasi sebagai latihannya dalam menggambar ilustrasi. Menggambar artis sudah bosan, menggambar dirinya takut gak puas karena ia tahu aslinya jauh lebih tampan.

Jadi, Helios iseng. Dia melihat satu per satu gambar di galerinya dan menemukan potret Chelsea yang pernah cewek itu gak sengaja kirim ke group chat dan belum dia hapus. Helios makin iseng dengan mencoba membuat ilustrasi berdasarkan potret itu. Makin lama dilihat, makin sering ia terpaku.

Ternyata, Kak Ce cantik juga, ya?

Dari situ, Helios jadi sering memperhatikan wajah Chelsea tanpa ia sadari. Makin lama ia menjadi mengakui kalau Chelsea memang benar ada di mana-mana.

Di sekolah, di tempat les, di dekat rumah, bahkan di hatinya.

Anna meletakkan ponselnya di atas laci ketika telepon mereka sudah tersambung. Perempuan itu menyalakan loudspeaker terlebih dahulu. Ia tengah menggendong Amy, tak benar kalau sambil memainkan ponselnya.

“Amy rewel?” tanya Edward. Anna mengangguk meski Edward tak akan melihatnya.

“Iya, dia tadi sempet tidur. Tapi tadi kebangun dan langsung kayak gini lagi.”

Edward terdiam cukup lama dan Anna dapat menangkap kalau suaminya itu pasti merasa bersalah. Namun, bukan saatnya untuk Anna menenangkan Edward. Amy lebih penting sekarang.

“Amy, sayang. Mami gak larang kamu buat nangis, tapi ini udah terlalu lama. It can hurt you,” ucap Anna lagi. Namun, Amy tetap mengeluarkan tangisannya. Memanggil ibunya pun, Anna merasa sungkan. Ini sudah memasuki jam tidur ibunya.

Ed, can you say something? Mungkin kalau denger suara kamu Amy bakal tenang.”

“Adek,” panggil Edward. Amy sempat terdiam, dia seperti mencari dari mana suara itu berasal. Ketika ia tak kunjung menemukan keberadaan ayahnya, Amy kembali menangis.

“Mami pasti capek hari ini, Dek. Kamu juga pasti capek nangis. Udahan dulu, yuk? Papi minta maaf karena pas kamu sedih, papi gak bisa dateng.”

Sejujurnya, Anna lumayan terhibur dengan perkataan Edward itu. Namun, ia paham betul kalau ini bukan saatnya tertawa.

Tangan Anna kembali memberi tepukan pada tubuh Amy dengan pelan. Namun, anaknya itu tak kunjung ingin menyelesaikan tangisannya.

Pintu kamar Anna terbuka. Ada ibunya yang masuk ke sana.

“Mama, maaf ... pasti Mama kebangun gara-gara Amy nangis.”

Ibunya menggeleng. “Mama belum tidur, kok. Udah telepon Edward?”

Anna mengangguk, dia menunjuk ke arah ponsel dengan dagunya. Memberi kode kalau sambungan teleponnya masih tersambung.

“Tadi Amy kayak nyariin Edward, Ma.”

Yang lebih tua menghela napasnya. “Edward gak bawa semua bajunya, 'kan?”

Anna menggeleng. Edward hanya tiga hari di sana, ia tak membutuhkan banyak baju untuk dipakai. Terlebih dia kerja, bukan liburan.

“Mama ambil satu buat Amy boleh, 'kan, Kak?”

Meskipun bingung, Anna tetap mengangguk. Dia membiarkan ibunya membuka lemari mereka untuk mengambil satu kaos milik Edward. Kaos hitam dengan gambar harimau di dadanya, pakaian yang lumayan sering suaminya itu gunakan.

“Sekarang selimutin Amy pakai ini,” ucap ibunya seraya menyerahkan benda itu pada Anna.

“Pakai ini?”

“Iya. Dicoba aja, ya, Kak. Dulu kamu juga pernah mama giniin.”

Anna menurut, dia menjadikan kaos Edward sebagai selimut untuk Amy. Perempuan itu mengerjap ketika Amy perlahan menjadi tenang dan kepalanya bergerak tanda ingin menyusu. Anna dengan cepat menanggapi itu dengan membuka kancing piyamanya.

Anna menatap ibunya tak menyangka. “Ma ....”

Yang dipanggil tersenyum tipis. “Syukurlah, ternyata ke Amy juga manjur. Kalau gitu mama ke kamar lagi, ya? Kamu juga, sesudah Amy tidur harus istirahat.”

Mungkin ibunya itu memang sudah mengantuk. Namun, suara tangisan Amy tentu mengganggu.

Ketika ibunya sudah pergi dan keadaan menjadi hening. Edward kembali bersuara di kala Anna nyaris lupa kalau mereka tengah tersambung lewat telepon.

“Amy beneran tidur cuma karena baju saya?”

“Iya ... saya speechless. Tapi, Ed, aku mau tidurin Amy dulu. Kamu kalau mau matiin teleponnya, matiin dulu aja.”

“Iya, tapi, Na ....”

“Kenapa, Ed?”

“Kayaknya sekarang malah saya yang rewel mau cepet pulang, deh. Amy bisa tenang cuma dengan baju saya—Ya Tuhan, mau nangis.”

Di dalam kamar mereka, Anna kehabisan kata-kata. Di kamar hotelnya, Edward benar-benar menitikkan air mata.

Hoshi as Edward. Erland as Edward's dad.

Setelah jam kuliahnya habis di sore hari, Edward memilih untuk langsung pergi dari area kampus dengan motornya. Rumah besar dengan tiga lantai itu adalah tujuan Edward kali ini. Rumah yang sempat menjadi tempat pulangnya, walau beberapa tahun terakhir ia terpaksa.

Edward berjalan dengan lambat setelah pintu rumah itu terbuka. Ini adalah tempat pulangnya semenjak lahir, tapi kini Edward merasa asing. Edward berusaha meyakinkan dirinya kalau ia merasa demikian karena karena sudah lama tidak ke sini akibat pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus. Walau pada kenyataannya, ia tahu dengan jelas apa penyebabnya.

“Selamat datang, Tuan. Ingin makan siang dulu?” tanya salah satu pelayan yang menyambut kedatangannya di ambang pintu. Sosok yang juga membukakan pintu untuknya tadi.

Edward menggeleng sebagai tanggapan pertamanya. Ia kemudian berkata, “Gak perlu, terima kasih. Papa di kamarnya, 'kan?”

“Iya, Tuan. Baru saja dokternya pergi setelah pemeriksaan rutin Tuan Besar.”

Edward mengangguk paham. “Saya mau langsung ke sana saja. Mari, Pak.”

Selama perjalanan menuju kamar ayahnya, kepala Edward terasa penuh. Banyak yang dirinya pikirkan. Mulai dari bagaimana sikap yang harus ia tunjukkan serta memperkirakan apa saja yang ingin ayahnya katakan.

Aneh memang karena Edward kali ini kebingungan saat bertemu dengan ayahnya sendiri. Jika bukan karena keadaan pria itu yang tiba-tiba drop, mungkin Edward tak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di lantai rumah ini.

Langkah Edward tertahan di depan pintu. Ia mengambil napas dalam-dalam guna meyakinkan dirinya sendiri. Setelah itu, dengan mantap ia membuka pintu, tapi Edward sekali lagi tertahan di sana kala melihat siapa yang ada di dalam kamar ayahnya.

Ada Erland, ayahnya yang tengah terbaring. Lalu ada istri barunya dan juga anak mereka. Melihat dua perempuan yang akan selalu menjadi asing untuknya itu membuat Edward tak berani untuk melangkah masuk.

Paham dengan keadaan, perempuan itu membawa anaknya keluar dari kamar tanpa melemparkan sepatah kata pun pada Edward. Edward mendekat pada ayahnya setelah pintu kembali ia tutup.

“Kamu datang sendiri? Evan ke mana?”

Edward terdiam sejenak, ayahnya pasti akan bertanya soal kembarannya itu. Mengingat dia memang mengundang mereka berdua untuk datang hari ini. Namun sayangnya, Edward gagal membujuk Evan. Kembarannya itu masih tak ingin menerima apa yang ayah mereka lakukan di masa lalu.

“Evan sibuk, Pah,” jawab Edward.

“Sibuk menghindar dari papa,” balas Erland. Edward hanya diam, tak mengelak tapi tak juga membenarkan.

Selanjutnya, Edward duduk di tepi ranjang ayahnya. Matanya langsung terpaku pada foto yang terpajang di atas laci. Foto keluarganya kala masih baik-baik saja. Ada ayah dan ibunya, ada dirinya juga Evan yang tersenyum dalam foto itu.

Pada ujung kaca figuranya terdapat retakan. Selayaknya hubungan keluarga mereka sekarang. Retak dan tak akan pernah sama lagi.

“Papa sebenarnya berharap kalian berdua bisa datang hari ini, tapi papa bisa memahami Evan. Dengan kamu yang berkenan untuk datang ke sini pun, papa sudah bersyukur,” ucap Erland sebelum terbatuk. Edward dengan sigap mengambil air yang sengaja disediakan di dekat figura tadi. Namun, ayahnya memberi isyarat kalau itu tidak perlu ia lakukan, jadi Edward meletakkan gelasnya ke tempat semula.

“Keadaan Papa gimana?” tanya Edward, mengalihkan pembicaraan.

“Kamu bisa lihat sendiri, papa tidak bisa menjamin akan bisa lebih baik lagi.”

Edward terdiam. Meski hubungan mereka telah merenggang semenjak ibu dan ayahnya bercerai, Edward tetaplah seorang anak yang akan merasa khawatir saat orang tuanya ada saat keadaan sakit. Terlepas dari sikap buruk ayahnya yang membuat keluarga mereka menjadi hancur.

“Kuliahmu bagaimana? Papa dengar dari ayah Mikhael kamu mau bangun rumah sendiri?” Erland membawa topik baru lagi. Ia sadar kalau Edward tak akan membalas ucapannya tadi.

“Iya ... baru mau, kuliahku udah masuk ke semester 5,” balas Edward.

Untuk beberapa menit, keduanya terlibat dengan hening. Edward masih menatap pada foto mereka, enggan melihat pada ayahnya. Dalam hati, ia sedikit tidak menyangka karena Erland tak memajang foto keluarga barunya. Dia malah memajang foto lama mereka berempat yang bahkan diambil ketika ia dan Evan masih Sekolah Dasar.

“Dulu sewaktu papa bisa beli rumah ini, papa berharap kalau kalian berdua bisa berlarian dengan bebas karena rumahnya yang luas. Kalian bisa bahagia ada di rumah besar yang leluasa diisi apa saja. Bahkan kalian punya ruangan khusus untuk menyimpan semua mainan kalian.”

Edward tetap diam, membiarkan ayahnya untuk terus menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Edward tetap mendengarkan dengan baik semua yang ayahnya itu ucapkan.

“Sayangnya, papa tidak bisa menyaksikan bagaimana kalian berdua bermain di ruangan itu. Papa malah terlalu memprioritaskan pekerjaan sampai mengabaikan perkembangan kalian berdua.”

Erland menatap pada anak sulungnya yang masih menunduk melihat pada foto, masih enggan untuk menatap ke arahnya. Kemudian, Erland beralih menjadi menatap lekat pada langit-langit kamarnya.

Pria paruh baya itu menghela napas dan kembali berkata, “Papa juga sadar kalau semakin besar kalian semakin tidak nyaman ada di sini. Terlebih dulu setiap pulang, papa sering bertengkar dengan ibu kalian. Papa bahkan menghancurkan kepercayaan kalian berdua.”

Ketika Erland mengatakan kalimat terakhirnya, Edward secara spotan memejamkan matanya. Ia langsung teringat pada kejadian itu dan ia sangat membencinya. Itu bagaikan mimpi buruk untuk Edward.

“Edward, boleh lihat papa?” tanya Erland dan Edward menurut. Ia menoleh dan menatap pada wajah ayahnya yang tampak pucat.

“Papa tidak tahu akan bertahan berapa lama lagi. Papa juga tidak yakin masih bisa bangun saat Evan sudah sudi untuk bertemu dengan papa nanti. Tapi, jika kamu berkenan tolong dengarkan apa kata papa kali ini. Tolong kamu usahakan juga.”

Edward mengangguk, dengan itu Erland kembali berkata, “Tolong bilang pada Evan kalau papa tak akan memaksa dia lagi untuk bertemu. Jika dia mau walau hanya sebentar, papa akan merasa lebih lega saat Tuhan mengharuskan papa untuk pergi nanti. Papa juga tidak akan memaksa kalian berdua untuk melanjutkan usaha papa seperti dulu.”

Erland berhenti sejenak. “Nanti, saat kamu berhasil membangun rumah yang kamu impikan. Tolong ubah rumah itu selayaknya rumah. Jangan biarkan rumah itu hanya menjadi sekedar bangunan. Jadikan dia tempat paling aman dan nyaman untuk pulang. Baik untuk kamu dan juga keluarga kamu nantinya.”

Edward masih diam, tak memberikan tanggapan atas ucapan Erland tadi. Oleh karena itu, Erland kembali berkata, “Dengar, Edward? Jangan sia-siakan rumah kamu seperti yang sudah papa lakukan. Papa tidak akan minta apa-apa lagi dari kamu selain itu.”

Cukup lama sebelum akhirnya Edward mengangguk. “Aku usahain, ya, Pah. Aku juga bakal sampain ke Evan semua yang Papa bilang tadi.”

Erland tersenyum puas mendengar jawaban itu. Tangannya yang bergetar ia dorong untuk bergerak mendekati anaknya. Edward dapat menangkap sinyal itu dengan baik. Ia menunduk dan membiarkan tangan Erland mendarat di pucuk kepalanya, mengelusnya secara perlahan.

“Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Edward. Papa bangga sama kamu.”


“Mendiang kakek itu orangnya gimana, Pi?” tanya Amy sembari melihat pada foto yang terdapat dalam album lama milik keluarga ayahnya. Album yang baru saja ia pinjam dari Evan setelah tak sengaja mendapatinya di rumah pamannya itu.

Edward menoleh, ikut melihat ke arah foto yang terdapat dalam halaman yang Amy buka.

“Kamu dapet album ini dari mana?” tanya Edward, tak langsung membalas pertanyaan anak tunggalnya.

“Dari Om Ev! Katanya ini nenek yang buat, 'kan? Aku mau pinjem soalnya keluarga papi gak kayak keluarga mami ....”

Edward terdiam. Ia dapat menangkap kalau Amy sedikit takut dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan.

“Iya, ini nenek yang buat. Kami gak punya banyak foto bersama, makanya album foto keluarga kami cuma satu.”

Amy mengangguk. “Gak kayak kita.”

“Kalau kita banyak karena papi sama mami sama-sama mau mengapresiasi setiap momen yang ada. Kami berdua mau mengenangnya karena itu adalah bagaimana kami dapat menghidupkan rumah ini,” ucap Edward diakhiri senyuman tipis.

“Tadi kamu nanya soal mendiang kakek, 'kan, Dek?” tanya Edward.

Amy mengangguk. “Iya! Kalau mendiang nenek aku puas banget diceritain sama Om Evan. Kalau kakek ... jarang ada yang nyeritain.”

Edward menatap anaknya itu sebelum kembali melihat pada foto yang ada di pangkuannya. Matanya berfokus pada laki-laki yang mempunyai peran besar untuk kehadirannya di dunia ini.

“Kakek buat rumah yang besar buat kami tinggal di dalamnya. Tapi, rumah itu kayak kosong ... kayak gak bernyawa. Keluarga kami ada tapi gak bisa jadi rumah seperti yang seharusnya.”

Edward memilih untuk tak menceritakan secara detail soal masa lalunya pada Amy. Itu adalah masa lalu yang cukup buruk, Edward tak ingin Amy mengetahuinya. Ketika Amy mengetahuinya pun, itu tak akan merubah apa-apa. Semuanya sudah usai sejak lama.

Edward menatap sekelilingnya penuh arti. “Dulu, papi juga takut kalau rumah ini bakal kayak gitu. Papi gak bisa dapat contoh yang benar buat menjalankan satu rumah.”

“Orang itu ... orang yang udah buat papi berpikiran demikian, satu hari sebelum dia pergi dia malah nyuruh papi buat bangun rumah seperti yang seharusnya. Konyolnya, papi malah menurut ketika papi bahkan gak punya bekal apa-apa.”

Amy menggeleng. “Itu gak konyol! Papi bisa ngelakuin itu dengan baik. Papi bisa jaga rumah ini, termasuk aku dan mami. Papi gak cuma membangun rumah ini, tapi memperlakukannya seperti yang seharusnya.”

Edward tertawa kecil, merasa cukup tersanjung karena Amy mengucapkannya dengan menggebu. Laki-laki itu mengusak rambut anaknya pelan.

“Itu karena permintaan terakhir mendiang kakek. Kalau dia gak minta, mungkin papi gak akan hidup sama dua manusia mengagumkan seperti kamu dan Anna.”

Ketika Jiya bisa melihat kalau Abas dan Ines menunjukkan dukungan mereka lewat media sosial, satu orang yang Jiya tunggu malah tak kunjung bereaksi bahkan ketika acara akan dimulai. Jiya sudah hafal bagaimana laki-laki itu hanya menggunakan akunnya untuk meminta rekomendasi lagu, tapi Jiya kira (berharap sebenarnya) untuk keikutsertaan Jiya di SnS akan Aji tunjukkan juga.

Awalnya Jiya kesal, Jiya merasa akan marah, tapi juga takut disaat yang sama. Mungkinkah Aji masih membenci keputusan Jiya yang satu ini? Padahal laki-laki itu sudah ikut serta memilih lagu yang akan Jiya tampilkan hari ini.

Namun, ketika satu peserta sebelum dirinya dipanggil. Ponsel Jiya berdering dan nama laki-laki itu tertera sebagai penyebabnya.

Mas Aji Gue tahu lo bisa, bikin semua mentor itu balik buat lo, Ya. Gue sama yang lain nontonin lo.

Secara ajaib, Jiya merasa yakin. Merasa semua sudah cukup agar ia mampu melangkah lebih jauh lagi. Jika ada Aji, entah kenapa Jiya selalu merasa aman.

Aji mungkin menjadi sosok yang nyaris menyaksikan keseluruhan kisah Jiya selama 24 tahun menginjakkan diri di dunia. Aji menjadi sosok penghuni rumah sebelah, Aji menjadi sosok yang kerap memboncengnya menggunakan sepeda sepulang sekolah, dan Aji juga yang menuntunnya untuk bisa berdiri di atas panggung dengan tangguh.

Sekarang, ketika Aji dan Jiya tak berdiri di atas panggung yang sama, sosok itu ada di sana. Di antara ratusan penonton yang datang, ada Aji di sana menatapnya.

Jarak antara Jiya dan Aji cukup jauh mengingat laki-laki itu—dan teman-teman mereka tidak duduk di depan. Namun, Jiya seakan manusia yang tak membutuhkan kacamata karena mampu untuk menemukan Aji sesaat setelah dirinya berdiri di sana.

Jiya pernah berdiri di atas panggung yang lebih besar dari panggung milik Song n Soul, tapi perasaan resah yang muncul di panggung ini lebih besar dari sebelumnya. Jiya sendiri di sini, tak ada Aji, tak ada Abas, tak ada Ines. Situasi ini terasa seperti dia yang baru pertama kali menaiki sebuah panggung.

Lagu Somewhere Only We Know milik Keane sudah selesai Jiya perdengarkan. Dia tersenyum tipis merasa cukup puas dengan apa yang sudah ia tampilkan. Terlebih dengan tepuk tangan yang cukup riuh untuk dirinya. Jiya pun mendapatkan lampu dari tiga mentor sekaligus.

“Ini dia Jiya Almira!” ucap laki-laki yang wajahnya sudah akrab di televisi sebagai pembawa acara.

Jiya merasa dirinya perlu siap untuk apa yang akan ia ambil selanjutnya.


“Mantep, euy!” ucap Ujan ketika Jiya sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang lebih nyaman. Jiya tersenyum lebar dan menyambut tos yang Ujan ajukan padanya.

“Lo juga, keren!” balas Jiya yang membuat Ujan tertawa geli.

Nuhun, nuhun.”

Setelah itu, Dimas menghampiri mereka. “Beda mentor kita, ya.”

“Yoi, gak papa lah. Biar persaingannya kerasa,” jawab Ujan dengan nada bercandanya.

Dimas menatap keduanya bergantian. “Langsung balik lo berdua? Kita ke sini lagi dari rabu, 'kan, buat yang sekarang?”

Jiya mengangguk. “Iya, gue mau barengan sama yang lain, sih. Tapi nunggu mereka ngabarin du—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ponsel Jiya sudah mendapatkan notifikasi dari Ines. Menyuruhnya untuk segera menyusul mereka.

“Nah, udah dikabarin. Gue duluan, ya! See you!

“Oh iya, hati-hati, Jiya!”

Jiya mengangguk dengan senyuman lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Dimas dan Ujan saling berpandangan. “Yang lain siapa, sih?” tanya Dimas.

“Manusia sandiwara paling,” jawab Ujan, tak terlalu peduli. “Lo bawa kendaraan gak? Gue mau nebeng kalau bawa.”

Dimas mengangguk. “Bawa, bawa. Ayo kita juga balik.”

Kedua laki-laki dengan jarak usia setahun itu berjalan berdampingan menuju parkiran. Obrolan yang terjadi hanya seputar Dimas yang bertanya ke mana ia harus mengantar Ujan. Yang ditanya pun menjawabnya tanpa berbasa-basi.

“Fauzan!” panggil seseorang yang membuat mereka berdua spontan menoleh ke asal suara meski yang dipanggil hanyalah satu di antaranya. Ujan menahan senyumnya begitu tahu siapa yang memanggil dirinya barusan.

“Kak Unge!” sahut Ujan tak kalah antusias.

Bunga menghampiri mereka dengan Wira yang membuntuti di belakang. Tadinya mereka akan pulang, tapi Bunga mendapat adanya Ujan di sana. Sosok yang menjadi alasannya untuk datang ke sini.

“Ternyata beneran dateng,” ucap Fauzan, “makasih, ya, Kak!”

Bunga tersenyum lebar. “Sama-sama, lo keren banget tadi?! Gue speechless bahkan 4 mentor aja mau sama lo.”

Melihat dua orang itu bereaksi, dua orang lain yang bersama mereka hanya saling melempar tatapan.

“Jangan berlebihan, ah, Kak!”

“Siapa yang berlebihan, sih? Gue jujur,” balas Bunga merasa tak terima dengan reaksi yang lebih muda berikan.

“Ya udah, makasih deh, Kak.”

“Gak usah bilang makasih terus. Pokoknya gue bakal dukung lo terus sampai babak final! Kalau bisa lo jadi pemenangnya.”

Raut yang Ujan tampilkan menjadi cerah. Padahal tadi laki-laki itu terlihat malas karena ingin lekas pulang. Namun, hanya dengan kehadiran Bunga, dia bisa berubah.

Wira menarik ujung jaket yang Bunga kenakan. “Ayo balik, udah malem banget. Gue gak enak sama ortu lo.”

Bunga mengangguk. “Iyaaa, ayo.”

“Gue pamit dulu, ya, Zan! Good luck, deh. Lo ju—eh, lo yang temennya Kak Jer, 'kan? Gimana udah ada kejadian horror belum?” tanya Bunga, baru sadar kalau ia sudah melihat Dimas sebelum mereka bertemu di sini.

Dimas mengerjap karena terkejut tiba-tiba ditanya. Wira mendengus karena paham betul kalau Bunga mana cukup dengan pembicaraan singkat. Laki-laki itu berbalik dan berjalan menuju motornya tanpa menunggu yang lebih muda, lebih baik dia menunggu di sana daripada berdiri seperti orang yang diasingkan karena enggan berbaur.

Dimas mengusap belakang kepalanya canggung. “Yah, syukurnya sejauh ini gak ada gangguan apa-apa, Mbak. Btw itu cepet susulin, nanti ditinggal mas pacar, Mbak.”

Bunga menoleh ke belakang, baru sadar kalau Wira sudah tak ada di sana. “Hadeh, Kak Wira jelek.”

“Kalau gitu gue pamit dulu, ya. Sukses buat lo berdua!” ucap Bunga sebelum berlari kecil menjauh dari keduanya. Berpamitan tanpa perlu balasan karena di saat seperti ini, jelas ia lebih membutuhkan Wira dibanding harus pulang sendiri karena mengobrol lama.

“Gue seneng,” ucap Ujan setelah mereka tak lagi melihat Bunga.

“Gebetan?”

Ujan menggeleng. “Sembarangan! Dulu dia kakel gue, terus gue tuh lebih kagum aja dibanding harus ngebet.”

Dimas tersenyum jahil seraya berkata, “Iya, paham,” katanya dengan meledek.

Dimas merangkul Ujan dalam perjalanan mereka mendekati motor yang sudah tinggal beberapa langkah itu. “Yok, pulang. Istirahat dan besok jadi manusia yang bener lagi.”


“Kenapa lari-lari segala, sih?” protes Aji karena Jiya menghampiri mereka sembari berlari.

“Biar kalian gak nunggu lama, lah!” balas Jiya masih ceria. Perempuan itu duduk di sebelah Ines di belakang. Sementara itu, Aji dan Abas ada di depan dengan yang paling tua yang menyetir.

“Capek, Ya?” tanya Abas.

“Lumayan, sih. Tapi gue seneng hari ini, bangga juga soalnya lolos ke babak berikutnya,” balas Jiya diakhiri dengan senyuman yang membuat matanya ikut terpejam. Saat ini, Jiya memang ingin jujur atas perasaannya.

“Minum dulu, Jiya.”

Ketika telinganya menangkap suara Abas dan Aji yang berucap bersamaan, Jiya kembali membuka matanya. Kini, sudah ada dua botol minum yang diserahkan oleh dua tangan yang berbeda untuknya. Sama-sama dari bangku depan, dari Aji dan Abas.

Kedua laki-laki itu berpandangan dengan satu alis yang sama-sama terangkat. Sementara yang diserahkan minuman menunjukkan raut bingungnya untuk situasi ini.

Lalu, ada Ines yang memutar bola matanya malas seraya berkata, “Mulai.”

“Lo nyaman gak kalau harus goyangin pinggul?” tanya Caka pada Mika. Waktu mengirim video, dia kelupaan menanyakan ini. Soalnya untuk anggota Sandyakala itu sudah bukan masalah. Tersebih, Ica yang membuat gerakannya.

Mika mengangguk. “Iya, makanya gue gak protes kemarin?”

“Tapi lo kelihatan gak nyaman tadi,” balas Caka yang membuat Mika terdiam.

“Gak gue pelototin, sumpah,” sambung laki-laki itu. Merasa kalau alasan Mika tak nyaman karena harus menari bersamanya.

“Gue gak masalah, Caka. Gue tuh apa, ya ... masih kagok gitu lah.”

“Kagok? Apaan dah, tuh? Kagak paham.”

Mika menghela napasnya. “Anggap aja gue masih belum biasa, masih canggung, masih ragu.”

“Oke. Ada gerakan yang mau lo tekenin? Udah mau abis jam latihan lo,” ucap Caka membuat Mika refleks melihat pada jam tangan yang ia kenakan.

Ternyata mereka sudah cukup lama berlatih. Mika merasa seperti mereka baru saja mulai.

“Buat sekarang gak ada, gue bakal lanjut hafalin di rumah. Terus nanti gue chat lo kali, ya?”

“Boleh, chat aja. Kalo gitu, sampai jumpa Sabtu depan,” balas Caka dengan santai. Laki-laki itu menghampiri tasnya yang disimpan di pojok ruangan. Lalu memakai kembali hoodie yang sempat ia lepaskan karena gerah.

Mika menatap Caka ragu-ragu.

“Lo habis ini mau ke mana?” tanya Mika. “Langsung balik?”

Caka menggeleng. Untungnya, laki-laki itu tak berpikir aneh untuk basa-basi yang Mika lakukan. Dia menjawab, “Nyari makan dulu gue, laper.”

“Kalau gue traktir mau gak, Cak? Anggap aja karena lo bersedia ngobrol sama gue lewat chat.”

Caka tak langsung membalas. Dia sempat menatap yang lebih muda beberapa bulan darinya itu dengan menyelidik. Namun, walau merasa heran, sebagai orang yang hidup sendiri tentu saja Caka akan membalas, “Boleh dah, yok.”

“Bentar, gue izin dulu.” Caka hanya mengangguk, membiarkan Mika keluar dari ruang latihan. Laki-laki itu memainkan ponselnya, memeriksa apa ada yang mengiriminya pesan atau tidak.

Tak lama setelah itu, Mika kembali. Perempuan itu sudah berpenampilan lebih rapih dan tertutup. Ada topi dan masker di kepalanya.

“Buset, lupa gue mau jalan sama artis,” celetuk Caka begitu melihat penampilan Mika.

“Nanti guenya tolong dianter ke sini lagi, ya, Cak?”

Caka mengangguk setuju. “Gampang, cari yang deket sini aja, dah. Gak papa, 'kan, lo naik motor?”

“Gak papa.”

Setelah itu, Mika membuntuti Caka dari belakang sampai mereka di parkiran. “Gue cuma bawa helm satu, fix cari yang deket sini aja. Lo lagi mau sesuatu?”

Mika menggeleng. “Terserah lo aja, gue tinggal traktir.”

Caka menunjukkan cengirannya. “Kalo boleh gue pengen ngemekdi.”

Mika mengernyit. “Mekdi?”

“Iya. McDonald's. Masa lo gak tahu?”

Mika terdiam. “Fast food dong, ya?”

“Ya ... iya lah. Lo gak mau?” tanya Caka, dapat menangkap kalau Mika enggan dengan tempat yang Caka sebutkan.

Mika dengan cepat mengendalikan dirinya lagi. “Enggak kok, ayo ke sana.”

“Yakin?”

“Iyaaa, ayo!”


“Kenapa diem?” tanya Mika karena Caka malah diam di belakangnya.

“Lo dulu aja yang mesennya,” jawab laki-laki itu.

Mika menurut. Dia memesan makanan yang ia inginkan dan Caka yang selanjutnya.

Ketika mereka sudah duduk, barulah Mika bertanya, “Kenapa harus nunggu gue dulu? Kan gue yang mau traktir.”

Caka meminum sodanya. “Ya iya lah, harus yang traktir dulu. Gak lucu kalau yang ditraktir malah mesen yang lebih mahal. Omong-omong, thanks, ya. Lumayan hemat pengeluaran di sekali makan malam.”

Mika mengangguk. “Lo di sini sendiri?”

Caka tak benar-benar fokus pada Mika karena sudah mulai apa yang ia pesan, satu potongan paha ayam krispi juga nasi. Sementara Mika memesan paket cheeseburger yang sebenarnya ia sebut secara asal tadi.

“Sendiri gue,” jawab Caka tanpa melihat perempuan di hadapannya.

“Lo anak rantau?”

Caka mendongak. “Makan dulu lah, Mik. Enak abis latihan kayak tadi langsung makan. Orang lain mah mandi dulu, ya, 'kan. Kita doang yang makan.”

Mika menghela napasnya. Dia menatap burger miliknya dengan ragu. Sebenarnya, Mika lumayan tergoda untuk segera menyantapnya sampai habis. Makanan ini sudah lama tak ia temui.

Namun, ada setitik ketakutan yang menerpa dirinya.

“Etdah malah diem. Makan, Mik. Kapan lagi kita makan enak kayak gini,” celetuk Caka karena Mika cuma memandangi makanannya.

Mika mengangguk. Pada awalnya dia hanya mengambil satu gigitan kecil. Ketika rasa yang ia rindukan sudah menyapa lidahnya, selanjutnya Mika tanpa sadar malah memakannya dengan lahap.

Caka tertawa kecil melihat perempuan yang semula ragu dengan makanannya itu. Tangannya bergerak buat menepuk puncak kepala Mika dengan pelan.

“Bahagia gak perlu susah, ya, 'kan? Makan enak aja udah bikin bahagia,” ucap Caka disusul rasa bangga pada dirinya karena mengucapkan kalimat yang cukup bijak menurut Caka sendiri.

Namun, Mika menunjukkan reaksi yang tak ia harapkan. Perempuan itu menatapnya shock, mematung.

“Kenapa? Kok diem?”

“Tangan lo bekas ayam, Cakra!”

Caka mengerjap sebelum tertawa canggung. “Eh iya, yak ... MAAF.”

“Argh! Nyebelin banget!”

Dulu, Johan bilang tindakan gue yang memilih untuk suka secara diam-diam adalah hal yang percuma. Orang yang gue suka gak akan ngelirik gue ketika gue gak melakukan satu tindakan pun. Dunia gak akan berbaik hati buat nyenengin gue perihal cinta yang terbalas tanpa perlu diungkapkan.

Gue awalnya gak benar-benar mendengarkan apa kata dia. Sampai akhirnya Nayla malah memilih buat berjalan sama Arsean, gue akhirnya paham apa maksud Johan ngomongin semua itu.

Gue belajar dari itu. Gue gak mau itu terulang lagi.

Jadi, gue mengejar Cici. Gue menjadi rela ketika beberapa kali dia tanpa sadar melihat gue sebagai Aru. Gue paham betul gimana peran Aru untuk dia, terlebih ketika peran yang seharusnya mereka ketahui sejak awal malah diketahui secara tiba-tiba dan segala ekspetasi hancur seketika.

Setelah cukup lama mengejarnya, setelah beberapa kali uluran tangan gue disambut dengan baik, setelah kalimat sayang gue dengarkan secara langsung dari si cantik.

Semuanya tetap terasa menyenangkan kala gue mendengar dia berucap, “Aku udah siap, Kang. Kalau kamu mau kita lanjut.”

“Beneran?”

Cici ngangguk. “Aku gak tahu harus bales kebaikan Kang Jo kayak gimana lagi. Kang Jo pasti maunya aku sama kamu, terus kita bikin kenangan bareng, 'kan?”

“Tapi, aku gak mau kalau kamu mau karena harus balas aku.”

“Enggak, Kak. Serius. Aku sayang sama kamu, aku mau hidup sama kamu. Aku butuh kamu.”

Gue terdiam sebentar. Di titik ini, mengekspresikan kesenangan gue bukanlah prioritas. Gue perlu memastikan apa Cici nyaman dengan keputusannya ini atau tidak.

“Aru?”

“Aku udah bilang ke kamu, 'kan, Kang? Aku udah lihat Aru sebagai saudara. Pas liburan kemarin, kita ngobrol. Aku sama Aru udah sepakat buat damai soal kenangan yang ada, Kang.”

Gue menatap dia, mencari keseriusan lewat tatapan matanya. Gue menemukannya.

“Ini serius?”

“Serius, Kang Joshua. Mau bohongan emangnya?”

Gue menggeleng dengan pasti. “Ya, enggak dong, Sayang.”

“Aku maunya tunangan dulu tapi, Kang. Soalnya agensi ....”

Gue mengangguk paham. Meski dia belum menyelesaikan pembicaraannya tapi gue tahu maksud dia apa. Agensi di mana nama Cici ada sebagai modelnya punya peraturan tersendiri.

“Gak papa. Tapi beneran, 'kan, kamu mau nikah sama aku?”

“Iya. Bener. Serius. Gak bohong. Asli.”

Gue tertawa kecil mendengar balasannya dan Cici juga ikut tertawa setelah itu. Perempuan itu meregangkan tangannya lalu berkata, “Peluk?”

“Peluk,” jawab gue dan melakukan satu kata yang sama-sama kami ucapkan barusan.

Gue bisa merasakan Cici menenggelamkan kepalanya di ceruk leher gue. Lalu dia mengeratkan pelukannya terlebih ketika telinga kami menangkap suara barang yang dijatuhkan. Suaranya berasal dari ambang pintu rumah yang selalu sengaja dibiarkan terbuka ketika gue berkunjung ke sini.

Gue menoleh untuk melihat siapa orang yang baru menjatuhkan barangnya itu. Gue secara spontan menahan napas kala ada sosok Aru di sana. Yang ia jatuhkan adalah plastik berisi cemilan yang selalu ia beli sebelum pulang ke sini.

Gue berusaha untuk melepaskan pelukan kami berdua. Namun, Cici malah mengeratkannya. Tampaknya Cici sadar dari awal kalau ada Aru mengingat dia memang duduk menghadap pintu.

Aru dengan gelagapan memunguti makanan yang ia jatuhkan. “Ma-maaf ganggu,” katanya lalu menghilang di balik pintu kamarnya.

“Ci?”

“Biarin kayak gini dulu, Kang. Aku masih butuh pelukan.”

Gue sadar bahwa pelukan yang Cici berikan bukan soal kebahagiaan tentang status hubungan yang baru direncanakan untuk naik. Namun, juga untuk kesedihan karena dia juga melepaskan Aru.


Gue mungkin gak akan mengikuti dunia musik kalau aja gak gabung di radio. Gue juga mungkin gak akan ketemu sama orang ini kalau aja gak keluar dari radio.

Aru, begitu orang-orang akrab memanggilnya. Seorang penyanyi yang gue rasa sering gabut karena sampai buka layanan curhat. Anehnya, ketika dia merasa nyaman dia malah mengaku dan ngajak berteman. Uang yang dia dapatkan dari menyewakan telinganya, gue rasa gak benar-benar dia butuhkan.

Cowok yang sekarang rambutnya lagi diwarnain pirang itu menatap gue. “Kenapa ngelihatin urang?”

Oh, ya. Jangan lupain gaya bahasanya yang cukup unik buat seorang idol.

Gue ngegeleng. “Gak papa, masih gak nyangka aja. Lo beneran ke Bali, Kak,” ucap gue.

Dia malah cengengesan. “Gawean, Sob.”

“Teh Nay ngomongin di grup,” ucap gue agak menggantung, “Soal Kang Jo yang ngelamar Teh Cici.”

Gue bisa lihat ada perubahan raut wajahnya. Cuma sebentar karena setelah itu dia malah cengengesan.

“Iya, urang udah tahu.”

“Lo gak papa?” tanya gue memastikan. Padahal gue tahu jelas apa jawabannya.

“Haha kurang ajar kayaknya kalau urang bilang apa-apa. Tapi urang gak papa, kok, makanya ini untung dikasih libur sehari sebelum balik ke Bandung,” katanya.

“Padahal lo seharusnya hadir karena lo kembarannya, tapi lo malah jalan sama gue.”

“Syukurnya, Cici ngasih keringanan buat gak datang, Na.”

Kak Aru mulai jalan lagi.

“Di sini udah ada minimarket yang jual onigiri gak, sih, Na?” tanya dia.

“Ada. Lo mau?”

Kak Aru ngangguk. “Ayo beli, urang yang traktir kayak biasanya.”

Kayak biasanya.

Gue yakin dia gak sadar ngomong begitu. Faktanya ini baru pertama kali gue ketemu langsung sama dia setelah selama ini cuma komunikasi lewat chat aja.

Namun, gue memilih buat gak bahas itu. Gue mengangguk seraya memimpin jalan kami berdua menuju tempat yang Kak Aru mau.

Kak Aru jadi lebih sumringah setelah melihat makanan berbentuk segitiga itu. Sejujurnya gue gak terlalu doyan, tapi sekali-kali gak pala buat beli. Terlebih gue gak tahu kapan lagi bisa berjalan beriringan sama orang ini.

“Lo tuna mayo, 'kan? Nih,” kata dia dengan ringan. Secara ajaib, gue pun bisa mengingat rasa onigiri apa yang pernah Teh Cici beli sewaktu kita nyelesain film.

Dunia kayaknya mau ngetawain gue hari ini.

“Makasih, Kak ... tapi gue mau yang spicy.”

Kak Aru diam, dia kayaknya sadar kalau dia gak lagi sama seseorang yang ada dalam pikirannya sekarang. Dia agak gelagaapn ketika mengambil kembali onigiri itu.

“E-eh hampura.

Gue mengangguk. “Gak papa.”

'Gue juga nunggu Teh Cici nikah.'

Ke mana keyakinan gue dulu ketika berani ngetik itu? Sekarang ketika gue benar-benar menemui Kak Aru, yang secara gak langsung juga membuktikan tentang semua ucapan cowok itu soal berdamai tentang Teh Cici. Gue tiba-tiba menjadi ciut.

Faktanya, Kak Aru sama sekali belum berdamai. Dia cuma pura-pura supaya Teh Cici bisa lega ngejalanin kehidupannya sama Kak Jo.

Ya Tuhan.

Setelah membeli minuman, kami berdua duduk di kursi yang emang disediakan di bagian luar minimarket. Gue sebenarnya gak berselera untuk menyantap makanan yang ada di genggaman gue sekarang.

“Oh iya, Na. Thanks buat bajunya waktu itu. Padahal urang belum ulang tahun lagi, tapi udah lo kirim aja, “ ucap dia.

Gue mengangguk. “Sama-sama. Gue kirim soalnya lagi kaya.”

Dia ketawa. Tawa formalitas kalau lo mau gue tegesin.

“Makasih juga udah suka sama urang,” ucap Kak Aru tanpa berminat untuk melihat ke arah gue.

“Tapi tolong jangan ditunggu, Na. Urang gak yakin urang masih bisa berfungsi apa enggak ketika sama orang baru. Urang sadar betul kalau buat sekarang, urang belum bisa. Paksain bisa pun, urang cuma bakal nyakitin. Kayak tadi.”

Dia sadar.

Kak Aru ngelihat gue. “Maaf, Na. Tapi urang mohon jangan nunggu urang, jangan ngeharapin urang. Lo berhak ngedapatin orang yang bisa bahagiain lo secepatnya.”

“Ini gak papa kita mampir?” tanya Joanna ketika Binar malah membawa mereka ke dorm Aksa.

Sepulang dari liburan, Binar mengajak Joanna dan dua temannya untuk jalan-jalan. Cici yang memang lebih dulu kenal dengan Binar tentu menyetujuinya. Sedangkan Monna, Binar menganggap ini sebagai jalan damai karena dulu tanpa sadar ia sempat mengibarkan bendera perang pada perempuan itu.

“Gak papa. Bentar doang, kok, lagian kalian kenal mereka,” ucap Binar dan mereka bertiga cuma bisa menurut dan membuntuti.

Sewaktu masuk, empat orang itu sedang bersantai di ruang tengah. Televisi menyala tapi tak ada satu pun yang fokus ke benda itu.

Januar berbaring di karpet dengan ponsel yang ia angkat tinggi, Aru sibuk mencoret-coret kertas yang diyakini berisi formasi dance mereka, Ian bermain game, dan Gibran yang sepertinya tertidur dengan bersandar pada Aru.

“Heh, cowok gue kok gak dipindahin ke kamar?” Itu adalah kalimat pertama yang Binar ucapkan.

Aru menatapnya bingung. “Ngapain sampe harus dipindahin?” tanyanya lalu melihat pada Gibran yang kepalanya ada di pundaknya.

“Oh tidur. Teu nyadar euy,” kata Aru diakhiri dengan tawa kecil.

Walah aya tamu,” ucap Januar selaku yang pertama menyadari kalau Binar tidak datang sendiri. Ian yang semua tak peduli jadi menurunkan ponselnya untuk melihat siapa yang datang.

Alis Ian terangkat secara spontan begitu mendapati Joanna ada di sana. Sebelahan dengan Cici pula. Kalau ini terjadi dua tahun lalu, mungkin ini akan menjadi situasi yang amat tak mengenakkan untuknya.

“Gue mau main sama mereka. Jangan diganggu,” ucap Binar dengan galak.

“Belum ngapa-ngapain, Bos,” balas Januar.

“Kalian duduk dulu aja,” kata Binar, beralih pada tiga orang yang ia bawa ke sini. Perempuan berambut sebahu itu mendekat ke arah Gibran.

“Ayo pindahin, Ru,” ucap Binar, masih mementingkan keadaan Gibran. Yang diminta menghela napasnya dan menurut.

Memang semenjak kejadian waktu itu, mereka jadi terkesan memanjakan Gibran. Walau faktanya laki-laki itu adalah ketua mereka. Namun, itu pun mereka lakukan karena khawatir terulang lagi.

Seperti yang sudah terbiasa, Aru tampak tak kesusahan menuruti keinginan Binar untuk memindahkan Gibran ke kamarnya. Januar dan Ian pun tak menunjukkan tanda kalau mereka ingin membantu. Lalu Binar membuntuti langkahnya.

Cici mengerjapkan matanya. “Aru angkat Gibran sendiri? ” tanya Cici tanpa sadar.

Januar mengangguk seraya berdiri. “Santai, udah biasa kita saling angkat satu sama lain. Kalian mau minum apa? Ada teh sama jus apel doang, sih.”

“Gak usah repot-repot. Kita cuma anter Binar nganterin barang,” jawab Momo tapi ucapannya itu seperti tak dihiraukan oleh Januar. Laki-laki itu tetap mengambil tiga kotak teh dingin dari kulkas.

“Ini aja, yak. Gak repot, kok, tinggal ngambil,” ucap laki-laki kelahiran Juni itu.

“Barangnya dibawa Binar, ya?” tanya Ian, ikut berinteraksi.

“Iya, ada di tas dia,” jawab Joanna yang membuat Ian menahan napasnya tanpa sadar.

Aduh, anjir. Gini amat aing, batin Ian.

“Mungkin itu obatnya Gibran,” ucap Januar, “kalian gimana, nih? Udah ada rencana apa gitu? Si Binar sama Gibran baru lamaran.”

Awalnya, Januar mengucapkan itu tanpa beban. Namun, begitu ia melihat Monna laki-laki itu spontan menutup mulutnya sendiri. “Eh, Mon, sorry—”

“Gak papa, hei! Santai. Binar juga udah cerita di mobil tadi,” jawab Monna.

“Santai aja. Monna juga ada cowok sekarang,” sambung Joanna yang membuat Monna menyikutnya pelan karena malu.

“Kalian berdua gimana?” tanya Joanna, berusaha mengakrabkan dirinya lagi dengan dua laki-laki itu.

Januar dan Ian saling berpandangan mendengar pertanyaan itu. Lalu tertawa entah karena apa.

Joanna mengernyit. “Bentar, maksud tweet kalian itu ... kalian pacaran?”

Ian menggeleng dengan cepat. “Enggak, emang itu dia doang yang gelo. Gue belum ada rencana dulu buat sekarang, agak pusing juga pacaran pas masih jadi artis.”

Ian menatap pada Cici dan perempuan itu hanya tersenyum canggung. Paham kalau yang Ian secara tak langsung sedikit menyinggung hubungan mereka dulu.

“Gue belum mau soalnya, 'kan, lo jadi calon adek iparnya Gibran,” jawab Januar tanpa beban. Ian yang ada di sebelahnya tanpa ragu menyikut perutnya cukup keras.

Ari maneh, tong waka ngagelo,” kata Ian.

Cici dan Monna menertawakan itu. Sedangkan Joanna cuma menunjukkan giginya. Bingung harus bereaksi apa dengan kalimat yang Januar berikan.

Nyeri, dikit,” ucap Januar seraya mengusapi perutnya.

“Jadi, gimana, nih, calonnya Bang Dika?”

Joanna terkekeh canggung. “Biarin Gibran sama Binar dulu kalau gitu.”

“Kalau lo gimana, Ci?” tanya Januar. Entah sengaja atau tidak, yang jelas dia menanyakan itu kala Aru sudah keluar dari kamar Gibran.

Cici melirik pada Aru sekilas sebelum menjawab. “Tunggu kabar baiknya aja, ya.”


“Gue udah bilang ... bangun aja, jangan digendong mulu. Kasian mereka,” protes Gibran pada Binar setelah Aru keluar.

“Gak papa. Orang mereka mau, kok,” ucap Binar.

“Ya iya, mereka mana mungkin nolak lo.”

“Ssstt.” Binar meletakkan jari telunjuknya. “Biarin mereka sayang sama lo, Gib.”

Gibran terdiam, memilih untuk tak membalas lagi. Binar tersenyum puas lalu mengeluarkan barang yang menjadi alasannya ke sini.

“Ini cemilan, pokoknya jangan keseringan tidur kayak tadi, ya? Bikin lagu baru atau apa, kek. Terserah asal jangan terlalu capek juga,” ucap Binar dan Gibran mengangguk. Walau dalam hati ia tak benar-benar bisa menjamin kesanggupannya.

“Terus gue udah ngomong sama Pak Bos, kita bisa pulang setelah syuting kalian selesai. Dari Bali kita langsung ke sana, tapi cuma dikasih tiga hari,” ucap Binar.

Gibran mengangguk sekali lagi. “Oke, makasih, Binar.”

Binar tersenyum lalu memberiksn tepukan pelan pada pipi kekasihnya itu. “Sama-sama, gue cuma mau sampai itu aja. Gue gak enak sama mereka bertiga kalau kelamaan.” mereka bertiga.”

Binar yang hendak berdiri, tangannya di tahan oleh Gibran. Mau tak mau perempuan kelahiran Febuari itu mempertahankan posisi duduknya di sisi ranjang Gibran.

Gibran mengusap tangan yang ada di genggamannya dengan perlahan. Lalu mengangkat tangan itu dan mengecupnya.

“Makasih karena udah percaya buat ngabisin sisa waktu lo sama gue. Maaf gue belum bisa bertindak banyak buat pertemuan keluarga kita, tapi gue janji nanti gue bakal nunjukin kesungguhan gue sama lo,” ucap Gibran diakhiri dengan senyuman tipis.

Binar mengerjap, tak terbiasa dengan Gibran yang tiba-tiba romantis seperti ini. Gibran bukan tipe orang yang menikmati kontak fisik.

Gibran menegakkan duduknya, lalu sebelah tangannya bergerak untuk menghiasi sisi wajah milik Binar. Dengan perlahan dia mencuri satu kecupan dari bibir Binar, lalu seolah itu bukan hal yang menimbulkan efek besar, dia menepuk puncak kepala kekasihnya pelan.

Have fun main sama mereka.”

“Makasih, Aru!” ucap Cici, merasa antusias dengan makanan yang Aru serahkan.

Aru tersenyum tipis sebelum duduk di tepi ranjang saudaranya itu. Dia turut membuka onigiri miliknya sendiri lalu memakannya dengan agak lemas. Berbanding terbalik dengan Cici.

“Kita dulu jadi sering jajan onigiri karena apa, ya?” tanya Cici, memulai pembicaraan.

Dulu.

Kalau bisa, Aru ingin menjadi tuli untuk satu kata itu.

“Karena kalau main, urang sering dititipin sama Gibran buat beli.” Ujungnya, Aru tetap menjawab.

“Oh, iya! Sekarang Gibran udah jarang, ya? Dia ngabisin liburannya gimana?”

“Hari terakhir kemarin papa sama adeknya nonton. Mungkin Gibran sama mereka? Dia belum cerita apa-apa soalnya. Binar juga sama, yang pasti gak ada yang di dorm.”

Cici mengangguk paham.

Tak ada lagi yang berbicara di antara mereka sebelum itu. Sejujurnya, Cici bisa menebak kalau ada yang ingin disampaikan oleh Aru. Laki-laki itu biasanya sedikit menghindarinya jika di rumah, tapi malam ini Aru malah bersedia mengantarkan sekotak minuman dingin ke kamarnya.

“Aru,” panggil Cici, “mau ngomong apa?”

Aru mengerjap lalu tertawa dengan canggung. “Bentar, Ci.”

Cici diam, menunggu. Onigiri di tangannya sudah habis sehingga Cici hangat bisa diam mematung.

Aru mengalihkan pandangannya, menghindari pertemuan mata mereka. Laki-laki itu menunduk, sedikit meremat makanan yang baru ia habiskan setengah.

“Urang udah lihat semuanya, Ci. Gimana lo ngejalanin hari lo setelah tahu hubungan kita, gimana susahnya lo ngejalanin semua itu. Mungkin lo berpikiran urang biasa aja, tapi jujur, Ci, urang sama kesusahannya.”

“Waktu pertama kali ketemu, urang ngerasa bakal ada sesuatu sama kita. Urang sedikitnya ngasih harapan ke diri sendiri kalau kita bakal lebih dari teman curhat. Urang berekspetasi, mungkin ada masa di mana kita ngomongin sebuah pernikahan.”

Cici terdiam. Ia tak mengerti kenapa Aru tiba-tiba berkata seperti ini.

“Ekspetasi itu mungkin bakal kejadian, tapi yang bakal diomongin pernikahan lo sama cowok lo, bukan lo sama urang,” ucap Aru dengan suara yang nyaris menghilang di akhir.

Laki-laki itu berdiri, menatap pada Cici dengan raut wajah bersalahnya. Onigiri yang ia pegang terjatuh bersamaan dengan raganya yang berlutut di depan saudaranya.

Cici secara spontan berdiri kala Aru terjatuh. Namun, kakinya tertahan untuk tetap membuat jarak kala Aru mengisyaratkan supaya Cici tidak mendekat.

“Urang capek, Ci. Pura-pura bilang kalau urang udah damai soal kita, kalau urang ikut bahagia lihat lo sama cowok itu ... urang bahkan iri sama dia.”

“Biarin urang lemah kali ini, ya, Ci? Biarin urang jadi manusia brengsek buat sehari karena confess ke cewek orang. Biarin urang nangisin lo sebagai cowok yang ditinggal kekasihnya.”

“Sekali ini aja ... besok urang bakal jadi Aru lagi. Urang bakal jadi orang yang paling bahagia di pernikahan lo nanti.”

Cici terdiam. Biasanya, ia yang ada di posisi Aru. Biasanya ia yang lebih bebas menyuarakan isi hatinya dan Aru yang tak pernah lelah mendengar. Biasanya selalu Cici yang lemah dengan tangisan dan Aru yang menenangkan dengan tepukan.

Cici mendekati saudaranya dengan perlahan. Ia ikut berlutut sebelum memeluk Aru.

“Aru, lo juga berhak buat nangisin kita.”

Cw // kissing


“Gak semua tamu berhak untuk disambut dengan ramah, Na. Apalagi kamu tadi sampai bawa dia ke kamar kita,” ucap Edward setelah Anna menjelaskan apa saja yang Rhea lakukan di sini.

Entah mendengar dari mana sampai suaminya itu tahu Rhea ke rumah. Padahal Anna belum sempat memberi tahu Edward soal itu.

“Tadi dia beda, pokoknya gak ada aura ngajak berantem kayak dulu pas bawain kita ayam, Ed” balas Anna, “saya jadi spontan ... tahunya benar. Niatnya baik datang ke sini, mau minta maaf.”

Edward terdiam, entah Anna yang memang kelewat baik atau Edward yang terlanjur kesal.

“Tetap aja, Na ... dia hampir bikin kita pisah.”

Anna menyentuh pipi Edward yang posisinya kini lebih rendah darinya. Anna duduk di atas tempat tidur, sementara suaminya itu di lantai. Menumpukan kepalanya pada paha yang lebih muda, lengkap dengan tangan yang mengelilingi tubuh Anna.

“Maaf,” ucap Anna. “Kalau dulu saya ngajak kamu untuk bicara dulu, mungkin sekarang kamu gak akan benci sama seseorang yang berharga buat kamu.”

Dahi Edward mengernyit. “Enggak, saya gak benci Kak Rhea, Anna. Saya cuma kesal dan takut.”

“Takut?”

Edward mengangguk. “Takut kalau ditinggal kamu ... meski itu baru sekedar omongan sekalipun.”

Untuk beberapa saat yang mereka lakukan hanya diam dan saling menatap. Anna semakin menekan pipi Edward, membuat bibir laki-laki yang baru menginjak usia 28 itu mengerucut seketika.

You really love me that much, huh?”

Edward mengangguk, ia tak membalas karena kesusahan berbicara.

“Kalau gitu, kamu harus damai juga sama Kak Rhea, dong. Jangan lupain peran dia sama kamu karena satu kesalahan, ya?” ucap Anna. Namun, sayangnya Edward tak memberikan tanggapan.

C'mon, Edward. Lagipula Kak Rhea harus lega di hari bahagianya nanti. Dia ke sini buat ngasih undangan juga tadi. Pernikahannya di Jerman, kita mungkin gak bisa datang karena Amy. Kak Rhea minta supaya kamu ngasih wedding gift lebih awal aja sebagai gantinya.”

Alis Edward terangkat, Anna kini tak lagi menekan pipi Edward. Tangan miliknya hanya menghiasi sisi wajah arsitek itu.

“Menikah?”

Anna mengangguk. “Iya, terus katanya dia juga bakal menetap di sana nanti. Tapi kalau kamu mau datang ke pernikahannya boleh, kok.”

Edward langsung menggeleng untuk menanggapi kalimat terakhir Anna. “Saya gak mungkin ninggalin kamu sama Amy. Itu jauh, gak mungkin makan waktu sehari.”

Anna tersenyum tipis. “Jadi, gimana? Mau coba damai sama Kak Rhea? Mau kasih Kak Rhea hadiah gak? Gimana pun dia yang jagain kamu sama Evan, loh.”

“Nanti, saya tanya Evan dulu. Untuk damai ... saya bakal coba kalau memang kamu maunya kayak gitu.”

Anna terkekeh. “Iya, dicoba, ya. Jangan benci sama seseorang karena saya, Ed. Terlebih kalau orang itu punya peran penting buat kamu.”

“Tapi mungkin saya bakal chat dia sekarang kalau kamu manggil saya kayak tadi,” ucap Edward yang membuat alias Anna terangkat.

“Kayak tadi? Papi?”

Satu gelengan Anna terima. “Bukan. Tadi pas di-chat.”

Anna menahan senyumnya, sadar dengan maksud Edward. Kalau boleh jujur, Anna tadi spontan mengetik seperti itu karena pusing antara tangisan Amy dan bunyi ponselnya akibat Edward terus meneleponnya.

“Pup?”

“Bukan, masa itu, sih ....”

“Apa, dong? Edward?”

Edward mendengus. “Gak jadi,” katanya sambil berusaha melepaskan tangan Anna dari sisi wajahnya.

Gelak tawa Anna terdengar, merasa gemas dengan suaminya. Perempuan itu sekali lagi menekan pipi Edward agar laki-laki itu tetap diam di posisinya.

“Bercanda, jangan ngambek ... kamu udah jadi bapak-bapak.”

“Sayang,” panggil Anna kemudian mengecup bibir Edward sekilas. “Tuh udah, saya kasih kiss juga. Jangan lupa chat Kak Rhea.”

Edward menggenggam kedua tangan Anna, secara tak langsung menyingkirkan tangan itu dari pipinya juga.

That's not a kiss,” ucap Edward sembari mengunci mata Anna dengan miliknya agar mereka saling berpandangan.

Yang lebih tua kemudian mendorong tubuh di hadapannya secara pelan agar berbaring. Di susul dengan tubuhnya di atas tubuh Anna, mengukungnya.

I will give you a kiss. If you don’t like it, you can return it.

Edward menepati ucapannya. Mempertemukan bibir keduanya, mengajak lawannya untuk bermain hingga mata terpejam karena menikmati apa yang tengah terjadi.

Baru saja tangan Edward masuk ke dalam pakaian Anna. Suara tangisan Amy memenuhi ruangan itu.

Suasana menjadi canggung seketika. Anna mendorong Edward, memberi isyarat agar laki-laki itu bangkit dan tak menghalanginya untuk mengambil Amy.

Seems like our baby is warning us we can't do that yet,” ucap Anna yang berhasil membuat keduanya tertawa. Merasa konyol dengan apa yang baru terjadi.

edna ; 4

I brought some biscuits for you,” ucap Rhea dengan ceria. Dia meletakkan kotak yang ia bawa di atas meja, paham kalau Anna tak akan menerimanya secara langsung karena tengah menggendong Amy.

Anna tersenyum canggung. “Thank you ... ah, aku ambilin minum dulu.”

Baru Anna akan berdiri, tapi Rhea sudah menahannya. “Gak perlu, Na. Kasihan bayimu. Aku diizinin masuk ke rumah ini aja udah cukup, kok.”

Anna terdiam untuk beberapa saat. Setelah itu ia berkata, “Edward masih lama pulangnya, Kak.”

“Aku mau ketemu kamu, kok.”

Rhea menatap pada Anna sebelum beralih pada Amy. “What's her name?

Anna ikut menatap pada bayinya sebelum menjawab, “Amy ... Amy Kwon.”

Rhea tersenyum tipis. “Edward yang kasih nama?”

Anna mengangguk. “Apa itu nama yang pernah kalian bicarakan?” ucapnya, sedikit menyindir.

Rhea tertawa. “Calm down, Anna. Pembicaraan kami berdua gak sejauh itu. Edward is yours.”

He is not mine,” ucap Anna seraya menggeleng. Dia kemudian sedikit mengangkat Amy sebagai isyarat pada yang lebih tua. “But, he's ours.

Alright, I understand,” ucap Rhea dengan kedua tangan yang terangkat. Berusaha menunjukkan kalau dirinya sudah menerima itu.

“Jadi, Kak Rhea ke sini mau—ah Baby, you wake up.” Kalimat Anna beralih karena mendengar isakan dari Amy. Isakan yang perlahan menjadi tangisan lumayan kencang.

“Kak, I'm sorry—”

No. It's okay! Tenangin dulu aja,” jawab Rhea mengerti kalau Anna butuh ruang sendiri. Anna tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya. Membawa Amy untuk masuk ke dalam kamar mereka.

Namun, sebelum masuk ke kamarnya. Rhea masih sempat mendengar suara Anna yang berkata, “It's okay ... you can cry, Baby. Mami is always with you.

Perempuan yang akan menginjak usia 30 tahun itu bersandar. Menutup matanya dengan lengan lalu bergumam, “Edward ... you are so lucky to have them.

Cukup lama Rhea diam di sana hingga Anna kembali memunculkan wajahnya. Tidak ada lagi Amy di gendongannya. Yang lebih muda tersenyum canggung lalu berkata, “Kak, ayo ngobrolnya di kamar aja. Aku gak bisa ninggalin Amy sendiri.”

“Ah, boleh?” tanya Rhea, memastikan.

Anna mengangguk. “Di kamar ada sofa juga, kok.”

Okay, ayo,” balas Rhea lalu membuntuti langkah kaki Anna.

Rhea mengamati sekitar. Kamar ini tak ramai oleh barang dan entah kenapa terasa hangat. Dindingnya berwarna wheat, terdapat satu ranjang berukuran cukup besar di sisi ruangan, dan di sisi lainnya terdapat ranjang bayi.

Dinding itu juga berhiaskan berbagai foto yang sengaja dipajang oleh pemiliknya. Mata Rhea langsung terpaku pada foto pernikahan yang lebih besar dibandingkan foto lain, lalu di sebelahnya ada kumpulan perkembangan kehamilan Anna dan perkembangan Amy.

Terdapat satu lemari berwarna cokelat yang tak begitu besar, meja kerja yang Rhea yakini milik Edward, juga sebuah sofa. Sofa yang kini tengah diduduki oleh Rhea bersama dengan pemiliknya.

“Kamar ini ... Edward juga yang atur?” tanya Rhea.

Anna mengangguk. “Dia cuma tanya aku mau warna apa ... terus jadi ini, deh. Tapi buat perabotannya lebih banyak aku yang pilih, sih. Dia cuma bagian nata.”

Rhea mengangguk lalu terkekeh. “Kalian cocok, ya.”

Anna mengerjap, bingung harus membalas apa. Pikirannya kembali didasarkan kalau lawan bicaranya adalah sosok yang berkemungkinan besar menjadi seseorang yang spesial untuk suaminya.

“Jadi, Kak Rhea mau bicarain apa?” Anna mempertanyakaan apa yang tadi tidak sempat ia tanyakan.

Rhea tidak langsung menjawab. Dia meraih tangan Anna untuk digenggam. Yang dipegang, kebingungan kenapa dia tiba-tiba bersikap begitu.

“Kak—”

“Aku tahu mungkin ini gak pantas, tapi aku mau minta maaf sama kamu, Na. Aku bersikap bodoh dengan bicara kayak gitu ke kamu sebelum pulang ke Italia.”

Rhea mengambil jeda, menghindari tatapan mata Anna. “Dulu, aku berekspetasi kalau Edward bakal ngejar aku ke sana, aku pikir Edward ingat kalau dia punya janji sama aku ...dia harus sayang sama aku. Tapi yang aku terima cuma telepon dari dia. Walau dia gak naikin nada suaranya. Aku tahu dia marah sama aku karena bersikap kayak gitu ke kamu, istrinya.”

Anna memilih untuk tak membalas apa pun. Membiarkan Rhea mengungkapkan semuanya hingga selesai.

“Setiap hari aku selalu pantau kalian, Na. Aku nunggu salah satu dari kalian untuk update tapi itu susah. Kamu sekali update lebih sering soal kafe, sementara Edward akunnya kayak gak pernah dibuka sama pemiliknya.”

Rhea mengangkat kepalanya, kembali melihat ke arah foto-foto tadi. Tepatnya, ke berbagai hasil USG yang sengaja Edward dan Anna pasang di sana.

“Aku masih ngeharapin Edward bakal ngehubungin aku sampai aku ngelihat unggahan Evan. Video di mana Edward terharu saat ngelihat hasil USG kamu.”

Anna secara otomatis teringat pada momen yang Rhea sebutkan. Di mana ia pertama kali melakukan USG dan Edward menjadi antusias sepanjang hari. Namun, ketika sudah melihat laki-laki itu malah menjadi lemas karena terharu sampai ditertawakan oleh saudara kembarnya sendiri.

“Harusnya aku sadar dari awal tahu kalian menikah. Tapi aku malah sadar pas ngelihat itu, aku kayak ditampar habis-habisan. Edward bahagia sama kamu, dia butuh kehadiran kamu. Edward gak pernah sekalipun menganggap aku lebih dari kakak.”

Rhea kembali menatap pada Anna. “Aku minta maaf, Na. Aku ... bersikap kayak gitu ke kamu. Aku gak keberatan kalau kamu gak mau maafin aku. Tapi, aku bisa pastiin kalau aku bisa lebih lega ngelanjutin hidup kalau kamu terima permintaan maafku.”

Anna terdiam, menatap Rhea dengan lekat. Berusaha mencari kejujuran dari apa yang ditampilkan perempuan itu.

Paham kalau Anna tak akan bisa langsung menjawab. Rhea kini mengeluarkan sesuatu dari tas yang tak ia lepaskan sejak tadi.

“Ini undangan ... pernikahanku,” ucap Rhea sembari meletakkan itu di atas tangan Anna. “Bukti juga kalau aku udah berdamai sama sisi diriku yang ngeharapin Edward.”

“Kak, you really surprised me today,” ucap Anna setelah sedari tadi diam.

Rhea terkekeh. “Aku paling tua, Na. Tapi adik-adikku malah udah punya anak duluan, bahkan Mikhael yang dulu sukanya jadi ekor aja udah punya pacar. Aku sadar kalau percuma aku ngeharapin salah satu dari mereka yang udah bahagia sama keluarganya. Cuma bikin aku tersiksa dan jadi orang jahat.”

“Kak, congratulations.”

“Pernikahannya belum, Na.”

“Aku ngucapin selamat karena Kak Rhea udah berhasil berdamai sama semua itu dan berani ambil langkah baru,” ucap Anna diakhiri senyuman yang manis.

Tangan Anna bergerak, menyentuh pundak yang lebih tua. “Edward bilang ke aku gimana kakak hibur mereka di awal perceraian. Kak Rhea juga jaga Edward ketika dia merasa gak nyaman sama rumahnya sendiri. Makasih banyak karena udah jaga suamiku dan saudaranya, Kak.”

Rhea tersenyum, air mata yang sedari tadi berusaha untuk tak ia keluarkan pada akhirnya gagal ia tahan. Rhea memeluk Anna, tentu Anna membalasnya walau tak seerat yang memulai.

You are very kind, Anna. Edward is lucky to have you.

Anna menggeleng. “No ... I'm the lucky one.”

You're both lucky then.

Rhea melepaskan pelukannya dari Anna. Dia memegang pundak Anna. “Jaga Edward—ah bukan. Jaga keluargamu dengan baik, ya, Na.”

Anna mengangguk. “I will.

Rhea tersenyum tipis. “Acaranya masih lama, tapi aku mengerti kalau kalian mungkin gak akan datang karena pernikahannya ditempat kelahiran calon suamiku, Jerman. Aku ada di sini sekitar semingguan, so tell Edward to give me the wedding gifts early.

Anna mengangguk. “Aku juga bakal kasih.”

Thank you so much, Anna.” Sekali lagi, yang lebih tua menarik Anna untuk masuk ke dalam pelukannya.

Please be happy, Kak. Jangan terlalu pikirin Edward. He's safe with me.

Itu adalah kalimat yang Anna bisikan tepat di telinga Rhea.