Hoshi as Edward.
Erland as Edward's dad.
Setelah jam kuliahnya habis di sore hari, Edward memilih untuk langsung pergi dari area kampus dengan motornya. Rumah besar dengan tiga lantai itu adalah tujuan Edward kali ini. Rumah yang sempat menjadi tempat pulangnya, walau beberapa tahun terakhir ia terpaksa.
Edward berjalan dengan lambat setelah pintu rumah itu terbuka. Ini adalah tempat pulangnya semenjak lahir, tapi kini Edward merasa asing. Edward berusaha meyakinkan dirinya kalau ia merasa demikian karena karena sudah lama tidak ke sini akibat pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus. Walau pada kenyataannya, ia tahu dengan jelas apa penyebabnya.
“Selamat datang, Tuan. Ingin makan siang dulu?” tanya salah satu pelayan yang menyambut kedatangannya di ambang pintu. Sosok yang juga membukakan pintu untuknya tadi.
Edward menggeleng sebagai tanggapan pertamanya. Ia kemudian berkata, “Gak perlu, terima kasih. Papa di kamarnya, 'kan?”
“Iya, Tuan. Baru saja dokternya pergi setelah pemeriksaan rutin Tuan Besar.”
Edward mengangguk paham. “Saya mau langsung ke sana saja. Mari, Pak.”
Selama perjalanan menuju kamar ayahnya, kepala Edward terasa penuh. Banyak yang dirinya pikirkan. Mulai dari bagaimana sikap yang harus ia tunjukkan serta memperkirakan apa saja yang ingin ayahnya katakan.
Aneh memang karena Edward kali ini kebingungan saat bertemu dengan ayahnya sendiri. Jika bukan karena keadaan pria itu yang tiba-tiba drop, mungkin Edward tak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di lantai rumah ini.
Langkah Edward tertahan di depan pintu. Ia mengambil napas dalam-dalam guna meyakinkan dirinya sendiri. Setelah itu, dengan mantap ia membuka pintu, tapi Edward sekali lagi tertahan di sana kala melihat siapa yang ada di dalam kamar ayahnya.
Ada Erland, ayahnya yang tengah terbaring. Lalu ada istri barunya dan juga anak mereka. Melihat dua perempuan yang akan selalu menjadi asing untuknya itu membuat Edward tak berani untuk melangkah masuk.
Paham dengan keadaan, perempuan itu membawa anaknya keluar dari kamar tanpa melemparkan sepatah kata pun pada Edward. Edward mendekat pada ayahnya setelah pintu kembali ia tutup.
“Kamu datang sendiri? Evan ke mana?”
Edward terdiam sejenak, ayahnya pasti akan bertanya soal kembarannya itu. Mengingat dia memang mengundang mereka berdua untuk datang hari ini. Namun sayangnya, Edward gagal membujuk Evan. Kembarannya itu masih tak ingin menerima apa yang ayah mereka lakukan di masa lalu.
“Evan sibuk, Pah,” jawab Edward.
“Sibuk menghindar dari papa,” balas Erland. Edward hanya diam, tak mengelak tapi tak juga membenarkan.
Selanjutnya, Edward duduk di tepi ranjang ayahnya. Matanya langsung terpaku pada foto yang terpajang di atas laci. Foto keluarganya kala masih baik-baik saja. Ada ayah dan ibunya, ada dirinya juga Evan yang tersenyum dalam foto itu.
Pada ujung kaca figuranya terdapat retakan. Selayaknya hubungan keluarga mereka sekarang. Retak dan tak akan pernah sama lagi.
“Papa sebenarnya berharap kalian berdua bisa datang hari ini, tapi papa bisa memahami Evan. Dengan kamu yang berkenan untuk datang ke sini pun, papa sudah bersyukur,” ucap Erland sebelum terbatuk. Edward dengan sigap mengambil air yang sengaja disediakan di dekat figura tadi. Namun, ayahnya memberi isyarat kalau itu tidak perlu ia lakukan, jadi Edward meletakkan gelasnya ke tempat semula.
“Keadaan Papa gimana?” tanya Edward, mengalihkan pembicaraan.
“Kamu bisa lihat sendiri, papa tidak bisa menjamin akan bisa lebih baik lagi.”
Edward terdiam. Meski hubungan mereka telah merenggang semenjak ibu dan ayahnya bercerai, Edward tetaplah seorang anak yang akan merasa khawatir saat orang tuanya ada saat keadaan sakit. Terlepas dari sikap buruk ayahnya yang membuat keluarga mereka menjadi hancur.
“Kuliahmu bagaimana? Papa dengar dari ayah Mikhael kamu mau bangun rumah sendiri?” Erland membawa topik baru lagi. Ia sadar kalau Edward tak akan membalas ucapannya tadi.
“Iya ... baru mau, kuliahku udah masuk ke semester 5,” balas Edward.
Untuk beberapa menit, keduanya terlibat dengan hening. Edward masih menatap pada foto mereka, enggan melihat pada ayahnya. Dalam hati, ia sedikit tidak menyangka karena Erland tak memajang foto keluarga barunya. Dia malah memajang foto lama mereka berempat yang bahkan diambil ketika ia dan Evan masih Sekolah Dasar.
“Dulu sewaktu papa bisa beli rumah ini, papa berharap kalau kalian berdua bisa berlarian dengan bebas karena rumahnya yang luas. Kalian bisa bahagia ada di rumah besar yang leluasa diisi apa saja. Bahkan kalian punya ruangan khusus untuk menyimpan semua mainan kalian.”
Edward tetap diam, membiarkan ayahnya untuk terus menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Edward tetap mendengarkan dengan baik semua yang ayahnya itu ucapkan.
“Sayangnya, papa tidak bisa menyaksikan bagaimana kalian berdua bermain di ruangan itu. Papa malah terlalu memprioritaskan pekerjaan sampai mengabaikan perkembangan kalian berdua.”
Erland menatap pada anak sulungnya yang masih menunduk melihat pada foto, masih enggan untuk menatap ke arahnya. Kemudian, Erland beralih menjadi menatap lekat pada langit-langit kamarnya.
Pria paruh baya itu menghela napas dan kembali berkata, “Papa juga sadar kalau semakin besar kalian semakin tidak nyaman ada di sini. Terlebih dulu setiap pulang, papa sering bertengkar dengan ibu kalian. Papa bahkan menghancurkan kepercayaan kalian berdua.”
Ketika Erland mengatakan kalimat terakhirnya, Edward secara spotan memejamkan matanya. Ia langsung teringat pada kejadian itu dan ia sangat membencinya. Itu bagaikan mimpi buruk untuk Edward.
“Edward, boleh lihat papa?” tanya Erland dan Edward menurut. Ia menoleh dan menatap pada wajah ayahnya yang tampak pucat.
“Papa tidak tahu akan bertahan berapa lama lagi. Papa juga tidak yakin masih bisa bangun saat Evan sudah sudi untuk bertemu dengan papa nanti. Tapi, jika kamu berkenan tolong dengarkan apa kata papa kali ini. Tolong kamu usahakan juga.”
Edward mengangguk, dengan itu Erland kembali berkata, “Tolong bilang pada Evan kalau papa tak akan memaksa dia lagi untuk bertemu. Jika dia mau walau hanya sebentar, papa akan merasa lebih lega saat Tuhan mengharuskan papa untuk pergi nanti. Papa juga tidak akan memaksa kalian berdua untuk melanjutkan usaha papa seperti dulu.”
Erland berhenti sejenak. “Nanti, saat kamu berhasil membangun rumah yang kamu impikan. Tolong ubah rumah itu selayaknya rumah. Jangan biarkan rumah itu hanya menjadi sekedar bangunan. Jadikan dia tempat paling aman dan nyaman untuk pulang. Baik untuk kamu dan juga keluarga kamu nantinya.”
Edward masih diam, tak memberikan tanggapan atas ucapan Erland tadi. Oleh karena itu, Erland kembali berkata, “Dengar, Edward? Jangan sia-siakan rumah kamu seperti yang sudah papa lakukan. Papa tidak akan minta apa-apa lagi dari kamu selain itu.”
Cukup lama sebelum akhirnya Edward mengangguk. “Aku usahain, ya, Pah. Aku juga bakal sampain ke Evan semua yang Papa bilang tadi.”
Erland tersenyum puas mendengar jawaban itu. Tangannya yang bergetar ia dorong untuk bergerak mendekati anaknya. Edward dapat menangkap sinyal itu dengan baik. Ia menunduk dan membiarkan tangan Erland mendarat di pucuk kepalanya, mengelusnya secara perlahan.
“Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Edward. Papa bangga sama kamu.”
“Mendiang kakek itu orangnya gimana, Pi?” tanya Amy sembari melihat pada foto yang terdapat dalam album lama milik keluarga ayahnya. Album yang baru saja ia pinjam dari Evan setelah tak sengaja mendapatinya di rumah pamannya itu.
Edward menoleh, ikut melihat ke arah foto yang terdapat dalam halaman yang Amy buka.
“Kamu dapet album ini dari mana?” tanya Edward, tak langsung membalas pertanyaan anak tunggalnya.
“Dari Om Ev! Katanya ini nenek yang buat, 'kan? Aku mau pinjem soalnya keluarga papi gak kayak keluarga mami ....”
Edward terdiam. Ia dapat menangkap kalau Amy sedikit takut dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
“Iya, ini nenek yang buat. Kami gak punya banyak foto bersama, makanya album foto keluarga kami cuma satu.”
Amy mengangguk. “Gak kayak kita.”
“Kalau kita banyak karena papi sama mami sama-sama mau mengapresiasi setiap momen yang ada. Kami berdua mau mengenangnya karena itu adalah bagaimana kami dapat menghidupkan rumah ini,” ucap Edward diakhiri senyuman tipis.
“Tadi kamu nanya soal mendiang kakek, 'kan, Dek?” tanya Edward.
Amy mengangguk. “Iya! Kalau mendiang nenek aku puas banget diceritain sama Om Evan. Kalau kakek ... jarang ada yang nyeritain.”
Edward menatap anaknya itu sebelum kembali melihat pada foto yang ada di pangkuannya. Matanya berfokus pada laki-laki yang mempunyai peran besar untuk kehadirannya di dunia ini.
“Kakek buat rumah yang besar buat kami tinggal di dalamnya. Tapi, rumah itu kayak kosong ... kayak gak bernyawa. Keluarga kami ada tapi gak bisa jadi rumah seperti yang seharusnya.”
Edward memilih untuk tak menceritakan secara detail soal masa lalunya pada Amy. Itu adalah masa lalu yang cukup buruk, Edward tak ingin Amy mengetahuinya. Ketika Amy mengetahuinya pun, itu tak akan merubah apa-apa. Semuanya sudah usai sejak lama.
Edward menatap sekelilingnya penuh arti. “Dulu, papi juga takut kalau rumah ini bakal kayak gitu. Papi gak bisa dapat contoh yang benar buat menjalankan satu rumah.”
“Orang itu ... orang yang udah buat papi berpikiran demikian, satu hari sebelum dia pergi dia malah nyuruh papi buat bangun rumah seperti yang seharusnya. Konyolnya, papi malah menurut ketika papi bahkan gak punya bekal apa-apa.”
Amy menggeleng. “Itu gak konyol! Papi bisa ngelakuin itu dengan baik. Papi bisa jaga rumah ini, termasuk aku dan mami. Papi gak cuma membangun rumah ini, tapi memperlakukannya seperti yang seharusnya.”
Edward tertawa kecil, merasa cukup tersanjung karena Amy mengucapkannya dengan menggebu. Laki-laki itu mengusak rambut anaknya pelan.
“Itu karena permintaan terakhir mendiang kakek. Kalau dia gak minta, mungkin papi gak akan hidup sama dua manusia mengagumkan seperti kamu dan Anna.”